Bandung – Pada hari Jumat, 8 Mei 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Himpunan Mahasiswa (HIMA) Program Studi Ilmu Pengetahuan Agama Islam (IPAI) FPIPS UPI melalui program KANTIN (Kajian Rutin) telah sukses menyelenggarakan agenda Kajian Tarbiyatun-Nisa. Bertempat di Ruang 103, Lantai 1 Gedung FPIPS UPI, acara yang diselenggarakan atas kolaborasi dengan Kajian Rutin Muslimah FPIPS ini menghadirkan pakar pendidikan Islam sekaligus Dosen IPAI UPI, Dr. Nurti Budiyanti, M.Pd., sebagai narasumber utama. Mengusung tema "Menemukan Ketenangan Shalat Lewat Tadabbur Al-Qur'an (Al-Fatihah)", kegiatan ini dihadiri oleh antusiasme puluhan mahasiswi lintas program studi dan fakultas, serta muslimah dari kalangan masyarakat umum yang hadir untuk memperdalam kualitas spiritual mereka.
Menggali Kedalaman Makna Surat Al-Fatihah dalam Ibadah
Kegiatan kajian ini difokuskan pada upaya mendekonstruksi pemahaman shalat dari sekadar rutinitas ritual-fisik menjadi sebuah pengalaman spiritual yang transformatif. Dalam pemaparannya, Dr. Nurti Budiyanti menekankan bahwa Surat Al-Fatihah bukanlah sekadar rukun qauli (bacaan wajib) yang dilafalkan secara mekanis, melainkan sebuah instrumen dialogis yang sangat intim antara hamba dengan Sang Khaliq. Kesadaran penuh atau tadabbur terhadap setiap ayat dalam Al-Fatihah merupakan kunci utama untuk meraih kekhusyukan, di mana akal budi dan hati manusia bersinergi untuk menangkap pesan-pesan penghambaan, kasih sayang, dan petunjuk ilahiah. Hal ini menjadi krusial di tengah dinamika kehidupan akademik mahasiswa yang sarat akan tantangan dan tekanan mental.
Perspektif Ilmiah Integrasi Spiritual dan Psikologi
Secara akademis, urgensi membangun ketenangan batin melalui instrumen ibadah tidak hanya diakui dalam tradisi teologis klasik, tetapi juga tervalidasi secara empiris dalam keilmuan modern. Sebagaimana yang diulas dalam berbagai literatur psikologi Islam pada jurnal-jurnal bereputasi internasional (terindeks Scopus maupun Sinta), praktik mindful contemplation (tadabbur) yang dilakukan secara konsisten selama ibadah mahdhah terbukti secara empiris berfungsi sebagai mekanisme spiritual coping yang sangat efektif untuk mereduksi tingkat stres, kecemasan, dan kelelahan kognitif. Integrasi antara dimensi teologis shalat dengan kesehatan psikologis ini menegaskan bahwa keilmuan agama Islam senantiasa relevan dan adaptif dalam memberikan kerangka penyelesaian atas permasalahan psiko-sosial manusia kontemporer.
Komitmen Institusi terhadap Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Keberhasilan penyelenggaraan majelis ilmu ini juga menjadi bukti nyata dari dedikasi Program Studi IPAI UPI dalam mendukung perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, kegiatan literasi keagamaan non-formal ini merupakan representasi langsung dari SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), di mana kampus tidak hanya memfasilitasi pendidikan kognitif di ruang kelas, tetapi juga memfasilitasi pendidikan karakter, moral, dan spiritual yang inklusif sepanjang hayat bagi sivitas akademikanya. Di samping itu, tema ketenangan batin yang diangkat berimplikasi positif terhadap penguatan kesehatan mental para peserta, yang secara paralel mendukung tercapainya indikator kesejahteraan pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Hal ini menunjukkan visi prodi yang "Pelopor dan Unggul" dalam mencetak insan kamil yang sehat secara paripurna, baik fisik maupun mental.
Refleksi Spritual untuk Sivitas Akademika
Penyelenggaraan Kajian Tarbiyatun-Nisa ini pada hakikatnya adalah sebuah oase bagi dahaga intelektual dan spiritual kita. Ilmu yang telah disampaikan seyogianya tidak berhenti sebagai catatan di atas kertas, melainkan harus bertransformasi menjadi amal shaleh yang tercermin dalam kualitas ruku' dan sujud kita sehari-hari. Mari kita jadikan forum-forum keilmuan seperti ini sebagai ruang refleksi untuk terus membenahi diri, menyelaraskan kembali niat, dan menyempurnakan orientasi hidup semata-mata untuk mencari rida Allah Subhanahu wa Ta'ala. Keunggulan sejati seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari tingginya Indeks Prestasi Kumulatif, tetapi dari seberapa besar ilmu tersebut mampu menghadirkan ketundukan jiwa dan kebermanfaatan budi pekerti di tengah-tengah masyarakat.
