Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Perjalanan Mahasiswa Indonesia di Negeri Jiran : Catatan Sosial, Budaya, Ekonomi, hingga Politik

BANGI, SELANGOR, MALAYSIA – Program Student Mobility antara Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menghadirkan pengalaman akademik sekaligus sosial bagi seorang mahasiswa asal Indonesia. Selama empat bulan, menyaksikan langsung kehidupan masyarakat Malaysia dari berbagai aspek, mulai dari sosial, budaya, ekonomi, hingga politik.

Solidaritas dan Kedisiplinan Sosial

Pengalaman pertama di Malaysia meninggalkan kesan mendalam. Seorang pedagang membagikan makanan sisa dagangan secara cuma-cuma, mencerminkan budaya berbagi yang kuat. Solidaritas masyarakat pun terasa nyata, dari membantu kebutuhan sehari-hari hingga mendampingi tugas kuliah.

Kedisiplinan warga terlihat dalam budaya antre, etika menggunakan eskalator, hingga kepatuhan berlalu lintas. Fasilitas publik juga ramah disabilitas dengan area parkir khusus dan lift yang memadai. Dalam keberagaman agama, toleransi berjalan damai. Masjid besar terbuka bagi wisatawan non-Muslim dengan aturan tertentu, sementara rumah ibadah lintas agama berdiri berdampingan.

Bahasa sehari-hari di Malaysia mencerminkan keragaman etnis. Walaupun Bahasa Melayu menjadi bahasa resmi, masyarakat kerap mencampur bahasa Inggris, Mandarin, Tamil, dan bahasa daerah. Fenomena ini menunjukkan tantangan memperkuat identitas bahasa nasional sekaligus keunggulan dalam komunikasi multibahasa.

Kuliner dan Warisan Budaya Bersama

Budaya kuliner Malaysia memperlihatkan akulturasi Melayu, Cina, dan India. Nasi lemak, nasi kandar, hingga ABCD menjadi makanan khas, sementara sambal yang cenderung manis menunjukkan perbedaan selera dengan Indonesia. Musik, tarian, hingga kebiasaan berbagi makanan gratis di masjid memperkaya dinamika budaya non-benda.

Kemiripan budaya benda, seperti batik, keris, dan silat, menegaskan hubungan erat Indonesia–Malaysia dalam konteks sejarah Austronesia. Perdebatan soal klaim budaya dinilai kurang relevan dibanding pengakuan atas warisan bersama yang telah terjalin lintas generasi.

Ekonomi: Modernisasi dan Ketimpangan

Pertumbuhan ekonomi Malaysia mencapai 5,1 persen pada 2024 dengan PDB per kapita 12.466 dolar AS. Pencapaian ini menempatkan Malaysia pada jalur menuju status negara berpenghasilan tinggi 2028–2030.

Infrastruktur modern mudah dijumpai di Kuala Lumpur, Putrajaya, hingga Melaka. Menara Kembar Petronas dan Merdeka 118 menjadi ikon kemajuan kota. Transportasi publik seperti MRT, KTM, dan bus terintegrasi dengan sistem pembayaran digital Touch ‘n Go. Layanan transportasi daring berbasis motor tidak tersedia, berbeda dengan di Indonesia.

Meski ekonomi tumbuh stabil, kesenjangan masih tampak antara masyarakat kota dan desa. Masyarakat perkotaan menonjolkan gaya hidup modern, sedangkan warga pedesaan hidup sederhana dengan sumber daya cukup. Pemerintah kini menitikberatkan kebijakan pada inovasi teknologi, pemberdayaan pendidikan, serta pemerataan kesejahteraan.

Politik dan Kesadaran Mahasiswa

Sebelum kembali ke Indonesia, mahasiswa ini berkesempatan mengikuti aksi demonstrasi mahasiswa Malaysia di Dataran Merdeka. Massa berjumlah sekitar 300 orang menuntut keadilan hukum bagi koruptor. Walau skalanya lebih kecil dibanding demonstrasi di Indonesia, aksi tersebut mencerminkan kesadaran politik generasi muda di Malaysia.

Secara sistem kenegaraan, Malaysia menganut monarki konstitusional federal dengan Yang di-Pertuan Agong sebagai kepala negara. Identitas kebangsaan dibangun melalui ideologi Rukun Negara dan otonomi negara bagian. Dalam diskusi akademik, perbedaan jiwa kebangsaan antara Indonesia dan Malaysia kerap muncul sebagai perbandingan menarik.

Kilas Sejarah dan Identitas Nasional

Kunjungan ke Museum Negara Kuala Lumpur memperkuat pemahaman tentang perjalanan sejarah Malaysia. Dari kerajaan Melayu, kolonialisme Portugis–Belanda–Inggris, hingga proklamasi kemerdekaan 1957, Malaysia menghadapi tantangan besar dalam menjaga persatuan. Pembentukan Federasi Malaysia pada 1963, keluarnya Singapura pada 1965, hingga Konfrontasi Indonesia-Malaysia menjadi bagian penting dari sejarah politik negeri jiran.

Warisan kolonial membawa keberagaman etnis sekaligus potensi konflik yang kadang masih dipolitisasi. Meski demikian, upaya menjaga stabilitas sosial dan pembangunan ekonomi terus dilakukan. Generasi muda kini dihadapkan pada tantangan globalisasi dan pelemahan nasionalisme, namun tetap menaruh harapan pada masa depan persatuan bangsa.

Penulis :Rafi Mahesa Akbar Sisnawar

Program Studi Pendidikan Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia 

Email: [email protected]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *