Penulis: Tiara Handayani, S.Si., M.Sc.
Penyuting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Pada Kamis, 23 April 2026 disampaikan kembali nilai-nilai Kultur SaIG UPI sebagai fondasi pengembangan institusi oleh Dr. Lili Somantri, M.Si. Saya berpikir bahwa kultur tersebut bukan hanya rangkaian kalimat motivatif, melainkan representasi arah dan karakter kolektif yang sedang dibangun. Pernyataan bahwa SaIG besar karena tulisan menegaskan pentingnya budaya literasi, publikasi ilmiah, dan dokumentasi akademik yang konsisten. Dalam konteks pendidikan tinggi, tulisan adalah bukti keberadaan dan kontribusi intelektual suatu institusi. Sebagai pelopor SaIG di Indonesia, konsistensi dalam menghasilkan karya ilmiah menjadi tanggung jawab moral sekaligus akademik. Kultur ini memperlihatkan bahwa reputasi tidak lahir dari klaim, tetapi dari rekam jejak karya yang terukur dan diakui.
Nilai kolaborasi yang melibatkan dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, universitas, masyarakat, hingga dunia kerja menunjukkan bahwa SaIG berkembang dalam semangat ekosistem yang saling menguatkan. Saya berpikir bahwa kekuatan ini yang membuat SaIG mampu menjadi rujukan bagi lahirnya program-program SaIG lain di Indonesia, yang saat ini telah berkembang di berbagai perguruan tinggi. Kolaborasi bukan hanya kerja bersama, tetapi juga penyatuan visi dan kualitas. Selain itu, semangat menjadi trendsetter dan bukan follower mempertegas bahwa inovasi harus menjadi karakter, bukan sekedar respons terhadap tren. Dalam konteks UPI yang “Melesat”, SaIG yang “Berlari” mencerminkan energi, percepatan, dan keberanian untuk berada di depan perubahan. Nilai ini sangat relevan dengan dinamika perkembangan teknologi geospasial yang terus bergerak cepat dan disruptif. Saya juga merefleksikan bahwa kultur “SaIG unggul karena berlari dan menjadi the heart of geospatial” memiliki makna simbolik yang dalam. Berlari menggambarkan daya juang, konsistensi, dan orientasi pada kemajuan yang berkelanjutan. Menjadi the heart of geospatial berarti SaIG mengembangkan gagasan, inovasi, dan keilmuan geospasial yang berdampak luas. Hal ini menuntut kualitas akademik, integritas, dan kepemimpinan intelektual. Sebagai dosen muda, saya merasa nilai tersebut bukan hanya visi institusi, tetapi juga tantangan personal untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Kultur ini mendorong saya untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga aktif meneliti, menulis, dan membangun jejaring akademik.
Saya merasakan kebanggaan karena SaIG memiliki semangat cinta geografi dan Indonesia. Nilai ini memberikan makna bahwa pengembangan keilmuan geospasial harus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional, baik dalam perencanaan wilayah, mitigasi bencana, pengelolaan sumber daya, maupun kebijakan publik berbasis spasial. Semangat tersebut menghadirkan dimensi idealisme yang kuat dalam setiap aktivitas tridarma. Sebagai bagian dari generasi dosen yang lebih muda, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan menerjemahkan nilai tersebut dalam praktik nyata. Kultur ini menjadi pengingat bahwa ilmu yang dikembangkan harus berpihak pada kebutuhan bangsa.
Dari kultur SaIG, saya mendapatkan pemahaman bahwa kekuatan institusi terletak pada konsistensi nilai yang dijalankan secara berkelanjutan. Kultur menulis, berkolaborasi, berinovasi, dan mencintai Indonesia harus tercermin dalam kebijakan, kinerja, dan perilaku akademik sehari-hari. Saya juga menyadari bahwa sebagai generasi penerus, kami memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan estafet kepeloporan yang telah dibangun sejak awal berdirinya S1 SaIG sebagai yang pertama di Indonesia.