Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
KULIAH KERJA LAPANGAN II (KKL II) PROGRAM STUDI SAINS INFORMASI GEOGRAFI KELOMPOK 2 DESA CIKAMPEK TIMUR, KECAMATAN CIKAMPEK

Penulis : Kelompok 2 SaIG Angkatan 2024

Peyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Dok. Penulis

Kuliah Kerja Lapangan II (KKL II) merupakan salah satu mata kuliah lapangan pada Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam mengumpulkan, memvalidasi, serta mengolah data spasial dan nonspasial. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk memahami konsep pemetaan secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkan berbagai metode survei di lapangan, mulai dari observasi, wawancara, pengambilan titik koordinat, hingga penyusunan peta tematik.

Pelaksanaan KKL II diawali dengan pembentukan panitia dan penunjukan ketua pelaksana. Setelah melalui beberapa kali koordinasi dengan pihak program studi, termasuk diskusi bersama Bapak Dr. Lili Somantri, M.Si. selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, ditetapkan bahwa lokasi KKL II tahun ini berada di Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Kecamatan ini dipilih karena memiliki dinamika wilayah yang cukup kompleks, baik dari segi penggunaan lahan, aktivitas ekonomi, maupun kondisi sosial masyarakatnya.

Kelompok 2 memperoleh wilayah kajian di Desa Cikampek Timur, yang terdiri atas 12 Rukun Warga (RW). Desa ini memiliki karakteristik wilayah yang beragam, mulai dari kawasan permukiman padat, area industri, lahan pertanian, hingga fasilitas publik yang cukup lengkap. Kondisi tersebut menjadikan Desa Cikampek Timur sebagai lokasi yang menarik untuk dikaji secara komprehensif melalui pendekatan geospasial.

            Secara umum, KKL II bertujuan untuk memvalidasi data yang telah disusun pada tahap pra-KKL sekaligus memperbarui informasi lapangan agar sesuai dengan kondisi aktual di wilayah kajian. Data yang telah diperoleh kemudian diolah menjadi berbagai peta tematik yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi fisik, sosial, dan ekonomi Desa Cikampek Timur.

Dalam pelaksanaannya, kelompok melakukan validasi batas administrasi wilayah, baik batas desa, dusun, maupun RW. Selain itu, kelompok juga memvalidasi dan menambahkan data persebaran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk informasi pendukung seperti jenis usaha dan estimasi omzet. Data fasilitas lainnya yang turut divalidasi meliputi titik ATM, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan beserta jumlah tenaga kesehatan, fasilitas umum, Ruang Terbuka Hijau (RTH), Tempat Pembuangan Sampah (TPS), serta persebaran industri dan pabrik.

            Kajian fisik wilayah juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Kelompok melakukan observasi geologi, identifikasi jenis tanah, analisis elevasi, dan kajian kemiringan lereng. Selain itu, dilakukan pula pendataan peternakan, empang, perkebunan, dan lahan pertanian sebagai bagian dari analisis penggunaan lahan.

Untuk melengkapi data spasial, kelompok melakukan wawancara dengan perangkat desa, ketua RW, pihak sekolah, dan masyarakat setempat. Informasi yang dikumpulkan meliputi komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin, jumlah penerima bantuan sosial, persebaran sumur bor dan sumur gali, data tenaga pendidik dan peserta didik, informasi toponimi, rute angkutan umum, hingga lokasi yang digunakan sebagai tempat evakuasi bencana. Dengan demikian, data yang dihasilkan tidak hanya menggambarkan aspek keruangan, tetapi juga mencerminkan kondisi sosial masyarakat secara lebih mendalam.

            Tahap persiapan menjadi fondasi utama dalam keberhasilan pelaksanaan KKL II. Pada tahap ini, seluruh anggota kelompok menyusun peta kerja, merancang instrumen survei, menyiapkan format wawancara, dan membagi tugas sesuai dengan tema peta yang akan dikerjakan. Setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing, baik dalam pengumpulan data, dokumentasi, maupun pengolahan data.

Persiapan ini tidak selalu berjalan mulus. Kesibukan akademik yang cukup padat membuat waktu koordinasi menjadi terbatas. Namun demikian, seluruh anggota kelompok tetap berupaya mempersiapkan kegiatan secara maksimal. Diskusi dilakukan secara intensif agar setiap anggota memahami alur kerja dan target yang harus dicapai. Dari proses ini, kelompok belajar bahwa keberhasilan kegiatan lapangan sangat ditentukan oleh kualitas persiapan yang matang.

            Keberangkatan menuju lokasi KKL dilaksanakan pada tanggal 10 Mei. Untuk mendukung mobilitas selama kegiatan berlangsung, beberapa anggota berangkat lebih awal menggunakan sepeda motor sebagai tim pendahulu. Sementara itu, anggota lainnya berangkat bersama rombongan menggunakan bus.

Strategi ini terbukti efektif karena tim pendahulu dapat mempersiapkan kebutuhan teknis di lokasi, seperti memastikan tempat tinggal, meninjau akses menuju wilayah survei, dan menyiapkan kendaraan untuk mobilisasi lapangan. Mengingat wilayah kajian cukup luas dan tersebar, keberadaan kendaraan bermotor sangat membantu dalam mempercepat proses pengumpulan data.

            Hari pertama diawali dengan briefing kelompok untuk menyusun strategi pelaksanaan survei. Setelah berdiskusi, disepakati bahwa seluruh anggota akan turun ke lapangan tanpa membentuk tim studio. Kelompok dibagi menjadi tiga tim agar proses validasi dapat dilakukan secara lebih efektif dan menjangkau wilayah yang lebih luas.

            Pada hari pertama, fokus kegiatan adalah memvalidasi dan menambahkan titik UMKM, TPS, peternakan, perkebunan, serta beberapa fasilitas lainnya. Setiap tim membawa peta kerja dan formulir survei sebagai panduan dalam pengumpulan data. Di lapangan, anggota kelompok tidak hanya mengambil titik koordinat, tetapi juga melakukan wawancara singkat dengan masyarakat untuk memperoleh informasi pendukung. Malam harinya, karena tidak ada agenda ekspose, kelompok memanfaatkan waktu untuk mengevaluasi hasil survei dan menyusun rencana kerja untuk hari berikutnya.

            Hari kedua digunakan untuk melanjutkan validasi data dengan cakupan yang lebih luas. Pada hari ini, kelompok berhasil memperoleh tambahan data UMKM beserta estimasi omzetnya, titik ATM, empang, toponimi, dan penggunaan lahan lainnya. Aktivitas lapangan berjalan lebih lancar karena anggota sudah mulai memahami karakteristik wilayah dan pola interaksi dengan masyarakat setempat.

Hari ketiga difokuskan pada pengukuran GNSS metode statik untuk memperoleh titik kontrol dengan ketelitian tinggi. Pengukuran dilakukan dengan mengacu pada stasiun CORS terdekat yang berjarak kurang lebih 15 kilometer dari lokasi. Setiap titik diamati selama sekitar satu jam sepuluh menit secara bergantian. Selama proses pengukuran berlangsung, sebagian anggota tetap melanjutkan survei toponimi agar waktu di lapangan dapat dimanfaatkan secara optimal.

            Pada siang hari, dilaksanakan acara pembukaan resmi KKL II di Kantor Kecamatan Cikampek. Acara ini dihadiri oleh perangkat kecamatan, kepala desa, dosen pembimbing, serta perwakilan mahasiswa dari setiap kelompok. Kegiatan tersebut menjadi momen penting yang menandai dimulainya pelaksanaan KKL II secara resmi.

Hari keempat menjadi titik awal proses pengolahan data. Kelompok dibagi menjadi dua tim, yaitu tim lapangan dan tim studio. Tim lapangan bertugas mencari data tambahan berupa persebaran sumur dan pabrik, sedangkan tim studio mulai merapikan data yang telah terkumpul.

            Tahapan pengolahan data dilakukan secara bertahap, dimulai dari pembersihan data CSV, pengisian atribut, konversi ke format geospasial, hingga penyusunan layout peta menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis. Pada malam hari, kelompok mengikuti kegiatan ekspose hasil sementara yang dihadiri oleh Prof. Dr. Mamat Ruhimat, M.Si. Dalam sesi tersebut, kelompok memperoleh banyak masukan terkait kualitas data, kesesuaian analisis, dan penyajian peta.

            Pelaksanaan KKL II memberikan banyak pengalaman berharga, termasuk berbagai tantangan yang harus dihadapi di lapangan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan akses terhadap data nonspasial. Beberapa informasi, seperti data kependudukan dan data penerima bantuan sosial, tidak dapat diperoleh secara lengkap karena adanya prosedur administratif tertentu dan keterbatasan data yang tersedia di tingkat desa.

            Selain itu, proses survei juga diwarnai oleh respons masyarakat yang cukup beragam. Saat kelompok melakukan pengukuran GNSS dengan menggunakan rompi lapangan berwarna kuning, beberapa warga sempat merasa curiga dan mengira bahwa kegiatan tersebut berkaitan dengan proyek penggusuran atau pembebasan lahan. Kondisi ini membuat anggota kelompok harus menjelaskan tujuan survei secara persuasif agar masyarakat memahami bahwa kegiatan yang dilakukan murni untuk keperluan akademik.

            Kendala teknis juga sempat terjadi ketika tim survei persebaran sumur tanpa sengaja melewatkan satu RW. Meskipun terlihat sederhana, kejadian ini menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya pengecekan ulang cakupan wilayah dan koordinasi antaranggota tim.

Di sisi lain, keterbatasan waktu menjadi tantangan tersendiri. Banyaknya variabel yang harus divalidasi dalam waktu yang relatif singkat menuntut kelompok untuk bekerja secara efisien dan disiplin. Namun justru dari situ, setiap anggota belajar untuk mengelola waktu, berkomunikasi secara efektif, dan menyelesaikan pekerjaan di bawah tekanan.

            Melalui pelaksanaan KKL II, Kelompok 2 berhasil memperoleh berbagai data spasial dan nonspasial yang telah tervalidasi sesuai kondisi lapangan. Data tersebut kemudian diolah menjadi peta tematik yang menggambarkan kondisi sosial, ekonomi, fisik, dan infrastruktur Desa Cikampek Timur.

            Lebih dari sekadar menghasilkan peta, kegiatan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi seluruh anggota kelompok. Mahasiswa dapat merasakan langsung bagaimana teori yang dipelajari di kelas diterapkan di lapangan. Proses wawancara dengan masyarakat melatih kemampuan komunikasi, pengukuran GNSS meningkatkan pemahaman teknis, sedangkan pengolahan data memperkuat kemampuan analisis geospasial.

            KKL II juga mengajarkan pentingnya kerja sama tim. Setiap anggota memiliki peran yang saling melengkapi, dan keberhasilan kelompok sangat bergantung pada koordinasi yang baik. Dinamika yang terjadi selama kegiatan menjadi pengalaman yang tidak hanya menambah wawasan akademik, tetapi juga membentuk sikap tanggung jawab, adaptasi, dan profesionalisme.

            Kuliah Kerja Lapangan II di Desa Cikampek Timur merupakan pengalaman akademik yang sangat bermakna bagi mahasiswa Program Studi Sains Informasi Geografi. Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan data dan peta tematik yang bermanfaat bagi pemerintah desa dan kecamatan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah keterampilan teknis, analitis, dan interpersonal.

Meskipun pelaksanaannya diwarnai oleh berbagai kendala, seluruh tantangan tersebut justru menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berharga. Dari kegiatan ini, mahasiswa memahami bahwa pemetaan bukan hanya tentang membuat peta, tetapi juga tentang memahami kondisi wilayah secara menyeluruh, berinteraksi dengan masyarakat, serta bekerja sama untuk menghasilkan informasi yang akurat dan bermanfaat.

            Secara keseluruhan, KKL II memberikan pengalaman yang memperkuat kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja maupun penelitian di bidang geospasial. Pengalaman ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan akademik karena memberikan gambaran nyata mengenai bagaimana ilmu geografi dan teknologi geospasial diterapkan untuk mendukung pembangunan wilayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *