Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Refleksi Dan Harapan Wisudawan Pada Wisuda Gelombang II Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2026

Sebanyak 1.793 lulusan mengikuti prosesi Wisuda Gelombang II Tahun 2026 Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang dilaksanakan di Gedung Gymnasium UPI pada Minggu (10/05/2026). Para wisudawan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari diploma, sarjana, magister, hingga doktor. Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan penuh suasana emosional karena menjadi penanda berakhirnya perjalanan akademik sekaligus awal memasuki kehidupan baru di tengah tantangan dunia kerja dan masyarakat yang semakin kompleks.

Pelaksanaan wisuda tahun ini meninggalkan beragam kesan bagi para wisudawan. Bagi sebagian mahasiswa, wisuda bukan hanya seremoni kelulusan, tetapi juga bentuk penghargaan atas perjuangan panjang selama menjalani perkuliahan. NNNK mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi, mengaku telah lama menantikan momen wisuda tersebut. Ia merasa suasana wisuda tahun ini cukup berbeda karena untuk pertama kalinya dilaksanakan pada hari Minggu sehingga memberikan pengalaman baru bagi para wisudawan.

 

“Seru, aku nunggu banget momen gelombang ini. Tapi mungkin karena pertama kalinya di hari Minggu jadi agak nggak bisa ditebak,” ujarnya.

Menurutnya, meskipun terdapat beberapa hal yang tidak sesuai ekspektasi, pelaksanaan wisuda tetap terasa menyenangkan dan menjadi pengalaman yang berharga. Ia juga mengaku sempat merasa emosional selama acara berlangsung, namun mencoba menikmati seluruh proses dengan lebih santai.

Kesan berbeda disampaikan oleh MA mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia. Ia menilai wisuda gelombang kedua terasa jauh lebih ramai dibanding gelombang pertama. Menurutnya, jumlah peserta yang mencapai sekitar 1.700 wisudawan membuat suasana kampus terasa lebih padat dan hectic, terutama di area parkir dan jalur masuk menuju lokasi wisuda. Namun di balik kondisi tersebut, ia mengapresiasi kerja keras panitia yang dianggap mampu mengelola acara dengan baik.

 

“Persiapan dari teman-teman panitia wisuda ini sudah sangat luar biasa,” katanya.

Bagi MA momen wisuda menjadi pengalaman emosional yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia merasa bangga karena berhasil menyelesaikan kuliah dalam waktu tujuh semester. Selain itu, ia juga merasa bersyukur dikelilingi oleh teman-teman dan lingkungan program studi yang suportif selama proses perkuliahan.

Sementara itu, CZM mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi, menilai suasana wisuda tahun ini terasa lebih sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, ia tetap merasakan suasana haru yang mendalam selama acara berlangsung. Menurutnya, wisuda merupakan hasil perjuangan panjang yang tidak mudah, terutama bagi mahasiswa tingkat akhir yang harus menghadapi berbagai tantangan akademik maupun persoalan pribadi.

 

“Walaupun acaranya terasa agak membosankan, tapi tetap sangat emosional,” ujarnya.

Ia mengaku sempat merasa asing di tengah banyaknya peserta wisuda, tetapi rasa haru tetap muncul ketika menyadari bahwa dirinya akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan setelah menempuh kuliah selama 6,5 tahun.

Salah satu momen yang paling membekas bagi para wisudawan adalah pidato dari perwakilan mahasiswa. Ketiga narasumber sama-sama menilai pidato tersebut menjadi bagian paling emosional dalam prosesi wisuda. NNNK mengaku sangat tersentuh ketika mendengarkan pidato perwakilan wisudawan. Hal serupa juga dirasakan oleh MA yang merasa haru ketika seorang mahasiswi menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang tua di hadapan seluruh peserta wisuda. Sementara itu, CZM mengaku ikut meneteskan air mata ketika mahasiswa berprestasi dari kampus daerah Serang menangis saat menyampaikan pidatonya.

Selain menjadi momen perayaan, wisuda juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Para wisudawan menyadari bahwa tantangan terbesar selama kuliah bukan hanya berkaitan dengan tugas akademik, tetapi juga persoalan mental dan kehidupan pribadi.

NNNK mengungkapkan bahwa tantangan terbesar baginya adalah menyelesaikan skripsi dan melawan rasa malas dari diri sendiri. Menurutnya, proses pengerjaan skripsi membutuhkan niat dan kedisiplinan yang kuat agar dapat diselesaikan tepat waktu.

“Harus benar-benar diniatin dulu,” katanya.

Berbeda dengan NNNK, MA menilai bahwa tantangan terbesar mahasiswa justru terletak pada persoalan hidup yang dihadapi selama masa kuliah. Ia menilai mahasiswa sering kali harus menghadapi tekanan emosional, masalah keluarga, hingga kecemasan terhadap masa depan di tengah tuntutan akademik yang berat.

“Tantangan kuliah tuh bukan kuliahnya, tapi hidupnya,” ujarnya.

Pandangan yang lebih mendalam disampaikan oleh CZM. Menurutnya, mahasiswa usia awal 20-an berada dalam fase krisis identitas karena secara hukum sudah dianggap dewasa, tetapi secara mental masih berada dalam proses pencarian jati diri. Di sisi lain, mahasiswa juga dituntut untuk memiliki arah hidup yang jelas dan mampu menentukan masa depannya sendiri.

“Kita dituntut punya visi dan misi yang jelas, kuliah mau jadi apa, hidup mau ke mana,” jelasnya.

Menurutnya, kemampuan seseorang bertahan hingga lulus sangat dipengaruhi oleh seberapa kuat identitas dan tujuan hidup yang dimiliki selama menjalani perkuliahan.

Setelah resmi diwisuda, para lulusan juga mulai memikirkan langkah selanjutnya dalam kehidupan mereka. NNNK berharap dapat segera memperoleh pekerjaan dan memiliki kehidupan yang lebih stabil setelah lulus. Sementara itu, MA memiliki cita-cita menjadi seorang sutradara terkenal dan ingin berkarya di dunia perfilman. Berbeda dengan keduanya, MCZ memilih untuk melanjutkan pengabdiannya di bidang pendidikan dengan menjadi seorang guru atau pengajar.

Para wisudawan juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa yang masih menjalani perkuliahan. Mereka mengingatkan pentingnya menjaga semangat, tidak menunda pengerjaan skripsi, serta berani meminta bantuan kepada dosen maupun pihak program studi ketika mengalami kesulitan akademik.

“Jangan jauhi laptopnya,” ujar MA, mengingatkan mahasiswa agar tetap konsisten menulis skripsi meskipun hasilnya belum sempurna.

Di tengah meningkatnya persaingan kerja, para lulusan juga menyadari bahwa dunia kerja saat ini tidak mudah untuk dihadapi. MA menilai generasi muda saat ini menghadapi tekanan besar akibat media sosial dan budaya membandingkan diri dengan orang lain. Menurutnya, banyak lulusan sarjana yang merasa harus memperoleh pekerjaan bergengsi sehingga enggan memulai dari pekerjaan kecil.

“Semua kerjaan libas aja,” katanya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh MCZ. Ia menilai lulusan perguruan tinggi saat ini harus lebih realistis dalam menghadapi dunia kerja. Menurutnya, pengalaman kerja jauh lebih penting dibanding gengsi terhadap gelar pendidikan atau besarnya gaji di awal karier.

“Mau lulusan UPI, UI, atau ITB, sekarang yang penting kerja dulu dan dapat pengalaman,” ujarnya.

Meski memiliki pengalaman, tantangan, dan harapan yang berbeda-beda, prosesi Wisuda Gelombang II Universitas Pendidikan Indonesia Tahun 2026 tetap menjadi momen penting yang penuh makna bagi para mahasiswa. Wisuda tidak hanya menjadi simbol keberhasilan akademik, tetapi juga menjadi titik awal bagi para lulusan untuk menghadapi realitas kehidupan, dunia kerja, serta tanggung jawab baru sebagai bagian dari masyarakat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *