Disusun Oleh: Annisa Amaanah (SaIG, 2207689)
Disunting Oleh: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Setiap perjalanan besar hampir selalu dimulai dari hal kecil yang sering kali tidak disadari saat itu. Begitu pula dengan perjalanan skripsi ini. Jika ditarik ke belakang, tidak ada momen dramatis yang langsung mengubah arah hidup secara tiba-tiba. Yang ada justru proses bertahap, dari ketertarikan sederhana terhadap isu kebumian hingga akhirnya menjadi sebuah penelitian yang harus diselesaikan secara akademik.

Dok. Penulis
Ide awal skripsi ini tidak lahir di ruang kelas, tidak pula dari diskusi formal yang terstruktur, melainkan muncul saat menjalani program magang di Tim Kerja Patahan Aktif di Pusat Survei Geologi. Pada saat itu, banyak hal baru yang dipelajari langsung dari dunia kerja profesional, khususnya terkait bagaimana data geologi, struktur patahan, dan informasi kebencanaan dapat digunakan dalam merancang upaya mitigasi bencana melalui kajian bahaya hingga risiko. Dari proses observasi tersebut, muncul ketertarikan untuk memahami lebih dalam bagaimana aspek kebumian dapat diintegrasikan dengan dinamika ruang manusia, terutama pada kawasan yang terus berkembang seperti Bogor Raya. Kawasan yang tidak hanya berkembang secara fisik melalui pembangunan, tetapi juga memiliki kerentanan terhadap potensi bencana geologi, khususnya gempa bumi. Dari sinilah benih ide skripsi mulai tumbuh. Perlahan, konsep yang awalnya hanya berupa ketertarikan berubah menjadi gagasan penelitian yang lebih terarah, yaitu mengkaji keterkaitan antara lahan terbangun dan zona bahaya gempa bumi dengan pendekatan Earthquake Potential Index (EPI).
Setelah masa magang berakhir, proses yang sebenarnya justru baru dimulai. Dengan semangat yang masih segar, penyusunan proposal skripsi mulai dilakukan. Namun, pada tahap ini mulai terasa bahwa penelitian bukan sekadar menuangkan ide, melainkan menyusun struktur berpikir yang sistematis, logis, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Menggabungkan konsep lahan terbangun dengan analisis kebencanaan bukanlah hal yang sederhana. Diperlukan pemahaman tentang geospasial, metode analisis risiko, serta pengolahan data yang cukup kompleks. Banyak waktu dihabiskan untuk membaca literatur, memahami metode, serta menyesuaikan antara ketersediaan data dan tujuan penelitian. Tidak jarang proses ini diwarnai kebingungan. Ada saat di mana arah penelitian terasa terlalu luas, ada pula saat di mana metode yang direncanakan terasa tidak cukup kuat untuk menjawab permasalahan. Namun, justru dari proses inilah pemahaman akademik mulai terbentuk secara perlahan. Dengan bimbingan dari dosen pembimbing akademik, Bapak Haikal M. Ihsan, S.Pd., M.Sc., proses ini akhirnya mulai menemukan bentuk yang lebih jelas. Setiap revisi proposal menjadi bagian penting dalam menyempurnakan arah penelitian. Hingga akhirnya, pada Juli 2025, proposal dengan judul Pemetaan Sebaran Lahan Terbangun Berdasarkan Zona Bahaya Gempa Bumi Dengan Integrasi Earthquake Potential Index (EPI) di Bogor Raya berhasil diseminarkan.
Momen seminar proposal ini menjadi titik penting, karena menandai bahwa penelitian ini tidak lagi sekadar ide, tetapi sudah masuk ke tahap formal sebagai sebuah karya ilmiah yang harus diselesaikan. Setelah seminar proposal, banyak orang mengira bahwa tahap selanjutnya hanyalah melaksanakan penelitian hingga selesai. Namun kenyataannya, justru di sinilah perjalanan paling panjang dan paling menantang dimulai. Pengumpulan data, pengolahan data spasial, analisis, hingga penyesuaian metode menjadi rangkaian proses yang tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya data yang dibutuhkan tidak sesuai harapan, ada kalanya metode yang digunakan perlu diubah, dan ada pula saat di mana hasil analisis tidak menunjukkan pola yang diharapkan. Di titik inilah tantangan terbesar muncul. Fase merasa “tersesat” menjadi bagian yang hampir tidak terhindarkan dalam proses skripsi. Ada saat di mana semangat menurun, ide terasa buntu, dan progres penelitian berjalan sangat lambat. Bahkan untuk memulai satu langkah kecil pun terasa berat. Hal ini khususnya terjadi sebelum proses validasi data lapangan, sempat overthinking mengenai apakah akan sanggup pergi ke area yang sangat luas dan jauh. Namun, setelah dilakukan hal itu ternyata membawa pengalaman luar biasa menyenangkan dengan berpetualang menjelajahi tempat-tempat baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Fase-fase tersebut membawa pembelajaran yang tidak pernah tertulis. Bahwa penelitian bukan tentang selalu benar, tetapi tentang bagaimana memperbaiki kesalahan. Bahwa revisi bukan tanda kegagalan, tetapi bagian dari proses penyempurnaan. Dan bahwa diam sejenak bukan berarti berhenti, tetapi memberi ruang untuk berpikir ulang. Dengan dukungan dari dosen pembimbing, teman seperjuangan, serta lingkungan sekitar, proses ini perlahan dapat dilanjutkan kembali. Setiap revisi yang diberikan bukan hanya koreksi, tetapi juga bentuk arahan untuk memperkuat kualitas penelitian.
Setelah melalui berbagai dinamika panjang, tibalah pada tahap yang paling ditunggu sekaligus paling menegangkan, yaitu sidang skripsi. Pada tanggal 22 April 2026, sidang akhirnya dilaksanakan. Suasana hari itu tidak dapat digambarkan hanya dengan satu emosi. Ada rasa tegang, harap, lega, sekaligus bangga yang bercampur menjadi satu. Apalagi sidang dilakukan bersama teman-teman seperjuangan yang juga berada di titik yang sama dalam perjalanan akademiknya. Setiap pertanyaan dari penguji menjadi refleksi dari seluruh proses yang telah dilalui. Tidak hanya menguji pemahaman terhadap isi penelitian, tetapi juga menguji sejauh mana proses berpikir dan pemahaman terhadap bidang yang dipelajari selama masa perkuliahan. Di momen itu, semua perjalanan panjang terasa seperti diputar ulang dalam hitungan menit mulai dari ide awal, proses penyusunan proposal, revisi tanpa henti, hingga malam-malam panjang yang dihabiskan untuk menyelesaikan analisis. Sidang bukan hanya tentang lulus atau tidak lulus, tetapi tentang pembuktian bahwa proses panjang yang telah dilalui benar-benar memiliki makna. Setelah sidang, perjalanan belum benar-benar selesai. Masih ada revisi akhir yang harus diselesaikan. Namun, fase ini terasa berbeda. Tidak lagi dipenuhi kebingungan yang sama seperti sebelumnya, melainkan dijalani dengan rasa yang lebih tenang dan terarah. Jika sebelumnya revisi terasa sebagai tekanan, kini revisi justru menjadi langkah terakhir menuju penyelesaian. Setiap perbaikan yang dilakukan bukan lagi beban, melainkan bagian dari penyempurnaan akhir menuju gelar Sarjana Geografi (S.Geo). Di titik ini, mulai disadari bahwa skripsi bukan sekadar tugas akhir. Ia adalah proses panjang pembentukan diri. Proses yang mengajarkan bahwa hasil besar selalu datang dari ketekunan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Di tengah proses-proses yang dinamis, keberadaan teman membawa suasana lain dalam proses pengerjaan skripsi. Meskipun tidak selalu setiap hari, teman-teman yang selalu membersamai skripsi menjadi partner diskusi, bertukar pikiran, dan tempat menuangkan seluruh cerita yang dialami. Pengerjaan skripsi menjadi terasa lebih baik dan ringan dengan keberadaan mereka. Dukungan-dukungan yang diberikan menjadi suatu hal tersendiri yang tersimpan di tempat khusus, untuk Ai, Desviana, Azra, Disha, Devina, dan Auliya terima kasih untuk kalian atas waktu, dukungan, dan ruang yang telah menjadi tempat terbaik dalam membersamai proses ini, serta Amanda yang juga membersamai dalam berpetualang mengakuisisi data lapangan. Semoga keberkahan, rejeki, kesehatan, keselamatan, dan segala kebaikan selalu menyertai setiap langkah kalian.

Dok. Penulis
Dari seluruh perjalanan ini, terdapat banyak pelajaran yang dapat diambil. Salah satu yang paling penting adalah bahwa proses tidak selalu berjalan linear. Ada saat di mana semuanya terasa lancar, tetapi ada pula masa stagnan yang menguji kesabaran dan ketahanan diri. Skripsi juga mengajarkan pentingnya disiplin dan konsistensi. Bahwa kemajuan tidak selalu terlihat besar setiap hari, tetapi akumulasi dari langkah-langkah kecil akan membawa perubahan besar pada akhirnya. Selain itu, skripsi juga menjadi ruang pembelajaran tentang bagaimana menghadapi tekanan, menerima kritik, dan mengelola emosi dalam situasi akademik yang menantang. Kemampuan untuk tetap melanjutkan proses meskipun mengalami kesulitan menjadi salah satu pembelajaran paling berharga.
Untuk adik tingkat yang akan atau sedang menjalani proses ini, skripsi mungkin terlihat menakutkan. Ya benar, itu tidak sepenuhnya salah, namun, berdiri diatas rasa takut itu jauh lebih hebat dan menyenangkan. Skripsi pada akhirnya merupakan proses yang harus dijalani langkah demi langkah, tidak harus berlari dan tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai, perjalanan dalam menekuni prosesnya akan membantu membentuk kesempurnaan itu sendiri. Akan ada masa sulit, akan ada rasa ingin menyerah, tetapi semua itu adalah bagian yang akan membentuk ketahanan diri, yang terpenting adalah terus bergerak, sekecil apa pun langkahnya. Karena diam terlalu lama hanya akan membuat proses terasa semakin berat. Overthinking? Itu pasti. Tapi, kalau tidak dieksekusi hal itu justru hanya akan mempengaruhi untuk menunda dan menimbulkan stress, yang akhirnya menjadi pembelaan untuk tidak melakukan apa-apa. Sesedikit satu kata pun yang dituangkan itu adalah bagian dari progres yang berarti, jadi meskipun sedikit, jika konsisten semua akan berjalan lebih baik daripada tidak memulai sama sekali. Setidaknya ketika mencoba, kita tahu sejauh mana kemampuan yang dimiliki dapat diasah.
Pada akhirnya, perjalanan ini tidak dapat diselesaikan sendirian. Oleh karena itu, ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Program Studi Sains Informasi Geografi, Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Sc. selaku Ketua Prodi SaIG yang telah memberikan arahan sejak awal perkuliahan mulai dari kiat-kiat menjalani proses perkuliahan dengan baik, pentingnya lulus tepat waktu, dan senantiasa memberikan bantuan saat memerlukan bimbingan terkait perkuliahan di SaIG. Dosen pembimbing akademik Bapak Haikal M. Ihsan, S.Pd., M.Sc. yang telah menjadi orang tua selama perkuliahan yang selalu bersedia memotivasi dan membimbing setiap rencana dalam perkuliahan termasuk pula selama penyusunan awal skripsi hingga dapat diseminarkan. Dosen pembimbing skrispi yang senantiasa hadir kapanpun bimbingan dibutuhkan, Bapak Hendro Murtianto, S.Pd., M.Sc., dengan bimbingan serta motivasi untuk senantiasa mengerjakan tugas akhir ini dengan baik dan setiap solusi yang diberikan dalam setiap kebuntuan yang didapatkan. Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T., yang juga memberikan arahan, bersedia memberikan ilmu pengetahuan yang berharga melalui saran-saran serta memperluas wawasan penulis, dan kesabaran selama proses penyusunan skripsi ini. Serta seluruh dosen pengajar di Prodi SaIG yang telah membimbing saya sejak awal perkuliahan hingga akhir dengan ilmu-ilmunya yang luar biasa. Terima kasih atas setiap bimbingan, revisi, kritik, dan masukan yang tidak hanya memperbaiki dan untuk penelitian ini saja, tetapi juga membentuk cara berpikir, kedewasaan, dan ketekunan dalam menjalani proses akademik. Setiap ilmu yang diberikan menjadi bagian penting dari perjalanan ini, dan akan menjadi bekal berharga untuk langkah selanjutnya di masa depan. Akhirnya, perjalanan skripsi ini bukan hanya tentang menyelesaikan sebuah tugas akhir akademik, tetapi tentang perjalanan menemukan versi diri yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih siap menghadapi tantangan berikutnya. Dari sebuah ide kecil saat magang, hingga berdiri di ruang sidang pada April 2026, semuanya adalah bagian dari cerita yang akan selalu dikenang sebagai proses pendewasaan yang utuh.

Dok. Penulis
