Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
JEMBATAN TEORI DAN REALITA: TRANSFORMASI DIGITAL PEMETAAN MELALUI PRAKTIKUM LIDAR BERSAMA TERSUS INDONESIA

Penulis : Achmad Faqikh (SaIG, 2311656)

Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Dok. Penulis

Pada hari Rabu, 29 April 2026, Program Studi Sains Informasi Geografi UPI menyelenggarakan Praktikum LiDAR Handheld di Laboratorium Lantai 3 FPIPS. Kegiatan ini dirancang sebagai sarana untuk meningkatkan pengalaman praktik dengan menghadirkan mitra industri PT Plaza GPS bersama Tersus Indonesia. PT Plaza GPS yang telah berdiri sejak 2007 bukan sekadar penyedia alat, melainkan memiliki ekosistem lengkap mulai dari e-commerce perangkat GPS, alat survei, hingga workshop dan training centre di Pamulang. Sesi pagi dimulai dengan pemaparan materi teoretis di Laboratorium Geoteknik Lantai 3 FPIPS, di mana narasumber membedah konsep dasar teknologi LiDAR dan mekanisme kerja sensor laser. Mahasiswa diajak memahami prinsip RTK-SLAM (Real-Time Kinematic - Simultaneous Localization and Mapping) yang memungkinkan akuisisi data berjalan dinamis tanpa memerlukan titik kontrol tetap dalam jumlah banyak, sehingga memberikan fleksibilitas tinggi dalam pemetaan area kompleks.

Mahasiswa memulai Praktikum LiDAR Handheld dengan menerapkan standar profesionalisme melalui penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, meliputi helm keselamatan, rompi reflektif, dan sepatu tertutup. Sebelum memasuki tahap inti, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kerja terstruktur yang masing-masing bertugas memetakan satu objek spesifik di area Taman Bareti UPI, seperti elemen arsitektural maupun vegetasi. Pembagian ini menjadi langkah awal untuk memastikan efektivitas dan pemerataan pengalaman praktik. Fokus utama kegiatan berada pada proses akuisisi data menggunakan perangkat Tersus LiDAR MVP S1 Handheld SLAM Scanner. Tahapan dimulai dengan inisialisasi alat, termasuk kalibrasi sensor IMU (Inertial Measurement Unit) melalui gerakan tertentu agar sistem mampu membaca orientasi dan pergerakan secara presisi. Selanjutnya, mahasiswa menghubungkan perangkat dengan aplikasi mobile berbasis Wi-Fi lokal untuk mengelola proyek pemindaian, memantau status GNSS, serta mengaktifkan sistem visual dari dua kamera panoramik beresolusi tinggi.

Dok. Penulis

Dalam pelaksanaan akuisisi, mahasiswa diarahkan untuk menerapkan metode loop closure, yaitu memulai dan mengakhiri pemindaian pada titik yang sama guna meminimalkan kesalahan posisi (drift). Teknik ini menjadi krusial dalam sistem SLAM karena berperan dalam menjaga konsistensi dan akurasi model spasial yang dihasilkan. Selama proses berlangsung, mahasiswa mempraktikkan teknik berjalan stabil dengan kecepatan konstan, sambil menjaga posisi dan sudut alat agar cakupan pemindaian merata dan meminimalkan area yang tidak terekam (blind spot). Visualisasi point cloud berwarna yang ditampilkan secara real-time melalui aplikasi memberikan umpan balik langsung kepada operator. Mahasiswa dapat segera mengidentifikasi bagian objek yang belum terekam secara optimal dan melakukan pemindaian ulang tanpa perlu menghentikan proses. Interaksi antara pergerakan di lapangan dan respon data digital ini menjadi pengalaman penting dalam memahami efisiensi teknologi SLAM dibandingkan metode survei konvensional yang bersifat statis.

Proses akuisisi data berlangsung secara intensif hingga siang hari dan selesai sekitar pukul 13.00 WIB. Setiap kelompok berhasil menghasilkan data point cloud dari objek yang dipilih, dengan tingkat detail yang cukup tinggi. Setelah kegiatan utama selesai, mahasiswa diberikan waktu untuk beristirahat sekaligus melakukan diskusi singkat mengenai kendala yang ditemui selama proses pemindaian, seperti pengaruh permukaan reflektif terhadap kualitas data. Sebagai tahap akhir, instruktur melakukan pengecekan terhadap data mentah yang tersimpan pada perangkat, memastikan seluruh data LiDAR dan citra visual telah terekam dengan baik. 

Dok. Penulis

Data mentah hasil pemindaian LiDAR handheld harus melalui pengolahan awal seperti registrasi point cloud, filtering noise, dan georeferencing sebelum dapat digunakan. Setelah itu, instruktur juga menampilkan teknologi 3D Gaussian Splatting (3DGS) mampu mengolah data tersebut menjadi model 3D fotorealistik dengan tekstur halus dan pencahayaan realistis, melampaui kemampuan point cloud tradisional. Praktikum LiDAR Handheld ini memberikan pengalaman yang tak ternilai bagi kami sebagai mahasiswa. Proses akuisisi data dari awal hingga akhir melatih ketelitian, koordinasi tim, serta kesiapan kami dalam menghadapi praktik survei berbasis teknologi geospasial modern. Kami belajar bahwa survei modern saat ini tidak cukup hanya mengandalkan perangkat canggih, tetapi menuntut sinergi antara keahlian lapangan yang mumpuni dan penguasaan perangkat lunak pengolahan data yang handal. Pengalaman mempraktikkan teknik loop closure, mengatasi kendala permukaan reflektif, serta memahami pentingnya kalibrasi IMU menjadi bekal berharga untuk dunia kerja nanti. Kegiatan ini juga membuka mata kami bahwa pemetaan tidak lagi statis dan manual, namun telah bertransformasi menjadi proses digital yang dinamis dan efisien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *