Penulis: Helma Nur Alviani (SaIG, 2206839)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Dok. Penulis
Program Studi Sains Informasi Geografi, Universitas Pendidikan Indonesia, 2026 Hari sidang skripsi yang dilaksanakan pada tanggal 22-23 April 2026 menjadi salah satu momen paling monumental dalam perjalanan akademik saya. Di hadapan para penguji, yaitu Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., Ibu Dr. Tania Sepri Anggraini, dan Bapak Achmad Fadhilah, S.Pd., M.Sc., saya berdiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan: gugup, tegang, sekaligus lega. Momen yang telah lama dinantikan itu akhirnya tiba. Rasanya seperti “last dance”, sebuah kesempatan terakhir untuk menunjukkan hasil terbaik dari proses yang telah saya jalani dengan penuh kesungguhan.
Perjalanan ini tidak dimulai dari sesuatu yang sederhana. Menentukan topik skripsi menjadi langkah awal yang cukup menantang. Berbagai proses bimbingan, konsultasi, dan penelusuran literatur harus saya lalui hingga akhirnya saya menetapkan judul penelitian “Korelasi Konektivitas Jaringan Jalan terhadap Perubahan Penggunaan Lahan Menggunakan Citra PlanetScope Multitemporal Tahun 2016 hingga 2025 dan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Kertajati.” Sebuah topik yang lahir dari proses panjang pencarian arah dan pemahaman. Di awal, kebingungan menjadi hal yang tidak terhindarkan. Namun, melalui bimbingan yang intens, proposal penelitian saya akhirnya disetujui dan saya dapat melaksanakan seminar proposal pada batch pertama SAIG angkatan 2022.

Dok. Penulis
Jika melihat kembali perjalanan tersebut, saya menyadari bahwa ekspektasi tidak selalu berjalan seiring dengan realita. Pada periode Mei hingga Agustus, proses pengerjaan skripsi berjalan relatif lancar. Bimbingan dilakukan secara rutin, dan saya juga memiliki teman-teman seperjuangan yang saling mendukung. Namun, pada bulan September hingga Desember, saya harus menjalani program magang P3NK, yang membuat pengerjaan skripsi terhenti sepenuhnya. Timeline yang sebelumnya telah saya susun pun bergeser. Tahap lapangan yang seharusnya sudah dilaksanakan harus tertunda, dan target untuk menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun tidak dapat tercapai sesuai rencana awal.
Rasa kecewa tentu sempat hadir, terutama ketika saya menyadari bahwa saya belum dapat mengikuti sidang pada periode yang telah ditargetkan. Tidak hanya itu, pada pendaftaran sidang berikutnya, saya kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa proses tersebut harus menunggu hingga jumlah pendaftar terpenuhi. Dari bulan Februari hingga April, saya berada dalam fase menunggu yang cukup panjang sebuah fase yang secara mental tidak mudah untuk dilalui. Namun, di balik itu semua, saya belajar bahwa setiap proses memiliki waktunya masing-masing.
Menariknya, di tengah berbagai dinamika tersebut, proses pengerjaan skripsi justru menjadi pengalaman yang saya nikmati. Ketertarikan saya terhadap bidang perencanaan wilayah berbasis teknologi geospasial membuat setiap tahapan penelitian terasa bermakna. Kesulitan yang saya hadapi tidak terasa terlalu berat, karena saya benar-benar tertarik dengan apa yang saya kerjakan. Data yang digunakan merupakan data primer yang saya olah sendiri, sehingga memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan komprehensif.
Tentu saja, perjalanan ini tidak sepenuhnya berjalan mulus. Revisi dari dosen pembimbing tetap menjadi bagian dari proses yang harus dilalui. Rasa lelah, burnout, dan overthinking pun sesekali hadir, terutama ketika mempertanyakan kualitas penelitian yang saya lakukan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami bahwa penelitian bukan semata-mata tentang “bagus” atau “tidak”, melainkan tentang proses menemukan dan memahami suatu fenomena secara ilmiah.
Titik balik dalam perjalanan ini terjadi ketika saya mulai benar-benar memahami penelitian yang saya lakukan. Revisi yang sebelumnya terasa membingungkan perlahan menjadi lebih terarah. Rasa percaya diri pun mulai tumbuh, seiring dengan pemahaman yang semakin matang. Saya tidak lagi sekadar mengerjakan skripsi sebagai kewajiban, tetapi mulai melihatnya sebagai karya yang merepresentasikan proses belajar saya selama ini.
Hari sidang menjadi penutup dari seluruh rangkaian perjalanan tersebut. Dengan perasaan gugup namun tetap berusaha tenang, saya memasuki ruang sidang dan mempresentasikan hasil penelitian saya. Suasana yang saya bayangkan sebelumnya ternyata tidak sepenuhnya terjadi. Sidang berlangsung dengan lancar dan lebih banyak diwarnai oleh diskusi serta masukan yang konstruktif dari para dosen penguji. Bahkan, saya mendapatkan apresiasi terhadap latar belakang penelitian yang dinilai relevan dan penting untuk dikaji, meskipun tetap terdapat beberapa catatan perbaikan yang harus diselesaikan.

Dok. Penulis
Setelah sidang selesai, perasaan lega yang luar biasa langsung menyelimuti. Saya menyadari bahwa perjalanan panjang ini akhirnya sampai pada titik akhir. Rasa syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas segala kemudahan yang diberikan. Terima kasih yang mendalam juga saya sampaikan kepada kedua orang tua dan keluarga tercinta, dosen pembimbing saya Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T., serta teman-teman SaIG 2022 yang selalu menjadi support system dalam setiap proses yang saya jalani.
Perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar bahwa tidak semua hal dapat dikontrol sesuai rencana, namun setiap proses tetap memiliki makna yang berharga. Saya belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi ketidakpastian, lebih disiplin dalam menjalani proses, dan yang terpenting, lebih percaya pada kemampuan diri sendiri. Skripsi bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah penelitian, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bertumbuh melalui setiap tantangan yang dihadapi.
Kini saya memahami bahwa pencapaian ini bukanlah hasil dari satu langkah besar, melainkan kumpulan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Untuk diri saya sendiri, dan juga untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam prosesnya masing-masing tidak apa-apa jika perjalanan terasa lebih lambat dari yang direncanakan. Selama kita tetap melangkah, sekecil apa pun itu, kita tetap bergerak menuju tujuan. Karena pada akhirnya, setiap langkah akan selalu membawa kita lebih dekat pada garis akhir yang kita impikan.

Dok. Penulis
