Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
KETIKA MALAM TAK LELAP LAGI

Nama: Nadiya Khansa (SaIG, 2403216)

Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis

Khianat Senja

Aku berpulang kepada

senja terakhir,

di setiap celah Kota Bandung,

yang terasa mencekam.

Penyusuran hingga hayat usai,

Aku takkan pernah sampai.

Pandangnya berbinar memancar,

yang menyatakan dengan niscaya:

“Aku akan membawamu

ke persinggahan surga,

di Switzerland nun di sana.”

Celaka, malam terasa menghina.

Pada noktah hitam ‘ku kecewa.

Kita ‘kan bertumbuh jadi manusia,

dan beramal pada —

para kucing tunawisma.

Dan Aku senantiasa bersikukuh:

perubahanmu takkan sia-sia.

Namun cuma dalam semalam,

khianat menerjang,

durja berduaan dengan malang.

7 tahun yang sama sekali percuma.

Aku takkan berpulang lagi,

kepada senja terakhir.

Dan ‘ku akan pergi menjauh,

menjadikan cintanya untuk cintanya,

sempurna hingga utuh.

I Don’t Hate You, Yet.

I hate all of the cities lights

that I’ve seen with you.

I hate all of the street cats,

that I’ve cuddled with you.

I hate all of the animals at the zoo,

that I’ve recorded with you.

I hate you: More than you hate

fried onions poured —

on all your foods.

Also when your neighbor

doesn’t pay their electric bill.

Or when Manchester United

suddenly pops up on your page.

And when the PlayStation schedule

is already fully booked.

I hate you as much my entire soul could.

Di Suatu Soneta

Senja menyemburatkan rindu 

dan luka dalam peluk waktu.

Dalam surau puisi ‘ku masih

ingin di sini, dekat sekali dengan namamu.

Membuncah perih di kepala,

asing suara menggema:

“Apakah pikiranmu,

sebatas asmaraloka?”

Tidak. Sebatas takut akan kepudaranmu.

Melodi malam sendu, 

melembutkan segala luka jiwa.

Rupanya Ia sedang tergugu,

dengan panjat doanya.

Si Pemarah Abadi

Amarah ini awalnya cinta.

Amarah ini mulanya renjana.

Amarah ini tadinya damba.

Amarah ini kemarin adalah puja.

Rungsing dalam jiwa, Ia ketakutan

menghadapi dunia nyata.

Kau bukan maya, Kau abadi juga.

Poros dunia berkelana

di hangat tubuhnya.

Bagiku hidup tak sekali saja.

Di hidup lain yang tetap durjana,

Kau hidup berkali-kali, 

ini benar adanya.

Amarah ini artinya resah 

yang tiada akhir.

Ia bukan hanya dipenuhi ego,

atau serakah semata.

Dari kaca yang berserakan 

di jalan raya,

Ia susun sendiri menjadi 

jiwa yang mencinta.

Saat bersuara, segala remuk redam.

Saat bungkam, segala jadi luka.

Gemerisik hujan menabrak 

wajah semrawutnya.

Tiba-tiba sadar:

Terlena. Ia ternyata lupa.

Di luar rumah puisi ini,

penantian untuknya,

bukan hanya Ia seorang.

Doa untukmu adalah

empat sehat lima sempurna.

Dalam Naungan Samudra

Tak bisakah,

jika kita kembali memaafkan?

Membentuk pagi dan malam

menjadi ajang cinta-sayang.

Disela waktu semu, Kau pergi –

dan Aku senantiasa menanti.

Tak bisakah

jika kita kembali menemu?

Tanpa memperhitungkan,

dentang waktu yang cepat berlalu.

Kaprahmu yang salah,

membuat kita saling menjauh

nun di sebrang lautan sana.

Tak bisakah

jika Kau lebih keparat lagi?

Hingga saat Kau menghilang,

dunia terasa sama saja,

hanyut di laut dalam,

atau terambang di malam tak bernama.

Dalam naungan samudra biru..

Ia berpeluk dengan pusara rindu,

dan bersembunyi

di tengkuk hujan kelabu.

Pulang! Pulang!

Gemeletuk gigi mengusir sunyi

di tengah buta pagi.

Dihujam tanya depan kaca sendiri,

“Kapan Kau berdamai lagi?”

Pada waktu yang tertinggal

di belakang jiwa-jiwa remuk redam,

Ia berpacu pada cintanya,

agar pulang sebelum dikelabui malam.

Di sini Aku duduk ditemani sepi.

Sedang lampu kota asyik berkeliling senja.

Di sini Aku dihantam duka.

Sedang kopi susu asyik bergemul senda.

Ketika rayap mengucupku penuh dahaga

Maka pada bagian hati

Yang mereka temukan

Hanya namamu yang Abadi.

Pulang! Pulang!

Namun kita terlampau hilang.

Pergi! Pergi!

Namun hidupmu adalah hidupku.

Ketika saling terluka

Apa benar keduanya mati?

Ah, mungkin Aku saja.

The Gaze Never Dies

I’d find you,

in every life we’ll live.

I’d reach you,

in every skyline you diffuse.

I’d take you manytimes,

in every blood of sea you fallen.

I’d be the flowers

of all your seasons.

I’d love you

in all your phase and fraction

and ivory-white pieces

like the moon do.

I’d always have a path

to cross 

that your soul go,

at the very end.

Hidup

Tanpa sastra,

Aku tiada.

Tulisan ini nanti jadi pusaraku.

Setelah mencium surga Ibu,

dan luka-lebam tangan Ayah.

Pada pangkuan aksara malam keseribu,

‘ku bertapa sedalam-dalamnya.

Kepala yang tenggelam

pada haribaan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *