Penulis: Siti Zahrotunisa, S.Pd., M.Sc.
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
1. Apa yang dipikirkan
Kultur SaIG UPI menegaskan bahwa kekuatan institusi tidak hanya terletak pada sistem,
tetapi pada konsistensi seluruh sumber daya manusia dalam menjalankan nilai-nilai
yang telah dibangun, seperti produktivitas melalui tulisan, kolaborasi lintas pihak, serta
keberanian menjadi trendsetter di bidang geospasial. Nilai ini selaras dengan kebutuhan
pengembangan ke depan, termasuk dalam mendukung rencana S2 SaIG yang
menuntut kerja cepat, efisien, dan berbasis tim. Saya juga berpikir bahwa menjaga kultur
sama menantangnya dengan membangun kultur, karena membutuhkan komitmen
berkelanjutan dari semua pihak. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang kuat
antara dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan mitra agar nilai-nilai
tersebut tetap terjaga. Selain itu, keberlanjutan SaIG ke depan sangat ditentukan oleh
peran dosen-dosen muda sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan, menjaga,
dan mengembangkan kultur yang telah dibangun.
2. Apa yang dirasakan
Saya teringat saat pertama kali bergabung di SaIG UPI hingga saat ini yang sudah
hampir dua tahun. Pada awalnya terdapat proses penyesuaian, namun alhamdulillah
dapat dilalui dengan baik karena lingkungan yang suportif dan terbuka. Hal ini
menumbuhkan rasa kebersamaan, dan kepercayaan diri untuk terus berkembang serta
kebanggaan menjadi bagian dari SaIG yang besar, maju, keren, unggul, dan memiliki
peran penting. Saya juga merasakan bahwa kultur kolaboratif yang ada menjadi
kekuatan utama dalam membangun suasana akademik yang produktif.
● Budaya menulis mendorong untuk terus belajar dan berkembang secara
akademik.
● Kolaborasi membuat suasana kerja lebih ringan, saling mendukung, dan tidak
berjalan sendiri.
● Semangat menjadi trendsetter mendorong untuk terus berinovasi.
● Identitas sebagai “the heart of geospatial” menumbuhkan kebanggaan sekaligus
tanggung jawab.
● Nilai cinta geografi dan Indonesia memberikan makna lebih dalam terhadap
pekerjaan yang dilakukan
Di sisi lain, muncul kesadaran bahwa untuk mempertahankan kultur tersebut diperlukan
peran aktif setiap individu, termasuk dosen muda, agar tetap konsisten dan tidak
mengalami penurunan kualitas. Refleksi ini juga mendorong saya untuk terus
meningkatkan kapasitas diri, termasuk melalui rencana melanjutkan studi S3, agar dapat
berkontribusi lebih optimal dalam keberlanjutan SaIG.
3. Apa yang didapatkan
Memperkuat pemahaman bahwa budaya menulis, kolaborasi, dan keberanian menjadi
pelopor merupakan fondasi utama SaIG. Selain itu, terlihat adanya keterkaitan yang
kuat antara kultur yang dibangun dengan kesiapan institusi dalam menangkap
momentum pengembangan, termasuk pembukaan S2 SaIG. Saya juga mendapatkan
pemahaman bahwa keberlanjutan kultur sangat bergantung pada sinergi seluruh
elemen, serta kesiapan generasi dosen muda dalam mengambil peran strategis ke
depan. Lingkungan yang suportif menjadi modal penting yang perlu dijaga melalui
komunikasi dan kerja sama agar kultur tetap terjaga.