Penulis : Helma Nur Alviani (SaIG, 2206839)
Penyunting : Farrelius Simeon (SaIG, 2509009)

Dok. Penulis
Tanggal 22 Mei 2026 menjadi salah satu hari yang akan selalu saya simpan baik-baik dalam ingatan. Pada hari itu, nama “Helma Nur Alviani, S.Geo.” resmi disahkan dalam yudisium Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia. Di ruangan yang dihadiri oleh dosen-dosen Program Studi Sains Informasi Geografi serta beberapa rekan seperjuangan lainnya, saya duduk dengan perasaan yang sulit dijelaskan melalui kata-kata. Bahagia, lega, terharu, bangga, sekaligus tidak percaya. Semua rasa bercampur menjadi satu.
Selama ini saya selalu membayangkan bahwa kebahagiaan terbesar akan datang ketika akhirnya dinyatakan lulus. Namun ketika momen itu benar-benar tiba, saya justru lebih banyak diam dan merenung. Rasanya seperti sedang melihat kembali perjalanan panjang yang telah membawa saya sampai ke titik ini. Perjalanan yang ternyata tidak sesingkat yang dulu saya bayangkan. Ketika nama saya dipanggil dan gelar Sarjana Geografi resmi disematkan di belakang nama saya, ada jeda beberapa detik di mana saya hanya tersenyum kecil sambil menahan rasa haru. Dalam hati saya berkata pelan, “Helma, akhirnya kamu sampai juga.”

Dok. Penulis
Setelah acara yudisium selesai, orang pertama yang langsung saya hubungi tentu saja kedua orang tua saya. Saya mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada mereka. Terima kasih karena telah percaya, mendukung, dan membersamai saya sampai sejauh ini. Di balik gelar yang saya dapatkan hari itu, ada doa-doa panjang yang tidak pernah berhenti dipanjatkan oleh mereka. Saat itu saya menyadari satu hal sederhana: gelar ini memang melekat atas nama saya, tetapi perjuangan untuk mendapatkannya tidak pernah saya lalui sendirian.
Menariknya, setelah semuanya selesai, saya tidak langsung memikirkan pekerjaan atau pencapaian besar berikutnya. Pikiran saya justru terasa jauh lebih tenang. Rasanya seperti ada beban panjang yang akhirnya dilepaskan perlahan. Saya hanya ingin menikmati proses ini sejenak sambil mempersiapkan langkah-langkah baru yang sudah saya rancang untuk masa depan. Namun di tengah rasa lega tersebut, saya juga sadar bahwa perjalanan kuliah ternyata meninggalkan begitu banyak pelajaran hidup yang jauh lebih besar daripada sekadar nilai, IPK, atau gelar akademik. Dan mungkin, itulah hal paling berharga yang saya dapatkan selama menjadi mahasiswa.
Jauh sebelum mengenal penelitian, sidang, revisi, ataupun yudisium, saya hanyalah seorang mahasiswa baru yang datang ke Bandung dengan penuh rasa penasaran dan ketakutan. Sejujurnya, kecintaan saya terhadap geografi sudah tumbuh sejak kecil. Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya sangat tertarik melihat atlas dan peta dunia. Saya senang memandangi berbagai negara, wilayah, bentuk muka bumi, serta karakteristik tempat-tempat yang berbeda. Dari sana, ketertarikan itu terus berkembang hingga akhirnya saya semakin mencintai pelajaran IPS dan Geografi saat sekolah menengah. Ketika mengikuti olimpiade geografi dan mendapatkan pengalaman yang begitu menyenangkan, saya semakin yakin bahwa bidang ini adalah sesuatu yang benar-benar ingin saya pelajari lebih dalam.
Karena itu, ketika mencari jurusan kuliah, saya tidak terlalu bimbang. Saya tahu bahwa saya ingin tetap berada di dunia geografi. Hingga akhirnya saya menemukan Program Studi Sains Informasi Geografi, sebuah program studi yang terasa sangat dekat dengan minat saya terhadap pemetaan, analisis wilayah, dan teknologi geospasial. Namun ternyata, menjadi mahasiswa tidak semudah yang saya bayangkan.
Di semester-semester awal, saya sering merasa bingung. Banyak mata kuliah terdengar asing bagi saya. Saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, kota baru, sistem belajar baru, dan orang-orang baru. Sebagai mahasiswa rantau, ada masa-masa di mana saya merasa benar-benar sendiri. Saya juga pernah mempertanyakan kemampuan diri sendiri ketika melihat teman teman lain terlihat jauh lebih mahir, lebih cepat memahami materi, dan lebih percaya diri. Ada kalanya saya merasa tertinggal. Tetapi perlahan saya belajar bahwa dunia perkuliahan bukan tentang siapa yang paling cepat memahami semuanya. Kuliah adalah proses panjang untuk bertumbuh. Saya mulai memahami bahwa rasa bingung ternyata adalah bagian yang sangat manusiawi dalam proses belajar.
Selama kuliah, saya menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana yang telah kita susun dengan rapi. Ada banyak hal yang ternyata berubah di tengah perjalanan. Salah satu tantangan terbesar selama kuliah adalah belajar menghadapi tekanan akademik sambil terus berusaha berkembang di lingkungan yang dipenuhi orang-orang hebat. Menjadi mahasiswa Sains Informasi Geografi membuat saya terus belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Di tengah berbagai tekanan tersebut, saya bersyukur dipertemukan dengan banyak orang baik. Keluarga saya selalu mendukung tanpa memberikan tekanan berlebihan. Teman-teman saya juga menjadi tempat pulang yang sangat berarti. Kami saling menguatkan, saling membantu, dan saling mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar berjalan sendirian. Saya belajar bahwa hidup tidak selalu meminta kita untuk menjadi sempurna. Terkadang hidup hanya meminta kita untuk tetap bertahan dan terus mencoba.
Jika ada satu hal yang benar-benar saya pelajari selama kuliah, maka itu adalah bahwa motivasi tidak selalu hadir setiap hari. Ada masa-masa di mana saya merasa sangat semangat mengejar banyak hal. Namun ada juga hari-hari ketika saya merasa lelah, burnout, kehilangan arah, dan ingin berhenti sejenak. Tugas yang menumpuk, revisi yang terus datang, timeline yang berubah, serta ekspektasi terhadap diri sendiri terkadang terasa begitu melelahkan.
Namun pada akhirnya, saya memahami bahwa yang membuat seseorang sampai pada tujuan bukanlah motivasi besar yang sesekali muncul, melainkan konsistensi kecil yang terus dijaga setiap hari. Tetap membuka laptop meskipun lelah. Tetap datang bimbingan meskipun overthinking. Tetap mencoba lagi meskipun hasil sebelumnya belum sesuai harapan. Hal-hal kecil itulah yang ternyata membawa saya sampai sejauh ini.
Dulu saya sering berpikir bahwa menjadi mahasiswa yang baik berarti harus selalu produktif, selalu berhasil, dan selalu memenuhi ekspektasi. Namun semakin lama saya menjalani perkuliahan, semakin saya memahami bahwa hidup tidak bekerja seperti itu. Saya pernah melakukan kesalahan. Pernah merasa tidak cukup baik. Pernah merasa tertinggal. Pernah kecewa pada diri sendiri. Tetapi perlahan saya belajar menerima bahwa bertumbuh memang membutuhkan proses. Tidak apa-apa jika kita belum sehebat orang lain hari ini. Tidak apa-apa jika perjalanan kita terasa lebih lambat. Tidak apa-apa jika ternyata realita tidak selalu sesuai ekspektasi. Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Salah satu pelajaran paling penting yang saya dapatkan selama kuliah adalah bahwa manusia tidak diciptakan untuk berjalan sendirian. Di balik perjalanan ini, ada begitu banyak orang yang membantu saya. Teman-teman dekat saya menjadi support system yang luar biasa. Mereka hadir bukan hanya saat keadaan baik-baik saja, tetapi juga ketika saya merasa kehilangan semangat. Dari dosen pembimbing, saya belajar tentang konsistensi, disiplin, dan komitmen terhadap proses. Dari teman-teman, saya belajar tentang kebersamaan dan pentingnya saling merangkul. Saya mulai memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Justru keberanian untuk meminta bantuan adalah bentuk kedewasaan.
Ada satu fase dalam perjalanan kuliah yang paling menguras mental saya, yaitu ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai timeline. Saya pernah memiliki target-target tertentu yang ternyata tidak tercapai sesuai rencana. Saya pernah merasa sedih ketika harus menerima kenyataan bahwa beberapa hal membutuhkan waktu lebih lama dari yang saya harapkan.
Menunggu ACC, menunggu revisi, menunggu jadwal sidang, hingga menghadapi perubahan timeline menjadi pengalaman yang sangat mengajarkan saya tentang kesabaran. Dari sana saya belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus seperti yang kita rencanakan. Kadang kita harus berhenti sejenak. Kadang kita harus mengubah strategi. Kadang kita hanya perlu bertahan sedikit lebih lama. Dan ternyata, semua itu tidak membuat perjalanan kita menjadi gagal.
Jika dibandingkan dengan diri saya saat semester satu, mungkin yang paling berubah bukan hanya kemampuan akademik atau keterampilan teknis saya. Cara saya memandang hidup pun ikut berubah. Saya menjadi pribadi yang lebih tenang dalam menghadapi masalah. Lebih mampu menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Lebih memahami bahwa setiap orang memiliki timeline yang berbeda.
Dulu saya sering merasa tertinggal ketika melihat orang lain berjalan lebih cepat. Namun sekarang saya memahami bahwa hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang bagaimana kita mampu terus berjalan sampai tujuan. Selama kuliah, saya belajar banyak keterampilan baru. Saya belajar tentang teknologi geospasial, penelitian, analisis data, hingga cara berpikir kritis dan sistematis.
Namun lebih dari itu semua, saya belajar menjadi manusia yang lebih dewasa. Saya belajar bagaimana menghadapi tekanan tanpa harus kehilangan diri sendiri. Saya belajar bagaimana menerima kegagalan tanpa membenci diri sendiri. Saya belajar bahwa rasa takut tidak selalu berarti kita harus berhenti melangkah. Dan mungkin, itulah hadiah terbesar dari seluruh perjalanan ini.

Dok. Penulis
Saya juga menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan terasa sama tanpa kehadiran para dosen yang selama ini membersamai proses saya. Ada banyak hal yang mungkin dulu terasa berat, membingungkan, bahkan melelahkan, tetapi sekarang justru menjadi bagian yang paling saya syukuri. Dari para dosen, saya tidak hanya belajar tentang teori dan keilmuan geografi, tetapi juga tentang bagaimana menjadi seseorang yang disiplin, bertanggung jawab, dan terus mau berkembang. Ada banyak nasihat sederhana yang mungkin saat itu terasa biasa saja, namun, perlahan menjadi pelajaran yang sangat berarti ketika saya benar-benar menghadapi dunia perkuliahan dan proses kehidupan.
Untuk dosen pembimbing saya, Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. dan Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T., saya selalu merasa bahwa proses bimbingan skripsi bukan hanya tentang memperbaiki penelitian, tetapi juga tentang belajar menghadapi proses panjang dengan lebih dewasa. Dari proses itu saya belajar bahwa sebuah penelitian yang baik tidak lahir secara instan, melainkan melalui revisi, konsistensi, komitmen, dan kesabaran yang terus diulang setiap minggunya. Ada masa-masa ketika saya overthinking terhadap penelitian saya sendiri, merasa takut salah, atau merasa penelitian saya belum cukup baik. Namun perlahan saya belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan berarti harus langsung sempurna, karena proses belajar memang selalu dipenuhi ruang untuk bertanya, salah, lalu memperbaiki kembali.
Untuk teman-teman SaIG angkatan 2022, terima kasih karena telah menjadi bagian paling hangat dalam perjalanan ini. Jika dipikir-pikir lagi, mungkin yang paling akan saya rindukan dari dunia kuliah bukan hanya ruang kelas atau tugas-tugasnya, tetapi orang-orang yang tumbuh bersama saya selama beberapa tahun terakhir. Terima kasih untuk setiap obrolan sebelum kelas dimulai, diskusi mendadak saat tugas menumpuk, perjuangan praktikum, kepanikan menghadapi deadline, perjalanan kegiatan lapangan, hingga tawa-tawa sederhana yang dulu terasa biasa saja namun sekarang justru terasa sangat berharga. Saya bersyukur pernah berada di lingkungan yang saling merangkul dan saling menguatkan, karena tanpa disadari hal-hal kecil seperti itu ternyata sangat membantu seseorang untuk tetap bertahan menjalani proses panjang di bangku perkuliahan.
Dan untuk keluarga saya, mungkin tidak akan pernah ada kata yang benar-benar cukup untuk menggambarkan rasa terima kasih ini. Di balik gelar yang sekarang melekat di belakang nama saya, ada doa-doa panjang yang tidak pernah berhenti dipanjatkan oleh kedua orang tua saya. Ada dukungan yang terus diberikan bahkan ketika saya sendiri sedang merasa lelah dan meragukan kemampuan diri sendiri. Saya menyadari bahwa perjalanan ini mungkin terasa berat bagi saya, tetapi orang tua saya pun pasti ikut lelah memikirkan banyak hal selama proses saya kuliah. Karena itu, salah satu kebahagiaan terbesar ketika akhirnya dinyatakan lulus adalah melihat mereka ikut merasa bangga dan lega. Sampai hari ini saya masih percaya bahwa salah satu alasan terbesar saya mampu sampai sejauh ini adalah karena saya selalu memiliki tempat untuk pulang, tempat untuk dikuatkan, dan tempat untuk dipercaya bahkan ketika saya belum sepenuhnya percaya pada diri saya sendiri.
Jika saya bisa kembali menemui diri saya di semester satu, mungkin saya hanya ingin berkata: “Tidak apa-apa jika kamu belum tahu semuanya hari ini.” Tidak apa-apa jika perjalananmu terasa lambat. Tidak apa-apa jika kamu sering merasa bingung. Tidak apa-apa jika kamu belum menjadi versi terbaik dirimu sekarang. Kuliah bukan tentang siapa yang paling cepat, paling sempurna, atau paling hebat. Kuliah adalah proses panjang untuk bertumbuh.
Untuk adik-adik tingkat yang sedang berjuang, jangan terlalu sibuk membandingkan timeline hidupmu dengan orang lain. Setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Jangan takut mencoba. Jangan takut salah. Jangan takut bertanya. Bangun hubungan baik dengan dosen dan teman-temanmu. Karena suatu hari nanti, kamu akan menyadari bahwa perjalanan kuliah menjadi jauh lebih ringan ketika dijalani bersama orang-orang baik. Dan yang paling penting, jangan menyerah hanya karena perjalananmu terasa berat hari ini. Percayalah, semua proses ini suatu saat akan menjadi cerita yang membuatmu bangga telah bertahan sejauh ini.
Saya memulai perjalanan ini dengan mencari koordinat untuk sampai pada sebuah tujuan. Dulu saya berpikir bahwa gelar S.Geo adalah titik akhir yang harus segera dicapai. Saya mengira kebahagiaan terbesar hanya akan datang ketika akhirnya dinyatakan lulus. Namun ketika akhirnya sampai di titik ini, saya menyadari bahwa hal paling berharga ternyata bukan hanya gelarnya. Melainkan versi diri yang terbentuk selama proses menuju ke sana. Perjalanan ini mengajarkan saya tentang kesabaran, konsistensi, keberanian, rasa syukur, dan arti bertahan ketika keadaan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Saya belajar bahwa hidup tidak harus selalu sempurna untuk tetap bisa berjalan baik. Dan mungkin, itulah makna paling penting yang saya temukan selama perjalanan ini. Bahwa pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai pada tujuan. Tetapi tentang bagaimana kita menemukan alasan untuk terus melangkah, bahkan ketika jalannya terasa panjang dan melelahkan. Karena ternyata, gelar hanyalah hasil akhir. Sedangkan proses bertumbuh selama menjalaninya adalah hadiah yang sesungguhnya.

Dok. Penulis
