Penulis : Achmad Faqikh (SaIG, 2311656)
Penyunting: Hilmy Nurizky
KRK Komunitas Raster pada Bulan kedua dilakukan di bulan Juli ini dilakukan dalam tiga pekan yaitu pada tanggal 11, 18 dan 25 Juli 2025. KRK Pada bulan kedua ini kami beri tema “Play With FLARE: Flood and Hydrology Analysis for Resilient Environment”. Tema ini mengajak peserta untuk berpartisipasi secara kreatif dan aplikatif melalui pendekatan FLARE (Flood and Hydrology Analysis for Resilient Environment), yaitu suatu metode analisis hidrologi dan kebencanaan banjir yang menekankan pentingnya pemahaman spasial dalam pengelolaan risiko bencana serta penguatan ketahanan lingkungan. Melalui kegiatan studi kasus, pelatihan teknis, dan forum diskusi komunitas, peserta didorong untuk mengolah data spasial, citra satelit, hingga melakukan pemodelan hidrologi.
Pada pekan pertama KRK bulan Juli, kegiatan difokuskan pada pengenalan perangkat lunak yang akan digunakan dalam analisis hidrologi, yaitu QGIS dengan plugin QSWAT+ dan HEC-RAS. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting, dengan pemateri Aziz dan Adam. Salah satu pilar utama kajian adalah pemanfaatan data penginderaan jauh, khususnya Digital Elevation Model (DEM), yang digunakan untuk mengekstraksi informasi topografi seperti arah aliran, akumulasi aliran, dan jaringan sungai digital. Data ini menjadi dasar deliniasi daerah aliran sungai (DAS) dan pemodelan hidrologi secara efisien tanpa survei langsung di lapangan. QSWAT+ merupakan plugin dalam QGIS yang mensimulasikan proses hidrologi di DAS, seperti limpasan, perkolasi, sedimentasi, dan distribusi polutan, dengan pendekatan spasial berbasis sub-DAS dan Hydrologic Response Unit (HRU). Sementara itu, HEC-RAS digunakan untuk menganalisis aliran sungai secara hidrolik satu dimensi, termasuk simulasi muka air, kapasitas penampang sungai, dan dampak infrastruktur terhadap aliran, sehingga mendukung kajian banjir secara teknis dan visual.

Sumber: Dok. Penulis
Pada tanggal 18 Juli 2025, Komunitas RASTER kembali menyelenggarakan Kelas Rutin Komunitas (KRK) pekan kedua dengan fokus pada pemodelan hidrologi menggunakan perangkat lunak QGIS dan plugin QSWAT+. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, yaitu di Ruang 40 Lantai VI Gedung Nu’man Soemantri dan melalui platform Zoom Meeting. Peserta terdiri atas pengurus dan kontributor Komunitas RASTER, dengan pemateri utama Achmad Faqikh. Model SWAT (Soil and Water Assessment Tool) yang digunakan dalam kegiatan ini merupakan model hidrologi kontinu yang dikembangkan oleh USDA untuk mensimulasikan proses-proses hidrologi jangka panjang pada skala Daerah Aliran Sungai (DAS). Melalui plugin QSWAT+ di QGIS, DAS dapat dibagi menjadi sub-DAS dan unit respon hidrologi (Hydrologic Response Unit/HRU) berdasarkan kombinasi tutupan lahan, jenis tanah, dan kemiringan. Proses pemodelan melibatkan beberapa tahapan, yaitu delineasi DAS menggunakan data Digital Elevation Model (DEM), pembentukan HRU, integrasi data iklim seperti suhu, curah hujan, dan kelembaban, serta visualisasi hasil simulasi melalui fitur Visualize pada QSWAT+. Hasil simulasi ini menghasilkan peta parameter hidrologi seperti limpasan permukaan dan infiltrasi yang dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut terkait dinamika hidrologi di wilayah kajian.

Sumber: Dok. Penulis
KRK pekan terakhir pada bulan juli kemudian dilaksanakan secara hybrid di Ruang 40 Lantai VI Gedung Nu’man Soemantri dan melalui platform Zoom Meeting. Peserta terdiri atas pengurus dan kontributor Komunitas RASTER, dengan pemateri utama yaitu bapak Achmad Fadhillah, S.Pd., M.Sc. dengan materi pemodelan prediksi banjir menggunakan software HEC-RAS. Dalam pendekatan satu dimensi, HEC-RAS memodelkan aliran sepanjang saluran dengan mempertimbangkan variasi penampang melintang, kemiringan dasar sungai, serta kondisi batas aliran. Melalui parameter tersebut, HEC-RAS mampu menghitung profil muka air (water surface profile) baik pada kondisi aliran tunak (steady flow) maupun tak tunak (unsteady flow). Dengan begitu, kita dapat mengevaluasi kapasitas penampang sungai dalam menampung debit tertentu, mengidentifikasi potensi limpasan, serta menentukan area yang berisiko mengalami genangan atau banjir.
.