Nama: Nadiya Khansa (SaIG, 2403216)
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis
Khianat Senja
Aku berpulang kepada
senja terakhir,
di setiap celah Kota Bandung,
yang terasa mencekam.
Penyusuran hingga hayat usai,
Aku takkan pernah sampai.
Pandangnya berbinar memancar,
yang menyatakan dengan niscaya:
“Aku akan membawamu
ke persinggahan surga,
di Switzerland nun di sana.”
Celaka, malam terasa menghina.
Pada noktah hitam ‘ku kecewa.
Kita ‘kan bertumbuh jadi manusia,
dan beramal pada —
para kucing tunawisma.
Dan Aku senantiasa bersikukuh:
perubahanmu takkan sia-sia.
Namun cuma dalam semalam,
khianat menerjang,
durja berduaan dengan malang.
7 tahun yang sama sekali percuma.
Aku takkan berpulang lagi,
kepada senja terakhir.
Dan ‘ku akan pergi menjauh,
menjadikan cintanya untuk cintanya,
sempurna hingga utuh.
I Don’t Hate You, Yet.
I hate all of the cities lights
that I’ve seen with you.
I hate all of the street cats,
that I’ve cuddled with you.
I hate all of the animals at the zoo,
that I’ve recorded with you.
I hate you: More than you hate
fried onions poured —
on all your foods.
Also when your neighbor
doesn’t pay their electric bill.
Or when Manchester United
suddenly pops up on your page.
And when the PlayStation schedule
is already fully booked.
I hate you as much my entire soul could.
Di Suatu Soneta
Senja menyemburatkan rindu
dan luka dalam peluk waktu.
Dalam surau puisi ‘ku masih
ingin di sini, dekat sekali dengan namamu.
Membuncah perih di kepala,
asing suara menggema:
“Apakah pikiranmu,
sebatas asmaraloka?”
Tidak. Sebatas takut akan kepudaranmu.
Melodi malam sendu,
melembutkan segala luka jiwa.
Rupanya Ia sedang tergugu,
dengan panjat doanya.
Si Pemarah Abadi
Amarah ini awalnya cinta.
Amarah ini mulanya renjana.
Amarah ini tadinya damba.
Amarah ini kemarin adalah puja.
Rungsing dalam jiwa, Ia ketakutan
menghadapi dunia nyata.
Kau bukan maya, Kau abadi juga.
Poros dunia berkelana
di hangat tubuhnya.
Bagiku hidup tak sekali saja.
Di hidup lain yang tetap durjana,
Kau hidup berkali-kali,
ini benar adanya.
Amarah ini artinya resah
yang tiada akhir.
Ia bukan hanya dipenuhi ego,
atau serakah semata.
Dari kaca yang berserakan
di jalan raya,
Ia susun sendiri menjadi
jiwa yang mencinta.
Saat bersuara, segala remuk redam.
Saat bungkam, segala jadi luka.
Gemerisik hujan menabrak
wajah semrawutnya.
Tiba-tiba sadar:
Terlena. Ia ternyata lupa.
Di luar rumah puisi ini,
penantian untuknya,
bukan hanya Ia seorang.
Doa untukmu adalah
empat sehat lima sempurna.
Dalam Naungan Samudra
Tak bisakah,
jika kita kembali memaafkan?
Membentuk pagi dan malam
menjadi ajang cinta-sayang.
Disela waktu semu, Kau pergi –
dan Aku senantiasa menanti.
Tak bisakah
jika kita kembali menemu?
Tanpa memperhitungkan,
dentang waktu yang cepat berlalu.
Kaprahmu yang salah,
membuat kita saling menjauh
nun di sebrang lautan sana.
Tak bisakah
jika Kau lebih keparat lagi?
Hingga saat Kau menghilang,
dunia terasa sama saja,
hanyut di laut dalam,
atau terambang di malam tak bernama.
Dalam naungan samudra biru..
Ia berpeluk dengan pusara rindu,
dan bersembunyi
di tengkuk hujan kelabu.
Pulang! Pulang!
Gemeletuk gigi mengusir sunyi
di tengah buta pagi.
Dihujam tanya depan kaca sendiri,
“Kapan Kau berdamai lagi?”
Pada waktu yang tertinggal
di belakang jiwa-jiwa remuk redam,
Ia berpacu pada cintanya,
agar pulang sebelum dikelabui malam.
Di sini Aku duduk ditemani sepi.
Sedang lampu kota asyik berkeliling senja.
Di sini Aku dihantam duka.
Sedang kopi susu asyik bergemul senda.
Ketika rayap mengucupku penuh dahaga
Maka pada bagian hati
Yang mereka temukan
Hanya namamu yang Abadi.
Pulang! Pulang!
Namun kita terlampau hilang.
Pergi! Pergi!
Namun hidupmu adalah hidupku.
Ketika saling terluka
Apa benar keduanya mati?
Ah, mungkin Aku saja.
The Gaze Never Dies
I’d find you,
in every life we’ll live.
I’d reach you,
in every skyline you diffuse.
I’d take you manytimes,
in every blood of sea you fallen.
I’d be the flowers
of all your seasons.
I’d love you
in all your phase and fraction
and ivory-white pieces
like the moon do.
I’d always have a path
to cross
that your soul go,
at the very end.
Hidup
Tanpa sastra,
Aku tiada.
Tulisan ini nanti jadi pusaraku.
Setelah mencium surga Ibu,
dan luka-lebam tangan Ayah.
Pada pangkuan aksara malam keseribu,
‘ku bertapa sedalam-dalamnya.
Kepala yang tenggelam
pada haribaan
