Penulis: Mim Rafiqoh Nurjauharoh (SaIG, 2507679), Muhammad Dion Faisal (SaIG, 2504757)
Penyunting : Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)
Cuaca yang cerah dengan suhu harian khas daerah Kebumen menyambut hari ketiga dalam rangkaian Kuliah Kerja Lapangan Tahap 1 Mahasiswa Sains Informasi Geografi 2025 di Karangsambung, Kebumen pada hari Rabu (29/04/2026). Satu hari ini kami dedikasikan untuk kegiatan field trip mengunjungi lima site yang menjadi objek kajian kami bersama BRIN Karangsambung.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pematerian oleh Bapak Puguh Dwi Raharjo, M.Sc. di kantor Geodiversitas BRIN Karangsambung tentang proses-proses geologi dan geomorfologi yang menghidupkan kembali ingatan kami akan materi yang selama ini diajarkan di kelas. Siapa sangka, bebatuan yang kita pijak hari ini dulunya tersimpan jauh di kedalaman samudra. Potensi tersebut sudah seharusnya dioptimalkan, khususnya sebagai sumber pembelajaran dan daya tarik wisata. Bukan hanya itu saja, kantor Geodiversitas BRIN Karangsambung ini menyimpan banyak bebatuan yang selain dijadikan sebagai bahan pengetahuan kebumian, tempat ini menyimpan bebatuan untuk diuji dan disimpan sebagai data archive.

Dok. Penulis
Berikutnya, kami menjalani field trip yang dipandu oleh pemateri dari BRIN Karangsambung. Lokasi atau site pertama yang dikunjungi adalah Geosite Watu Kelir yang terletak di Desa Seboro, Kec. Sadang, Kab. Kebumen, Jawa Tengah. Watu Kelir diperkirakan memiliki panjang sekitar 600 meter dengan tinggi sekitar 5 meter. Yang membuat Geosite Watu Kelir begitu istimewa adalah kenyataan bahwa dalam satu lokasi, kita bisa menyaksikan tiga fenomena yang tak biasa yang benar-benar berbeda, namun hadir berdampingan dalam satu singkapan yang luar biasa. Masyarakat sekitar memberikan nama “watu kelir” pada tembok ini karena bentuknya mengingatkan pada kelir (layar) pada pertunjukan wayang kulit. Walau begitu, tembok ini sama sekali tidak berhubungan dengan pertunjukan wayang kulit.
Se

Dok. Penulis
Yang pertama adalah batuan gamping merah dan batu rijang. Keduanya terbentuk di dasar samudera purba dengan kedalaman sekitar 4.000 hingga 5.000 meter. Kemunculannya yang selang-seling mencerminkan perubahan kondisi sedimentasi di dasar laut dari waktu ke waktu. Warnanya yang kemerahan menunjukan adanya kandungan unsur besi dan fosil radiolaria yang terbentuk jauh di kedalaman samudera purba sekitar 80 juta tahun lalu.

Dok. Penulis
Yang kedua adalah lava bantal atau pillow lava yang merupakan batuan beku basalt akibat aktivitas vulkanik di dasar samudera purba. Ketika magma keluar dari celah punggungan tengah samudera, lava tersebut langsung membeku secara mendadak saat bersentuhan dengan air laut yang dingin, sehingga menciptakan bentuk khas yang membulat menyerupai bantal.

Dok. Penulis
Yang tak kalah menarik adalah terdapat batuan metamorf eklogit yang merupakan bukti luar biasa betapa dahsyatnya dinamika bumi yang pernah terjadi di kawasan ini jutaan tahun silam. Eklogit terbentuk ketika batuan basaltik tertekan pada kedalaman lebih dari 40 kilometer dengan suhu yang mencapai lebih dari 500°C, sehingga mineral-mineral di dalamnya berubah menjadi garnet dan piroksen dan proses pembentukannya terjadi saat lempeng samudera menunjam jauh ke dalam perut bumi akibat tumbukan lempeng tektonik, dan pada kondisi ekstrem seperti itulah batuan yang seharusnya terkubur di kedalaman justru sangat jarang bisa kembali naik ke permukaan dan menghindari proses perubahan lanjutan.

Dok. Penulis
Perjalanan berlanjut ke situs berikutnya yaitu blok batuan asing serpentinite yang ada di Desa Pucangan, Kec. Sadang, Kab. Kebumen, Jawa Tengah. Singkapan ini memiliki dimensi yang cukup besar hingga menutupi satu bukit, dengan warna hijau gelap hingga kehitaman, dan berada tepat di tepi jalan raya Karangsambung-Sadang. Batuan serpentinite sendiri merupakan batuan ultrabasa hasil pembekuan magma pada kerak samudera, yang kemudian berubah saat bersentuhan dengan air laut, dan berubah lagi ketika masuk ke zona tunjaman sebelum akhirnya terangkat ke permukaan bumi.
