Dibuat Oleh Kelompok 5, 16 Desember 2025 Kegiatan Character Building Departemen Geografi.
Bandung, 2025 – Deforestasi adalah proses hilangnya tutupan hutan. Deforestasi ini seringkali terjadi karena aktivitas manusia, diantaranya penebangan liar, perubahan penggunaan lahan menjadi lahan pertanian, pertambangan hingga pembangunan infrastruktur. Perubahan penggunaan lahan adalah bertambahnya atau berkurangnya suatu penggunaan lahan dari suatu penggunaan ke penggunaan lahan lainnya, biasanya perubahan disebabkan oleh aktivitas manusia.
Deforestasi memiliki berbagai dampak salah satunya adalah dapat mengganggu siklus air dengan mengurangi evapotransporasi, menurunkan kelembapan udara hingga mengubah pola aliran sungai yang akhirnya menyebabkan kekeringan di satu sisi dan banjir serta longsor di sisi lain. Dampak nyata yang saat ini terjadi adalah bencana banjir di wilayah Sumatra.
Dampak Lingkungan Banjir di Sumatra
Dampak lingkungan yang disebabkan oleh banjir yang terjadi di Sumatra ialah menyebabkan hilangnya tutupan hutan alami yang berfungsi sebagai habitat keanekaragaman hayati dan penyimpan karbon penting. Konversi lahan gambut juga memicu pelepasan gas rumah kaca yang memperparah perubahan iklim lokal dan global. Selain itu, aktivitas perkebunan sawit dapat menyebabkan pencemaran air melalui limbah proses pengolahan dan penggunaan pestisida, yang berdampak pada kualitas sumber daya air dan ekosistem perairan di sekitarnya. Beberapa studi menunjukkan bahwa industri sawit berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Menurut data BPS Sumatera Utara (2023), sektor perkebunan menyumbang lebih dari 20% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di beberapa kabupaten seperti Labuhanbatu, Asahan, dan Simalungun. Selain itu, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Namun, dari sisi ekologis, ekspansi perkebunan sawit sering kali dilakukan dengan membuka hutan tropis primer yang memiliki nilai konservasi tinggi. Kajian dari CIFOR (Center for International Forestry Research) menyebutkan bahwa konversi hutan menjadi perkebunan sawit menyebabkan kehilangan biodiversitas, degradasi tanah, dan perubahan aliran air. Studi
Greenpeace (2021) juga menyoroti bahwa Sumatera Utara menjadi salah satu wilayah dengan tingkat deforestasi tertinggi akibat pembukaan lahan sawit.
Berkurangnya Daerah Resapan Air
Daerah resapan air merupakan area yang berfungsi sebagai tempat masuknya air hujan ke dalam zona jenuh air sehingga aliran air tanah mengalir ke daerah yang lebih rendah (Eko Aryanto et al., 2017). Serikat Petani Indonesia (SPI) menyatakan bahwa hujan ekstrem yang mengguyur Sumatra sejak akhir November 2025 memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah. Menurut laporan Badan Nasional Penanggulanagan Bencana (BNPB) di wilayah terdekat mencatat sebanyak 303 orang meninggal dunia, ratusan lainnya hilang, dan belasan ribu keluarga harus mengungsi. Bencana ini terjadi di berbagai provinsi di Sumatera yaitu, Sumatera Utara seperti Tapanuli, Sumatera Barat seperti Padang, dan Aceh. Banjir dan longsor yang terjadi bukan hanya karena curah hujan yang tinggi, namun juga karena daerah resapan air yang ada di wilayah sekitar sudah mulai sangat berkurang karena terjadi alih fungsi lahan hutan seperti menghilangkan vegetasi asli dan alami yang ada di hutan tersebut menjadi kebun kelapa sawit, sehingga merusak prosistas dan struktur tanah, dan mengurangi fungsi ekologis sehingga siklus air tidak seimbang.
Penemuan Limbah Kayu
Setelah banjir melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, foto dan video kayu gelondongan yang menumpuk di sungai dan permukiman menyebar luas di media sosial. Pemerintah pusat dan lembaga penegak hukum cepat merespons. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan kayu yang terbawa bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari pohon tumbang alami, material sepanjang aliran sungai, sampai bekas tebangan legal atau ilegal, dan mereka membuka penyelidikan untuk menelusuri kemungkinan pembalakan liar atau penyalahgunaan izin. Bareskrim Polri turut melakukan penyelidikan terkait asal kayu tersebut. Pernyataan resmi dan laporan media menunjukkan ada upaya cepat untuk menelusuri rantai pasokan kayu yang ditemukan di lokasi terdampak.
Kesimpulan
Jadi hasil analisis kami terkait dampak lingkungan yang terjadi akibat banjir yang menimpa di Sumatera tentunya memberikan dampak bagi kawasan lingkungan di area tutupan lahan sekitar, selain itu karena hilangnya area tutupan lahan alias penebangan yang terjadi itulah yang membuat tidak adanya area resapan di daerah tutupan lahan sekitar hulu sungai dan daerah yang berada di dataran lebih tinggi, sehingga akan menyebabkan longsor dan banjir ketika hujan tiba, selain itu hewan hewan yang terancam punah di daerah Sumatera mereka kehilangan habitatnya alami mereka dan berdampak bagi keberlangsungan hewan hewan yang dilindungi, Pemanasan global dan berkurangnya kadar oksigen pun menjadi dampak yang sangat mencolok karena Sumatera sendiri salah satu penyumbang oksigen dari hutan yang ada, menghilangnya kanopi kanopi langit membuat kadar oksigen dapat berkurang dan membuat area disekitar dapat gersang akhirnya itu memicu pemanasan global juga