BANDUNG – Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam UPI, Andri Isnaeni, baru saja merampungkan penelitian mendalam mengenai fenomena perundungan (bullying) di lingkungan sekolah vokasi pada Januari 2026. Riset ini dilakukan di salah satu SMK negeri di Subang dengan melibatkan 317 siswa sebagai sampel untuk membedah bagaimana dimensi batiniah—yaitu spiritualitas Islam dan kematangan beragama—berinteraksi dengan perilaku agresif siswa. Di tengah laporan PISA yang menunjukkan 41% siswa Indonesia mengalami perundungan, temuan Andri memberikan perspektif baru mengenai urgensi penguatan karakter yang tidak sekadar menyentuh aspek kognitif, melainkan internalisasi akhlak yang nyata.
Potret Spiritualitas dan Kontradiksi Perilaku Sosial
Hasil penelitian mengungkapkan fakta yang menarik: tingkat spiritualitas Islam siswa berada pada kategori tinggi (63,7%) dan kematangan beragama didominasi kategori sedang (87,7%). Namun, tingginya angka spiritualitas ini ternyata beriringan dengan tingkat perilaku perundungan yang masih berada pada kategori sedang (52,1%). Temuan ini mengindikasikan adanya "kesenjangan moral" di mana pemahaman transendental belum sepenuhnya terkontekstualisasi menjadi benteng perlindungan diri dari perilaku menyimpang.
Secara teoretis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui perspektif Tazkiyatun Nafs dari Imam Al-Ghazali, yang menekankan bahwa penyucian jiwa harus diikuti dengan pengendalian penyakit hati secara konsisten untuk mencapai kedekatan dengan Allah yang termanifestasi dalam perilaku sosial. Tanpa proses internalisasi yang matang, pengetahuan agama hanya akan berhenti sebagai informasi intelektual tanpa daya ubah perilaku.
Perundungan Siber: Ancaman Terbesar di Ruang Digital
Dalam analisis per dimensi, riset ini menemukan bahwa perundungan siber (cyberbullying) memiliki persentase tertinggi (18,5%) dibandingkan perundungan fisik maupun verbal. Hal ini menjadi peringatan bagi institusi pendidikan bahwa ruang digital seringkali dianggap sebagai area "bebas nilai" oleh siswa. Minimnya rasa tanggung jawab moral di media sosial terjadi karena adanya anggapan bahwa dunia digital terpisah dari konsekuensi dunia nyata.
Integrasi nilai Ihsan—yakni kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi—seharusnya menjadi kendali internal utama. Namun, ketiadaan hubungan signifikan antara spiritualitas internal dengan perilaku perundungan dalam riset ini (nilai signifikansi 0,944) membuktikan bahwa pengaruh teman sebaya dan iklim lingkungan seringkali lebih dominan daripada nilai-nilai religius yang dimiliki siswa secara personal.
Menuju Kurikulum PAI yang Kontekstual dan Aplikatif
Andri Isnaeni dalam rekomendasinya menekankan perlunya reorientasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Guru PAI disarankan tidak hanya fokus pada materi tekstual, tetapi harus mampu merancang simulasi sosial yang melatih empati dan tanggung jawab sosial siswa secara nyata. Pendekatan ini selaras dengan konsep Insan Kamil dari Ibnu Arabi, di mana puncak spiritualitas adalah manifestasi sifat kasih sayang (Rahmah) dalam interaksi antarmanusia.
Program literasi digital berbasis etika Islam juga menjadi kebutuhan mendesak untuk menekan angka perundungan siber. Kolaborasi antara sekolah, guru bimbingan konseling, dan orang tua sangat diperlukan untuk memastikan nilai-nilai agama tidak hanya menjadi rutinitas ritual, tetapi meresap menjadi kebutuhan batiniah yang mengontrol perilaku siswa di mana pun mereka berada.
Komitmen SDGs dan Refleksi Masa Depan
Penelitian ini merupakan kontribusi nyata dari Prodi Magister PAI UPI terhadap pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Tangguh) dengan berupaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Sebagai penutup, riset ini menjadi refleksi penting bagi kita semua bahwa keberagamaan yang sejati tidak diukur dari seberapa fasih kita menghafal dalil, melainkan dari seberapa aman orang lain dari gangguan lisan dan tangan kita. Semoga temuan ini menginspirasi para pendidik untuk terus berinovasi dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga agung dalam budi pekerti. Mari bersama wujudkan sekolah sebagai taman ilmu yang menyejukkan bagi setiap jiwa.
