
Oleh Tim Publikasi SPIG
Bandung, 21 April 2026 – Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bersama mahasiswa dari University of Leeds berpartisipasi dalam kegiatan Indonesia-UK Social Justice Sustainability Jam yang diselenggarakan secara daring. Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi lintas negara untuk membahas isu keberlanjutan global melalui pendekatan diskusi interaktif dan berbasis solusi.
Acara ini mempertemukan mahasiswa dengan latar belakang keilmuan yang beragam untuk bekerja dalam kelompok internasional. Setiap kelompok difokuskan pada satu dari lima isu utama, yaitu energi terbarukan, penggunaan lahan berkelanjutan, pola makan berkelanjutan, pengurangan penggunaan energi, serta pengurangan polusi lingkungan.
Penulis tergabung dalam kelompok yang membahas topik reduction in energy use, yang berfokus pada upaya efisiensi dan pengurangan konsumsi energi dalam berbagai sektor.
Rangkaian Kegiatan
Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan yang memperkenalkan tujuan utama Sustainability Jam, yaitu mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami isu global, tetapi juga menghasilkan gagasan solusi yang aplikatif. Peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok kecil yang terdiri dari mahasiswa Indonesia dan UK.
Dalam sesi pengantar, Paul Chatterton dari University of Leeds menyoroti bahwa krisis iklim tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi global yang timpang, yang ia sebut sebagai uneven carbon capitalism. Ia menjelaskan bahwa konsumsi karbon tidak tersebar secara merata, baik antar negara maupun antar kelompok sosial, sehingga beban dan tanggung jawabnya juga tidak setara.
Ia juga memperkenalkan konsep planetary boundaries, yaitu batas aman bumi yang sudah mulai terlampaui akibat aktivitas manusia. Jika kondisi ini terus berlanjut, risiko perubahan lingkungan global akan semakin sulit dikendalikan. Dari perspektif ini, isu karbon tidak hanya berkaitan dengan jumlah emisi, tetapi juga distribusi produksi dan dampaknya.
Chatterton turut membahas carbon budget, yaitu batas total emisi karbon yang masih diperbolehkan agar kenaikan suhu global tetap di bawah 1,5°C. Ia mencontohkan bahwa kota seperti Leeds memiliki sisa ruang emisi yang sangat terbatas, yang menunjukkan urgensi tindakan dalam waktu dekat.
Lebih lanjut, ia menyoroti pengaruh warisan kolonial terhadap distribusi emisi dan sumber daya saat ini. Negara berkembang sering berada dalam posisi yang kurang menguntungkan, baik dalam proses pembangunan maupun dalam menerima dampak lingkungan. Karena itu, ia menekankan perlunya pendekatan berbasis keadilan melalui model contraction and convergence, di mana negara dengan emisi tinggi harus melakukan penurunan signifikan, sementara negara berkembang diberi ruang untuk bertumbuh.
Dalam kelompok reduction in energy use, diskusi dimulai dengan identifikasi permasalahan utama terkait konsumsi energi di masing-masing negara. Mahasiswa dari Indonesia menyoroti tingginya penggunaan energi pada sektor rumah tangga dan transportasi, sementara mahasiswa dari UK memberikan perspektif terkait efisiensi energi pada bangunan dan kebijakan pemerintah yang mendukung pengurangan konsumsi energi.
Pelaksanaan Diskusi
Diskusi berlangsung secara aktif dengan pertukaran ide yang menekankan pada perbandingan kondisi lokal dan kemungkinan penerapan solusi lintas konteks. Peserta tidak hanya menyampaikan data dan fakta, tetapi juga mengembangkan argumen terkait efektivitas solusi yang diusulkan.
Beberapa gagasan yang muncul dalam kelompok ini antara lain kampanye perubahan perilaku konsumsi energi di tingkat individu, serta optimalisasi penggunaan transportasi publik untuk menekan konsumsi bahan bakar.
Selain itu, pendekatan berbasis data spasial juga menjadi bagian dari diskusi, khususnya dalam mengidentifikasi area dengan konsumsi energi tinggi yang berpotensi untuk dilakukan intervensi kebijakan atau teknologi.
Selama proses diskusi, tantangan utama yang dihadapi adalah perbedaan konteks sosial dan infrastruktur antar negara, sehingga setiap solusi yang diusulkan perlu disesuaikan dengan kondisi lokal agar tetap relevan dan dapat diterapkan.
Penutup
Melalui kegiatan Indonesia-UK Social Justice Sustainability Jam, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam berkolaborasi secara internasional dan menghadapi kompleksitas isu keberlanjutan. Partisipasi dalam topik reduction in energy use menunjukkan bahwa upaya efisiensi energi merupakan langkah krusial dalam mendukung keberlanjutan global.
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam menghasilkan gagasan yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga memiliki potensi untuk diterapkan dalam kehidupan nyata.