Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Menggugat Kecerdasan Tanpa Wahyu, Ratusan Peserta Antusias Hadiri Kajian Tafsir Tarbawy KANTIN IPAI UPI

Bandung – Pada hari Sabtu, 9 Mei 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Himpunan Mahasiswa (HIMA) Program Studi Ilmu Pengetahuan Agama Islam (IPAI), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) telah sukses menggelar agenda Kajian Rutin (KANTIN) IPAI. Mengusung tema keilmuan yang mendalam bertajuk "Tragedi Kecerdasan Tanpa Wahyu: Menara Pasir Terhempas Suara Fitrah (QS. Asy-Syu'ara: 123-139)", kajian Tafsir Tarbawy ini diselenggarakan secara virtual melalui platform Zoom Meeting sejak pukul 05.00 WIB. Menghadirkan pakar tafsir yang juga merupakan dosen senior IPAI UPI, Dr. KH. Aam Abdussalam, M.Pd., forum keilmuan ini berhasil menarik perhatian antusiasme mahasiswa dan jamaah umum guna mengkaji urgensi bimbingan wahyu di tengah masifnya sekularisasi ilmu pengetahuan modern.

Dekonstruksi Narasi Kecerdasan Eksklusif

Dalam pemaparannya yang komprehensif, Dr. KH. Aam Abdussalam, M.Pd. membedah rekam jejak umat-umat terdahulu yang termaktub dalam Al-Qur'an Surat Asy-Syu'ara ayat 123 hingga 139. Beliau secara kritis menguraikan bagaimana peradaban historis kaum 'Aad yang maju secara arsitektural dan material—sebagai representasi puncak kecerdasan empiris pada masanya—pada akhirnya mengalami kehancuran akibat keangkuhan intelektual yang menolak tuntunan wahyu ilahiah. Tragedi historis ini dianalogikan secara puitis sekaligus tajam sebagai "menara pasir"; tampak menjulang dan megah dari luar, namun hakikatnya rapuh dan seketika luluh lantak ketika dihempas oleh suara kebenaran fitrah kemanusiaan. Diskursus ini menampar kesadaran sivitas akademika bahwa kecerdasan kognitif semata, apabila tidak dikalibrasi dengan kompas moral-spiritual, justru berpotensi menggiring manusia pada keangkuhan eksistensial yang destruktif.

Integrasi Epistemologis Sains dan Wahyu dalam Tinjauan Ilmiah

Wacana mengenai bahaya kecerdasan yang tercerabut dari akar teologis ini sangat relevan dengan perdebatan keilmuan Islam kontemporer. Secara teoretis, sebagaimana yang sering dielaborasi dalam literatur pada jurnal-jurnal ilmiah pendidikan bereputasi internasional (terindeks Scopus maupun Sinta), pemisahan biner antara rasionalitas murni (kecerdasan akal) dan wahyu (kecerdasan spiritual) merupakan akar dari krisis epistemologis modern yang melahirkan alienasi kemanusiaan. Konsep integrasi-interkoneksi ilmu menawarkan paradigma yang komprehensif dan solutif, di mana metodologi sains diposisikan sebagai instrumen objektif untuk menelaah ayat-ayat kauniyah, sedangkan wahyu difungsikan sebagai furqan (pembimbing etis) agar arah riset tetap berpusat pada maslahat umat. Melalui kajian ini, mahasiswa dibekali pisau analisis tajam guna mengejawantahkan visi UPI yang "Pelopor dan Unggul" dalam praktik Tri Dharma Perguruan Tinggi yang sarat nilai profetik.

Sinergi Nilai Keislaman dan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Konsistensi pelaksanaan kajian Tafsir Tarbawy ini juga merefleksikan manifestasi nyata dari komitmen Program Studi IPAI UPI terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pemenuhan literasi keagamaan dan karakter mahasiswa melalui forum ini berkontribusi langsung pada penguatan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), karena mutu pendidikan yang holistik mensyaratkan adanya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan kedalaman spiritual. Lebih jauh lagi, penanaman nilai-nilai kepatuhan terhadap hukum-hukum Sunnatullah ini merupakan fondasi vital bagi pembentukan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), di mana kampus diharapkan melahirkan lulusan berintegritas, anti-korupsi, dan menjauhi praktik eksploitasi atas nama kebebasan akademik semu.

Refleksi Keilmuan sebagai Cahaya Kehidupan

Alhamdulillah wa barakallahu fiikum. Rangkaian Kajian Tafsir Tarbawy ini sejatinya merupakan ruang muhasabah yang mendalam bagi kita semua. Pengetahuan yang telah dihantarkan oleh guru kita hari ini hendaknya menjadi cermin untuk menakar ulang orientasi keilmuan kita; apakah lembaran buku yang kita baca dan riset yang kita susun telah membawa hati kita semakin menunduk di hadapan Sang Khaliq? Kecerdasan adalah anugerah terbesar kemanusiaan, namun hanya dengan panduan wahyulah kecerdasan itu tidak berubah menjadi senjata yang membinasakan peradaban. Mari kita terus asah ketajaman akal dan kebeningan kalbu agar senantiasa berjalan beriringan, menjadikan kita sebagai pembelajar sepanjang hayat yang menebar rahmatan lil 'alamin di manapun kita berpijak. Mengingat kegiatan ini telah disiarkan secara langsung, bagi jamaah yang belum berkesempatan hadir dapat menyimak rekaman tayangannya melalui kanal YouTube resmi HIMA IPAI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *