Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
KETIKA TOGA BERCERITA DAN PETA TERCIPTA: CATATAN SEORANG MAHASISWA SAIG

Penulis: Mohammad Fikri Irvan (SaIG, 2009595)

Penyunting: Felicia Syifa' Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Udara pagi tampak tenang dan dingin; langit biru dengan pancaran soga matahari merekah di atas Universitas Pendidikan Indonesia. Semua larut dalam sukacita karena pada hari ini, sebanyak 1.793 mahasiswa di hari Minggu, 10 Mei 2026 merayakan akhir dari ketekunannya menuntaskan problem fenomena sekitar secara ilmiah, sehingga kini mereka menyandang status sebagai lulusan cendekiawan. Perayaan wisuda gelombang 2 itu turut saya rasakan. Bersama rekan-rekan lainnya, kami berkumpul, bersua, dan menyerukan yel-yel sekeras-kerasnya untuk Prodi SaIG tercinta—yang telah menjadi rumah tempat kami berlabuh.

Namun, di balik tali toga yang dipindahkan ke kanan dengan air muka bahagia, ada masa lalu saat kami sempat berada dalam keadaan yang serba ambigu. Masa itu bermula pada hari ketika jiwa dan raga kami luruh dalam kerancuan. Hati kami seakan tertutup awan kelabu karena tidak mengetahui arah yang tepat. Itulah masa ketika kami sebagai mahasiswa terus bertanya, "Penelitianku tentang apa? Rumusan masalahnya apa?" Gejolak kemuraman terasa makin berat ketika tidak ada satu pun kalimat yang tertulis, padahal jari-jemari sudah bersiap di atas keyboard. Pengalaman itulah yang menjadi titik awal saat kami baru ingin memulai penelitian.

Gambar 1. Wisudawan SaIG gelombang II berkumpul di depan gedung UC (sumber: HimaSaIG)

Kapan Memulai?

Kerancuan saat menatap layar kosong tersebut pada dasarnya dialami dan dipahami oleh mahasiswa secara umum. Mencari topik atau judul yang tepat bukanlah hal mudah, dan proses menyusun skripsi acap kali menjadi masa-masa terberat sebagai seorang mahasiswa. Tidak jarang, kami harus berulang kali mengganti judul atau topik saat menyusun proposal penelitian. Hal itu turut terjadi pada saya dan beberapa rekan seangkatan.

Sudah mafhum bahwa judul maupun topik penelitian harus mendapat persetujuan dosen pembimbing melalui berbagai pertimbangan. Pertimbangan tersebut meliputi kebaruan topik, metode atau analisis yang digunakan, kesesuaian dengan bidang keahlian dosen pembimbing, hingga rencana waktu dan lokasi penelitian. Sebagai contoh, berdasarkan pengalaman teman sejawat yang bercerita kepada saya, ada judul yang ditolak karena topiknya sudah usang atau terlalu banyak diteliti oleh orang lain. Alasan lainnya adalah kedalaman metode yang kurang menjawab rumusan masalah, scope penelitian yang tidak familier bagi dosen, hingga lokasi yang sangat jauh atau waktu penelitian yang berlarut-larut tanpa dukungan akomodasi peneliti yang memadai.

Secara pribadi, setidaknya saya sudah dua kali mengganti judul. Judul pertama saya dieliminasi karena topik tersebut belum ada yang mengkaji, berlokasi di daerah konflik, dan bersinggungan dengan dunia intelijen. Sementara itu, judul kedua digagas ulang karena lokasinya terlalu jauh dan perkiraan biaya akomodasi tidak dapat dipenuhi—kecuali jika mendapatkan research funding.

Jika semua kendala tersebut dapat diatasi, tahap penyusunan proposal penelitian tentu dapat dilanjutkan. Memilih topik dan judul yang sesuai dengan preferensi atau passion merupakan salah satu kiat agar proposal penelitian lebih mudah diterima, sekaligus membuat proses penelitian tetap asyik untuk dikerjakan. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk mengambil judul dan topik penelitian berdasarkan bidang yang saya minati dan tetap realistis—yakni memilih lokasi yang dekat serta metode maupun analisis yang familier.

Gambar 2. Dari kari atas (a) & (b) tugas perdana ospek jurusan membuat peta, (c) Teman angkatan sewaktu skripsian bareng, (d) Pengolahan peta tematik (sumber: pribadi)

Dari Passion untuk Penelitian

Skripsi saya tidak jauh dari peta. Memang betul bahwa SaIG mempelajari teknik pemetaan, analisis spasial, dan output-nya adalah peta. Peta yang saya tuju secara spesifik adalah desain peta tematik: kartografi. Kartografi adalah gabungan antara seni dan ilmu pasti dalam teknik membuat peta. Saya telah jatuh cinta dengan peta sejak kecil: warna, bentuk topografi, serta sebaran nama negara dan kota selalu memikat mata sehingga saya dapat berlama-lama memandang atlas.

Ketika mendapat tugas membuat atlas di SMA pada pelajaran geografi atau tugas ospek jurusan, saya sangat menikmati dan membanggakan hasil mahakarya kreativitas saya di atas kertas kalkir—bahkan, saya meraih juara peta terbaik. Pada ajang perlombaan geografi-SIG tingkat kampus maupun antaruniversitas, saya turut menyumbangkan achievement di bidang kartografi. Kilas balik inilah yang menjadi renungan saya untuk mengambil judul penelitian yang berkaitan dengan peta. Saya kembali menyadari bahwa jika dikerjakan sesuai passion, penelitian dapat diselesaikan dengan lebih mudah. Maka dari itu, penelitian saya berfokus pada merancang desain peta tematik.

Bagaimana semua berjalan?

Perjalanan menulis skripsi adalah bagian bersejarah yang penting bagi mahasiswa. Alur fluktuatif yang dilalui oleh masing-masing mahasiswa tentu berbeda, dan semuanya memiliki makna tersendiri. Starting point saya bermula ketika saya memfokuskan seluruh daya secara penuh pada tugas akhir, setelah sebelumnya sempat menunda karena beberapa kali magang dan bekerja yang sudah cukup memberikan pengalaman. Karena tema dan judul penelitian sesuai dengan passion, daftar bacaan untuk penulisan draft sempro pun sudah saya siapkan sejak awal.

Di sisi lain, saya telah mengunjungi lokasi penelitian dan bertemu dengan pihak-pihak terkait, sehingga hal ini mempermudah saya dalam menemukan gap penelitian, mengurus perizinan, dan mendapatkan temuan terbaru yang tidak ada di dalam buku panduan. Proses tersebut terus berlanjut hingga tahap sidang. Kebuntuan atau kendala biasanya terjadi pada hal-hal kecil, seperti penentuan indikator penilaian yang harus digunakan, atau mengorelasikan suatu gagasan agar sejalan dengan temuan, metode analisis, rumusan masalah, dan tujuan. Solusinya adalah mencari referensi tambahan dengan trik pencarian Google Search dan membaca kembali paragraf-paragraf tersebut secara paralel. Selain itu, cara terbaik lainnya adalah memperbanyak sesi konsultasi dan bimbingan bersama dosen pembimbing. Berdasarkan timeline pengerjaan tugas akhir, saya ternyata mampu menyelesaikan skripsi dari nol—sebelum sempro—hingga sidang dengan cepat! Setidaknya, proses itu rampung pas dalam waktu satu semester atau enam bulan.

Skrispi untuk Generasi Selanjutnya

Petuah orang bijak yang mengatakan bahwa "skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai" memang betul adanya. Skripsi atau tugas akhir sepenuhnya menjadi tanggung jawab mahasiswa, karena di balik karya tersebut, terdapat gambaran dari akumulasi pengetahuan selama menempuh pendidikan dan pergumulan ideologi yang dituangkan kalimat demi kalimat. Oleh karena itu, salah satu bukti seseorang telah mengenyam pendidikan adalah warisannya dalam menulis—yang mana skripsi merupakan salah satu bentuknya. Mari kita memandang skripsi sebagai suatu karya tulis ilmiah yang patut diperlakukan dengan hormat melalui perjuangan mandiri.

Dewasa ini, akal imitasi makin berkembang pesat dan mulai menggantikan peran-peran manusia. Jangan pernah menyerahkan peran kita kepada akal imitasi untuk menulis skripsi sepenuhnya, dan jangan pula cepat menyerah lalu membiarkan akal imitasi menyusun kalimat kosong tiada arti serta data yang ngawur. Gunakan AI secukupnya hanya sebagai asisten pembantu. Selain AI, jangan tergoda untuk menggunakan jasa joki skripsi yang menggiurkan. Pada akhirnya, dosen lebih berwawasan daripada mahasiswa dan akan selalu mengetahui mana mahasiswa yang menggunakan joki maupun yang menulis sendiri. Lantas, apakah rela membiarkan uang melayang sia-sia?

Jika gajah mati meninggalkan gading, maka manusia meninggalkan nama. Pepatah itu menjadi motivasi bagi saya untuk memberikan kontribusi kepada Prodi SaIG. Melalui runtutan sejarah yang saya ciptakan sendiri, walau kini telah menjadi alumni, terdapat karya yang telah saya sumbangkan untuk SaIG. Pada saat arak-arakan menuju prodi, bendera putih dengan logo HIMA SaIG terbentang lebar. Di titik itulah saya merasa bangga karena akhirnya dapat berdiri di depan logo hasil ciptaan saya. Selain itu, di dinding laboratorium geografi teknik pada jajaran galeri peta, saya pernah memajang hasil peta tematik "Sebaran Konflik Agama di Indonesia" ketika masih menjadi mahasiswa tahun kedua. Kemudian, ada pula piala juara lomba kartografi tingkat nasional yang saya persembahkan untuk SaIG. Hal yang tidak kalah mengharukan adalah keberadaan dua papan denah di gapura pintu utara dan pintu utama UPI. Peta petunjuk kampus UPI Bumi Siliwangi tersebut merupakan hasil rembuk ide mahasiswa lintas prodi (SaIG, Pe. Geo, SPIG) dalam ajang perlombaan desain peta kampus tahun 2024, di mana saya turut terlibat dan meraih juara kedua. Maka, sudah seyogianya kita memberikan hasil karya terbaik untuk kampus dan Prodi SaIG, sehingga mampu terus mengharumkan nama SaIG dalam bentuk apapun itu.

Gambar 3. Dari atas (a) Angkatan 2020 berfoto dengan kaprodi SaIG, Bapak Lili & Pak Ihsan. (b) Para mahasiswa di acara yudisium (sumber: istimewa)

Ucapan Terima Kasih

Perjalanan meraih cita-cita wisuda ini dapat saya maknai secara lebih dalam. Segala rintangan dan perjalanan itu tidaklah mungkin bisa saya hadapi seorang diri. Ada orang-orang spesial di samping saya yang bermurah hati memberikan dukungan selama proses menulis skripsi. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak dan Ibu. Segala kasih sayang yang mereka curahkan dengan tulus menjadi pendorong sekaligus bahan bakar saya untuk menyelesaikan pendidikan. Bersama doa-doa yang mereka panjatkan, Tuhan pun senantiasa memberikan keberkahan-Nya.

Terima kasih banyak dan salam hormat juga saya sampaikan kepada orang tua kedua saya di kampus: dosen pembimbing akademik, dosen pembimbing pertama, sekaligus kepala prodi saya, Bapak Lili Somantri. Melalui kebijaksanaannya, saya diberikan kemudahan dalam menyusun skripsi. Tanpa restu dan kebaikan beliau, tidak mungkin saya bisa mengenakan toga. Nasihat dan masukan dari beliau akan selalu saya ingat serta laksanakan. Kemudian, kepada dosen pembimbing kedua, Ibu Siti Zahrotunisa, saya turut mengucapkan terima kasih karena telah mendorong dan membimbing penyusunan tugas akhir ini dari awal hingga usai. Beliau selalu sabar mengawal proses kepenulisan serta progres bertahap yang saya kerjakan.

Tidak lupa, saya ucapkan terima kasih kepada para dosen penguji skripsi yang telah memberikan catatan dan saran ketika sidang, sehingga tugas akhir saya dapat mencapai hasil yang terbaik. Kepada Bapak Fahrurozie Hatta, saya mengucapkan terima kasih karena berkenan membantu memberikan masukan dalam merancang peta wisata, serta menyediakan informasi kesejarahan dan pariwisata Banten Lama. Terakhir, terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, baik teman maupun responden, yang telah sudi bertukar pikiran, menemani waktu skripsian, serta memberikan masukan terhadap peta tematik yang saya kerjakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *