Penulis: Putri Arielia (SaIG, 2203505)
Penyunting: Hilmy Nurizky
Bagi banyak orang, angka 3,5 tahun dalam bangku perkuliahan sering kali dipandang sebagai sebuah perlombaan melawan waktu yang melelahkan. Namun bagi saya, perjalanan di program studi Sains Informasi Geografi (SaIG) Universitas Pendidikan Indonesia bukan sekadar soal kecepatan atau mengejar predikat akademik semata. Ini adalah tentang ketahanan mental, tentang bagaimana seorang mahasiswi mampu mempertahankan sebuah ide yang sempat diragukan oleh banyak pihak. Menyelesaikan skripsi di semester tujuh adalah bentuk tanggung jawab dan janji yang saya patri untuk memberikan yang terbaik bagi kedua orang tua saya, yang senantiasa menjadi alasan saya untuk tetap berdiri tegak di tengah badai revisi.
Semua ini bermula dari atmosfer diskusi di mata kuliah Geografi Pariwisata yang diampu oleh Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M.Sc. Di sanalah, sebuah percikan ide muncul yang mana saya membayangkan bagaimana fenomena perilaku manusia yang abstrak dapat dipetakan dan dianalisis melalui kacamata spasial. Saya mulai melihat kafe-kafe di Kota Bandung bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan sebuah laboratorium perilaku keruangan yang dinamis. Namun, jalan untuk mengubah ide mentah tersebut menjadi sebuah tugas akhir yang matang terbukti sangat terjal.
Saya mencoba mendiskusikan konsep ini dengan berbagai pihak, termasuk berdiskusi dengan rekan-rekan lintas jurusan untuk membangun kerangka pemikiran yang lebih berbobot. Sayangnya, perjalanan awal ini justru diwarnai dengan rangkaian penolakan. Ide saya dianggap "terlalu berat" untuk kapasitas mahasiswa geografi dan dirasa lebih condong ke ranah Informatika. Beberapa bahkan merasa sisi spasial dari topik saya kurang kuat. Di titik ini, rasa percaya diri saya goyah secara hebat dan saya mulai bertanya-tanya, apakah saya terlalu naif atau terlalu ambisius untuk ukuran mahasiswi yang tidak memiliki latar belakang kuat di bidang pemrograman?
Pertengahan tahun 2025 menjadi momentum balik yang menentukan arah hidup saya di kampus. Di tengah keraguan yang menyelimuti, saya bertemu dengan Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. Beliau memberikan pandangan yang sangat progresif dan justru melihat topik saya dengan judul "Pemodelan Spasial Sentimen Konsumen Kafe Menggunakan Metode Getis Ord Gi* di Kecamatan Bandung Wetan dan Sumur Bandung" ini sebagai sesuatu yang segar dan memiliki kebaruan yang kuat.
Namun, sebelum beliau benar-benar bersedia membantu dan membimbing saya secara penuh, ada sebuah fase di mana saya harus membuktikan integritas saya. Saya perlu meyakinkan Pak Lili bahwa saya bukan sekadar "ikut-ikutan" tren lulus cepat. Saya harus menunjukkan komitmen yang kuat terhadap target 3,5 tahun ini. Dalam diskusi tersebut, saya berjanji untuk mengikuti setiap arahan beliau dengan disiplin tinggi dan menjaga konsistensi pengerjaan meskipun tantangannya berat. Validasi dari beliau bukan hanya bersifat akademik, melainkan menjadi "oksigen" bagi rasa percaya diri saya yang sempat hilang. Dari sanalah, saya mulai menyusun draf Seminar Proposal (Sempro) dengan segenap kemampuan, mencoba membuktikan bahwa janji saya bukan sekadar kata-kata.

Dok. penulis
Penelitian saya berfokus pada Geografi Perilaku (Behavioral Geography), sebuah sub-disiplin yang mengkaji interaksi antara kognisi manusia dengan lingkungan keruangannya. Secara teknis, saya menggunakan algoritma Machine Learning yaitu Support Vector Machine (SVM) untuk membedah sentimen konsumen dari data teks. Tantangan terbesarnya adalah mengintegrasikan hasil analisis sentimen tersebut ke dalam statistik spasial Getis Ord Gi*.
Metode Getis Ord Gi* ini sangat penting untuk mengidentifikasi adanya hotspots atau titik-titik panas di mana perilaku konsumen tertentu terkonsentrasi secara signifikan di Kota Bandung. Proses integrasi ini menuntut ketelitian tinggi dalam pengolahan data vektor dan raster, serta pemahaman mendalam tentang pola persebaran fenomena sosial di atas peta. Ini adalah jembatan antara data kualitatif perilaku dengan data kuantitatif spasial yang merujuk pada Location Intelligence.
Penelitian tidak selalu berjalan sesuai rencana awal. Di tengah proses, saya menemui kendala besar ketika hasil metode Getis Ord Gi* ternyata tidak sesuai dengan harapan atau hipotesis awal saya. Pola yang muncul terasa "liar" dan sulit dijelaskan hanya dengan statistik keruangan konvensional. Di saat itulah, saya melakukan manuver analitis dengan memasukkan metode AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) sebagai instrumen validasi tambahan.
Metode AIDA ini menjadi kunci penting untuk menjelaskan mengapa hasil getis-ord tersebut bisa terjadi karena ia membedah tahapan perilaku konsumen dari mulai menaruh perhatian hingga melakukan aksi nyata di lokasi tertentu. Dalam ujian sidang, salah satu dosen penguji bahkan menekankan bahwa penggunaan metode AIDA ini adalah poin krusial yang membuat penelitian saya memiliki kedalaman analisis yang luar biasa. Inilah bukti bahwa kejujuran pada data seringkali menuntun kita pada temuan yang jauh lebih berharga daripada sekadar mengejar angka yang "cantik."

Dok. Penulis
Proses bimbingan bersama Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. (Pembimbing I) dan Hendro Murtianto, M.Sc. (Pembimbing II) adalah fase pendewasaan yang nyata. Saya sempat melakukan kekeliruan yang sangat mengecewakan Pak Lili, yang membuat batin saya tersiksa oleh rasa bersalah. Rasanya sangat berat ketika menyadari bahwa saya telah melukai kepercayaan mentor yang telah membela ide saya sejak awal.
Namun, beliau menunjukkan kemurahan hati seorang pendidik sejati dengan memberikan saya maaf dan kesempatan sekali lagi. Kesempatan itu saya terima dengan tekad bulat untuk tidak lagi menyia-nyiakannya. Kesabaran beliau dalam menghadapi trial and error yang saya lakukan, serta apresiasi yang selalu diberikan, menjadi alasan mengapa saya mampu menyelesaikan skripsi ini meskipun saya sadar saya bukan mahasiswa Informatika yang terbiasa dengan kode-kode rumit.
Satu hal yang membuat perjalanan saya lebih menantang dibandingkan rekan-rekan seangkatan adalah masalah timing. Rekan-rekan seprodi yang mengejar target 3,5 tahun rata-rata sudah memulai komitmen mereka sejak semester 6, sehingga mereka sudah melewati tahap Sempro dan bimbingan jauh sebelum saya. Sementara itu, saya baru benar-benar "gaspol" di semester 7, di mana fokus saya harus terbagi secara ekstrem dengan tanggung jawab magang di Bapperida.
Pagi hingga sore saya mengurus tugas magang dan di akhir kegiatan magang menyusun laporan magang, dan malam harinya berjibaku dengan algoritma SVM dan Getis Ord Gi*. Ada rasa tidak percaya diri yang besar ketika melihat progres teman-teman yang lebih stabil. Namun, di tengah tekanan tersebut, dukungan dari rekan-rekan satu dosen pembimbing menjadi pilar penyangga. Kami saling menyemangati, bertukar tips teknis, memberikan masukan, serta saling mengingatkan akan hal-hal penting yang perlu dikejar agar tetap sesuai target. Kami tidak hanya berkompetisi dengan waktu, tapi tumbuh bersama dalam ekosistem yang suportif.
Ketika draf skripsi mulai menunjukkan bentuknya, tantangan baru muncul yaitu daftar syarat sidang yang luar biasa banyak. Membaca lembar persyaratan administrasi tersebut rasanya cukup menyesakkan dada. Di saat pengolahan data masih mengalami banyak error, saya harus membagi waktu untuk menyicil syarat administratif satu per satu.
Saya tidak ingin perjuangan teknis selama berbulan-bulan ini gagal hanya karena ada kelengkapan administratif yang belum terpenuhi. Dengan modal "nekat" dan arahan strategi dari Pak Lili, saya menerabas semua hambatan tersebut. Saya menyelesaikan skripsi, menyicil syarat sidang, dan tetap menuntaskan laporan magang dalam waktu yang bersamaan. Ada rasa puas yang tak tergambarkan saat menyadari bahwa "kenekatan" yang terarah ini mampu membawa saya melewati semua tekanan yang awalnya saya sendiri tidak yakin bisa saya lalui.

Sebelum menghadapi sidang yang sesungguhnya, saya menjalani sebuah "mini ujian" bersama Pak Hendro Murtianto. Momen ini adalah gladi resik yang sangat berharga karena mental saya ditempa dan setiap celah dalam argumen saya ditelaah habis-habisan. Bekal inilah yang membuat saya merasa jauh lebih tenang saat melangkah ke ruang sidang yang sebenarnya.
Hal yang paling mengharukan adalah respon dosen penguji saat sidang. Segala kekhawatiran tentang atmosfer yang mencekam sirna seketika. Para penguji justru memberikan apresiasi tinggi terhadap orisinalitas judul dan kedalaman isi penelitian saya. Ruang sidang yang saya takuti berubah menjadi ruang diskusi akademik yang sangat menyenangkan dan penuh apresiasi.
Keberhasilan menyelesaikan skripsi dalam waktu 3,5 tahun ini adalah kemenangan atas keraguan diri saya sendiri. Kini, orang tua saya bisa merasa lebih tenang mengenai pembiayaan kuliah, dan saya memiliki ruang yang lebih luas untuk mengeksplorasi karier di bidang GIS dan pemetaan profesional.

Terima kasih yang mendalam saya haturkan kepada Pak Lili atas kesempatan keduanya, Pak Hendro atas kesabarannya, rekan-rekan bimbingan, serta sahabat seperjuangan. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa komunikasi yang baik dan komitmen untuk "menerabas" batas diri adalah kompas terbaik dalam menavigasi masa depan. Tidak ada garis koordinat yang mustahil dicapai jika kita berani untuk memulai dan konsisten untuk mengakhiri.
Untuk rekan-rekan seperjuangan di SaIG yang sedang atau akan berproses, saya menyadari bahwa perjalanan skripsi ini sering kali terlihat seperti gunung yang tinggi dan berkabut. Berdasarkan pengalaman yang saya lalui, kuncinya adalah jangan pernah ragu untuk mengeksplorasi ide yang dirasa "berbeda" atau dianggap terlalu berat oleh orang lain karena geografi adalah jembatan ilmu yang sangat luas dengan ruang eksplorasi yang tak terbatas.
Dalam prosesnya, anggaplah dosen pembimbing sebagai partner diskusi terbaik dengan menunjukkan progres sekecil apa pun setiap minggunya jauh lebih dihargai daripada janji besar karena konsistensi inilah yang akan membangun kepercayaan serta memudahkan kita mendapatkan arahan yang tepat. Jika kalian harus membagi waktu dengan magang atau kegiatan lain, strategi terbaik adalah dengan "mencicil" setiap berkas administrasi dan revisi sedikit demi sedikit tanpa harus menunggu waktu luang yang sempurna. Saat menemui error atau revisi yang berat, usahakan untuk tetap terhubung yaitu diskusi dengan pembimbing dan dukungan moral dari rekan sejawat adalah energi tambahan yang sangat luar biasa untuk menyelesaikan "peta" perjuangan ini. Percayalah, segala rasa lelah ini akan terbayar lunas saat kita melihat senyum bangga orang tua dan menerima apresiasi dari dosen penguji. Selamat berproses, rekan-rekan karena garis finis itu nyata, dan saya yakin kalian mampu mencapainya dengan cara unik kalian masing-masing.