Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
“Wilayah Karst dan Non-Karst: Mengidentifikasi Permasalahan Sumber Daya Air dan Strategi Adaptasi Masyarakat di Kabupaten Gunungkidul”

KKL TAHAP 2 PENDIDIKAN GEOGRAFI ANGKATAN 2024

Dari Muhamad Farel Algifari dengan NIM 2400419 selaku Ketua Pelaksana

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) - merupakan salah satu pilar krusial dalam mentransformasikan teori-teori ruang dan geosfer dari meja perkuliahan menuju realitas empiris di lapangan. Pada tanggal 3 hingga 7 Mei 2026, sebanyak 82 mahasiswa Program Studi Pendidikan Geografi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Angkatan 2024, didampingi oleh 5 dosen pembimbing, telah sukses melaksanakan kegiatan KKL Tahap 2 di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai Ketua Pelaksana, ada tanggung jawab besar yang harus dipikul di pundak, membawa rombongan sebanyak 82 orang untuk membandingkan dua wilayah yang karakternya bertolak belakang. Kapanewon Tanjungsari sebagai wilayah karst, dan Kapanewon Ponjong sebagai wilayah non-karst, Tema utama yang kami bawa adalah melihat bagaimana perbedaan ketersediaan air di kedua tempat tersebut dan bagaimana masyarakatnya beradaptasi.

Pemilihan Gunungkidul ini awalnya bermula dari diskusi bersama dosen pembimbing saat menentukan lokasi KKL. Ketika ditanya, saya langsung mengusulkan nama Gunungkidul. Pilihan ini bukan tanpa sebab. Secara akademis, wilayah ini punya keunikan geografi yang sangat lengkap, dan yang paling menantang, belum ada satu pun angkatan di prodi kami yang KKL ke sana. Tapi kalau boleh jujur, di luar alasan ilmiah itu, ada sedikit keinginan pribadi saya yang kuat untuk menginjakkan kaki di sana karena suatu hal. Menatap Gunungkidul bagi saya adalah tentang menuntaskan rasa penasaran sekaligus menguji kemampuan diri.

Perjalanan panjang menuju jantung karst Jawa

Setelah persiapan panjang di Bandung selesai, hari yang kami tunggu akhirnya tiba. Perjalanan panjang menuju Gunungkidul ini dimulai pada malam hari, di mana armada kami baru benar-benar bergerak sekitar pukul 01.00 WIB. Sepanjang perjalanan, rekan-rekan angkatan yang tertidur pulas di dalam kendaraan. Di saat itulah rasa tanggung jawab itu kembali muncul secara nyata, saya menyadari sepenuhnya bahwa kenyamanan, kelancaran, hingga keselamatan mereka selama beberapa hari ke depan berada di bawah kendali manajemen kepemimpinan saya selaku ketua pelaksana.

Rasa kantuk dan lelah menembus jalur darat berjam-jam seketika berubah menjadi rasa kagum dan excited luar biasa begitu kendaraan kami mulai memasuki wilayah Gunungkidul. Menyaksikan langsung transisi bentang alamnya yang unik dari balik kaca jendela membuat rasa penasaran saya dan juga ego pribadi yang sejak awal ingin membawa angkatan ini ke sini akhirnya terbayar lunas. Kami langsung menuju basecamp utama berupa homestay yang terletak di dekat Pantai Slili dan Pantai Sundak untuk bersih-bersih dan beristirahat sejenak. Sore harinya, waktu santai harus disudahi karena atmosfer akademik KKL mulai berjalan kami langsung berkumpul bersama para dosen pembimbing untuk melakukan koordinasi akhir sekaligus mematangkan seluruh instrumen data yang akan kami bawa ke tiap plot lapangan esok pagi.

Empat hari menyisir wilayah Tanjungsari dan Ponjong di Gunungkidul

Hari kedua menjadi awal dari rangkaian kegiatan inti kami di lapangan. Kami memulainya dengan prosesi kulo nuwon atau memohon izin ke Kantor Kapanewon Tanjungsari. Pihak kapanewon menyambut kedatangan kami dengan sangat baik dan terbuka. Di dalam ruang pertemuan, mereka memberikan banyak informasi menarik mengenai kondisi wilayah mereka, mulai dari gambaran umum lingkungan, potensi daerah, hingga tantangan geografis yang ada di Tanjungsari. Penjelasan dari perangkat kapanewon ini menjadi bekal awal yang sangat berguna sebelum kami benar-benar turun ke medan yang sesungguhnya. Begitu izin resmi keluar, seluruh kelompok langsung bergegas bergerak ke plot masing-masing untuk memulai pengambilan data lapangan.

Kondisi lapangan di Tanjungsari langsung memberikan tantangan fisik yang nyata bagi kami, terutama karena aksesibilitasnya yang cukup terbatas. Jalanan di sana didominasi oleh rute yang sempit, menanjak, dan berkelok-kelok di antara perbukitan kapur, sehingga kendaraan harus ekstra hati-hati. Ditambah lagi, cuaca Tanjungsari hari itu terik dan gersang dengan singkapan batuan gamping vertikal di sepanjang kanan-kiri jalan.

Banyak data menarik yang kami dapat selama menyisir Tanjungsari ini, salah satunya dari kelompok yang fokus melacak aliran air tanah di gua bawah tanah. Dari cerita teman-teman, mereka harus turun langsung menembus kegelapan gua untuk memetakan jalur air dan mengukur karakteristik hidrologinya. Pengalaman masuk ke dalam sistem bawah tanah ini memberikan gambaran nyata bagi kami tentang bagaimana air tersimpan di dalam rekahan-rekahan batuan karst yang tidak terlihat dari permukaan.

Sementara itu, kelompok lain bergerak mengamati area penambangan tebing kapur lokal yang menuntut kehati-hatian tinggi karena medannya yang terjal. Di sini, fokusnya adalah melihat sejauh mana aktivitas manusia memengaruhi struktur batuan gamping di sekitarnya. Salah satu momen penting dalam pengamatan tebing ini terjadi saat tim menyisir wilayah Desa Ngestirejo; salah satu rekan kami berhasil menemukan dan mengambil sampel batuan karst berongga berukuran cukup besar di depan rumah warga untuk langsung didokumentasikan melalui kamera GPS mapping.

Tidak kalah seru, kelompok yang mendapat plot di area pesisir juga punya cerita sendiri. Mereka melakukan pengamatan di sepanjang pantai Tanjungsari yang terkenal punya pemandangan sangat bagus dengan pasir putihnya yang bersih. Di sana, tugas mereka adalah mengamati langsung bentuk lahan asal proses laut (marine) dan bagaimana aktivitas pariwisata berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Berjalan di pinggir pantai dengan deburan ombak dan tebing-tebing karang besar di sekelilingnya membuat pengambilan data terasa sedikit berbeda. Meski cuaca di tepi laut sangat menyengat, teman-teman di plot ini tetap semangat mendokumentasikan zonasi pantai dan mewawancarai beberapa pelaku wisata lokal di sekitar pantai tersebut.

Sesuai instruksi, sore harinya seluruh barisan kelompok mulai ditarik dari lapangan untuk kembali ke basecamp. Cerita dari teman-teman, momen sore itu selalu jadi yang paling sibuk karena semua orang langsung mandi dan bersiap memproses data. Memasuki malam hari, suasana basecamp berubah menjadi ruang kerja kelompok besar kami semua menyusun laporan dan melakukan expose atau presentasi data di hadapan dosen pembimbing.


hari ketiga, fokus pengamatan kami bergeser ke Kapanewon Ponjong. Wilayah non-karst ini menyuguhkan pemandangan yang berbeda total dari Tanjungsari karena air permukaannya terbilang melimpah. Akses jalan di Ponjong pun terasa lebih bersahabat dengan rute antar-desa yang membelah area persawahan.

Begitu sampai, kami langsung disambut oleh hamparan sawah hijau yang luas yang digarap oleh petani lokal di antara jejeran pohon kelapa. Jika dilihat dari area perbukitan Ponjong, lanskapnya benar-benar didominasi oleh lembah-lembah hijau subur di bawah naungan awan. Di wilayah ini, tugas kami berfokus pada observasi fisik serta wawancara dengan masyarakat setempat terkait aktivitas mereka.

Cerita menarik datang dari kelompok yang bertugas mengamati pemanfaatan sumber daya air. Mereka menyusuri saluran irigasi tradisional dan bendungan kecil untuk melihat bagaimana warga mengelola air permukaan yang melimpah ini. Dari hasil obrolan dengan petani di sawah, teman-teman mendapat banyak perspektif baru tentang sistem bagi air dan kalender tanam lokal yang sangat bergantung pada kestabilan debit air dari perbukitan.

Di sudut plot lain, cerita dari kelompok sosial-ekonomi juga tidak kalah seru saat menyisir pemukiman warga. Lewat wawancara mendalam dari rumah ke rumah, teman-teman menemukan betapa kuatnya adaptasi masyarakat Ponjong yang secara sadar memilih menggantungkan hidup pada sektor pertanian dan perkebunan. Melimpahnya air permukaan benar-benar dimanfaatkan warga untuk mengoptimalkan lahan mereka, mulai dari sawah subur hingga kebun pekarangan rumah. Keramahan para petani yang asyik menceritakan kehidupan agraris mereka membuat pengambilan data di hari ketiga ini terasa jauh lebih santai dan mengalir.

Sama seperti hari sebelumnya, menjelang sore hari saya kembali menginstruksikan penarikan seluruh barisan dari lapangan untuk kembali ke basecamp. Suasana sore hingga malam hari di basecamp kembali berubah sibuk dan menguras tenaga. Semua kelompok langsung berkejaran dengan waktu untuk mengolah data hidrologi dan hasil wawancara hari itu. Diskusi malam saat sesi expose pun kembali berjalan alot karena kami harus membandingkan kontrasnya data wilayah karst Tanjungsari dan wilayah non-karst Ponjong sebelum lanjut ke hari terakhir.

Hari keempat menjadi fase akhir untuk melengkapi data yang kurang di beberapa plot sekaligus. Di lapangan, suasana pagi sampai siang menjelang sore itu cukup sibuk karena semua kelompok harus melengkapi data data yang kurang di 2 kapanewon.

Di lapangan, suasana siang menjelang sore itu cukup sibuk karena semua kelompok di kedua wilayah tersebut harus menyelesaikan sisa plot mereka secepat mungkin agar bisa kembali ke basecamp tepat waktu sesuai jadwal penarikan barisan. Begitu semua kelompok sampai di basecamp kami melaksanakan sesi expose final untuk mempresentasikan hasil komparasi komprehensif dari tiap kelompok mengenai karakteristik wilayah karst Tanjungsari dan non-karst Ponjong. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sharing session dan refleksi bersama seluruh mahasiswa untuk membahas kendala teknis, dinamika kelompok, serta berbagai pengalaman berharga yang kami dapatkan selama turun langsung di lapangan.

Menariknya, walaupun berada di tengah situasi genting mengolah data dan menyusun berkas yang harus segera dipresentasikan malam itu, fokus kami tidak melulu terpaku di depan laptop. Saya bersama beberapa orang panitia dan teman-teman tetap menyempatkan diri keluar sejenak untuk menikmati pemandangan sunset di pantai dekat basecamp sebagai penyegar pikiran, sebelum kami menghadapi sidang pleno malam harinya dan bersiap pulang di hari esok.

Hari kelima menjadi akhir dari seluruh rangkaian Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahap 2 Angkatan 2024 di Kabupaten Gunungkidul. Pagi-pagi sekali, suasana di basecamp sudah dipenuhi dengan aktivitas berkemas. Semua mahasiswa sibuk merapikan barang bawaan pribadi, mengumpulkan logistik angkatan, serta memastikan tidak ada yang tertinggal. Kami juga menyempatkan diri untuk membersihkan dan merapikan kembali area basecamp yang telah menjadi tempat tinggal kami selama beberapa hari terakhir sebagai bentuk tanggung jawab.

Setelah proses beres-beres selesai dan semua logistik dipastikan aman masuk ke dalam bagasi bus, seluruh angkatan berkumpul untuk melakukan briefing singkat dan doa bersama sebelum perjalanan. Sekitar pukul sembilan pagi, rombongan kami resmi meninggalkan lokasi basecamp di Gunungkidul untuk bertolak kembali menuju Bandung. Perjalanan pulang ini berjalan dengan lancar, dan sebagian besar dari kami memanfaatkan waktu di dalam bus untuk istirahat setelah beberapa hari menguras energi di lapangan.

Di tengah perjalanan pulang ini, momen di dalam bus menjadi waktu bagi saya pribadi untuk merefleksikan seluruh kegiatan yang sudah berjalan. Sebagai ketua, ada rasa lega yang luar biasa karena akhirnya bisa menuntaskan amanah besar ini sampai selesai. Selama persiapan hingga pelaksanaan KKL, kami harus melewati berbagai dinamika yang cukup menguji, mulai dari kendala teknis di lapangan hingga perseteruan di internal angkatan. Namun, berkat kerja sama semua pihak, semua masalah tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Melihat teman-teman satu angkatan merasa puas dan mendapatkan banyak pelajaran berharga dari KKL Tahap 2 ini menjadi kepuasan tersendiri bagi saya yang menandakan bahwa kerja keras kami tidak sia-sia.

"Di bawah langit Gunungkidul yang teduh, langkah Bumisaka kini resmi berlabuh, membawa pulang cerita dan kenangan yang utuh."

- Farel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *