Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
“Transformasi Wilayah Pesisir Kepulauan Seribu dalam Tekanan Pariwisata : Analisis Lingkungan, Sosial Ekonomi, dan Pendidikan Berbasis Pulau Kecil”

KULIAH KERJA LAPANGAN TAHAP III

Dokumentasi : Pemberangkatan Menuju Pulau Seribu

Kuliah Kerja Lapangan (KKL) merupakan kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk terjun ke lapangan. Kegiatan ini bertujuan agar mahasiswa Pendidikan Geografi dapat mengaplikasikan ilmu geografi yang telah dipelajari secara teori, sehingga melengkapi dan menyempurnakan pengetahuan geografi secara menyeluruh. Dalam kegiatan lapangan ini, mahasiswa akan melakukan observasi, pengukuran, serta merumuskan pemecahan masalah berdasarkan objek yang ditemukan di lapangan, dengan memanfaatkan ilmu yang telah dipelajari di kelas.

Berdasarkan hal tersebut, mahasiswa Pendidikan Geografi 2023 bermaksud mengadakan kegiatan KKL Tahap III dengan lokasi tujuan Kepulauan Seribu. Kepulauan Seribu merupakan salah satu kabupaten administrasi yang berada di Provinsi DKI Jakarta dan terletak di bagian utara Teluk Jakarta. Wilayah ini terdiri atas gugusan pulau-pulau kecil yang sebagian besar terbentuk dari terumbu karang dan dikelilingi oleh perairan Laut Jawa. Kepulauan Seribu memiliki lebih dari 110 pulau dengan sebagian kecil di antaranya berpenghuni, sementara sebagian lainnya dimanfaatkan sebagai kawasan konservasi, pariwisata, serta penelitian kelautan. Kondisi geografis dan ekosistem pesisir yang dimiliki menjadikan Kepulauan Seribu sebagai wilayah yang penting untuk dikaji dalam konteks geografi wilayah, khususnya terkait dinamika lingkungan pesisir, pemanfaatan sumber daya laut, serta pengembangan pariwisata bahari.

Kepulauan Seribu memiliki potensi sumber daya pesisir dan laut yang besar, terutama pada sektor perikanan dan pariwisata bahari. Keindahan ekosistem pesisir seperti terumbu karang, padang lamun, dan pantai berpasir menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang penting di Provinsi DKI Jakarta. Aktivitas pariwisata tersebut memberikan kontribusi terhadap peningkatan perekonomian masyarakat melalui berbagai usaha jasa wisata seperti homestay, transportasi laut, dan kegiatan rekreasi bahari. Namun, perkembangan pariwisata yang semakin intensif juga menimbulkan tekanan terhadap lingkunganpesisir, seperti degradasi ekosistem terumbu karang, peningkatan limbah, serta perubahan pola pemanfaatan ruang di pulau-pulau kecil. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi wilayah pesisir di Kepulauan Seribu perlu dikaji secara komprehensif, baik dari aspek lingkungan maupun sosial ekonomi masyarakat, sebagai bagian dari pembelajaran geografi berbasis wilayah pulau kecil.

 Setiap tahapan KKL memiliki fokus pembelajaran yang berbeda. KKL Tahap I berfokus pada kegiatan identifikasi fenomena geografi di lapangan, sehingga mahasiswa dapat mengenali berbagai karakteristik wilayah secara langsung. Selanjutnya, pada KKL Tahap II mahasiswa mulai melakukan komparasi atau perbandingan terhadap fenomena geografi yang ditemukan di beberapa wilayah kajian. Adapun pada KKL Tahap III, mahasiswa diharapkan mampu melangkah lebih jauh dengan melakukan analisis terhadap permasalahan yang ada serta merumuskan alternatif pemecahan masalah (problem solving) berdasarkan hasil pengamatan dan kajian yang dilakukan di lapangan.

 Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Tahap III juga menjadi pelengkap dari rangkaian kegiatan KKL yang telah dilaksanakan pada tahap sebelumnya, sekaligus sebagai salah satu syarat akademik bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studi dan mengajukan skripsi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu geografi yang telah dipelajari di kelas melalui kegiatan observasi dan analisis lapangan, sehingga tercipta keseimbangan antara pemahaman teori dan praktik. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan dapat mengidentifikasi berbagai potensi serta permasalahan wilayah pesisir, sekaligus merumuskan alternatif pemecahan masalah terkait dinamika transformasi wilayah akibat perkembangan pariwisata. Oleh karena itu, disusunlah proposal kegiatan KKL Tahap III dengan tema “Transformasi Wilayah Pesisir Kepulauan Seribu dalam Tekanan Pariwisata: Analisis Lingkungan, Sosial Ekonomi, dan Pendidikan Berbasis Pulau Kecil.”

Dokumentasi : Kegiatan di Kantor Kabupaten Pulau Seribu

Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 3 merupakan program akademik lapangan yang bersifat integratif, komprehensif, dan berbasis riset keruangan. Pada agenda ini, mahasiswa Pendidikan Geografi FPIPS UPI melakukan studi observasi dan pengumpulan data primer secara langsung di kawasan Kepulauan Seribu. Kegiatan ini dirancang secara sistematis dengan membagi fokus observasi ke dalam klaster pulau-pulau utama yang memiliki karakteristik geografis unik, yaitu Pulau Tidung, Pulau Pramuka, dan Pulau Pari. Pembagian lokus ini bertujuan agar mahasiswa dapat melakukan perbandingan karakteristik fisik, struktur sosial, dan potensi pengembangan antar-pulau kecil di wilayah perairan Teluk Jakarta.

Selama lima hari penuh pelaksanaan kepanduan lapangan (Kamis sampai Senin), seluruh peserta didampingi secara melekat oleh Dosen Pembimbing untuk melakukan koordinasi teknis, bimbingan metodologi, serta pengarahan pengisian instrumen penelitian langsung di lapangan. Orientasi spasial yang dinamis ini sengaja dirancang untuk melatih kepekaan geografis mahasiswa dalam mengenali fenomena geosfer secara nyata. Melalui pengamatan terstruktur dan pengumpulan data primer di sepanjang rute perjalanan, mulai dari wilayah daratan, kawasan pesisir Pelabuhan Muara Angke, hingga gugusan pulau di Kepulauan Seribu mahasiswa diarahkan untuk mengintegrasikan berbagai sudut pandang keilmuan geografi. Oleh karena itu, seluruh rangkaian observasi dan pengumpulan data lapangan dalam KKL 3 ini dikerangkakan ke dalam empat aspek fundamental yang saling berkaitan, yang menjadi pondasi utama dalam menyusun konstruksi penelitian ini, antara lain sebagai berikut:Tujuan dilaksanakannya kegiatan KKL 3 ini diarahkan untuk mengupas fenomena geografis secara mendalam melalui empat aspek utama, antara lain sebagai berikut:

  • Aspek Lingkungan Mengkaji karakteristik fisik pantai, ekosistem pesisir, serta upaya pelestarian lingkungan laut melalui observasi langsung di Balai Benih Ikan Laut (BBIL) , Taman Nasional Kepulauan Seribu , Kawasan Budidaya dan Konservasi Tidung Kecil , serta area Pantai Pasir Perawan. Fokus utama aspek ini adalah menganalisis kondisi geomorfologi pantai serta efektivitas konservasi mangrove dan biota laut.
  • Aspek Sosial Ekonomi Menganalisis pola adaptasi, struktur mata pencaharian, dan interaksi keruangan masyarakat kepulauan melalui studi di Pemukiman Nelayan dan Pemukiman RT 01 Pulau Pari. Selain itu, aspek ini juga menyoroti tata kelola dan administrasi wilayah dengan meninjau aktivitas kelembagaan di Kantor Kabupaten Kepulauan Seribu serta Kantor Kecamatan.
  • Aspek Pariwisata Mengidentifikasi potensi, daya tarik, dan dampak perkembangan pariwisata berbasis pesisir terhadap ekonomi lokal masyarakat setempat. Kajian ini dilakukan dengan mengobservasi manajemen destinasi dan aktivitas ekonomi kreatif di Sentra Pariwisata Jembatan Cinta , Pantai Burung , serta kawasan akomodasi wisata di Tidung Nirwana.
  • Aspek Pendidikan Menelaah peran lembaga pendidikan formal dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) di wilayah pesisir melalui studi kasus di SMKN 61 Tidung. Aspek ini berfokus pada bagaimana integrasi kurikulum kelautan dan pendidikan lokal berkontribusi terhadap kesadaran lingkungan serta penyiapan tenaga kerja terampil di pulau-pulau kecil.

Melalui pendekatan berbasis empat aspek utama ini, diharapkan pelaksanaan KKL 3 dapat menghasilkan data primer yang komprehensif dan valid. Tujuannya adalah agar mahasiswa tidak hanya mampu mengkorelasikan teori keruangan di dalam kelas dengan realitas di lapangan, melainkan juga dapat menyusun rekomendasi ilmiah yang solutif bagi keberlanjutan wilayah Kepulauan Seribu.

Dokumentasi : Observasi dan Pematerian di SMK 61 Jakarta

Secara operasional, seluruh rangkaian kegiatan KKL 3 ini bergerak secara dinamis dan terjadwal ketat guna mengoptimalkan durasi kajian di setiap lokus penelitian. Kegiatan diawali pada Hari Pertama (Kamis, 4 Juni 2026) sejak dini hari pukul 01.30 WIB dengan agenda pengkondisian, pengarahan dosen, dan mobilisasi keberangkatan dari Masjid Al-Furqon UPI menuju Jakarta. Ketepatan waktu menjadi kunci utama di mana peserta ditargetkan tiba di Pelabuhan Muara Angke pada pukul 06.40 WIB untuk sarapan dan melakukan briefing intensif bersama jajaran dosen pembimbing serta divisi SDM dan Teknis Lapangan. Tepat pukul 09.00 WIB, perjalanan laut menuju Pulau Tidung dimulai menggunakan kapal. Setibanya di lokasi dan setelah menyelesaikan administrasi akomodasi (ISHOMA), mahasiswa langsung dimobilisasi pada pukul 13.45 WIB untuk memulai rangkaian studi lapangan perdana di Balai Benih Ikan Laut (BBIL) guna mengawali pengumpulan data primer terkait konservasi laut hingga sore hari.

Memasuki Hari Kedua (Jumat, 5 Juni 2026), intensitas kajian semakin meningkat dengan perluasan lokus ke Pulau Pramuka. Rombongan bertolak dari Pulau Tidung pada pukul 07.45 WIB untuk melakukan orientasi kelembagaan di Kantor Kabupaten Kepulauan Seribu. Dinamika waktu pada hari kedua ini disesuaikan secara cermat dengan kearifan lokal dan kewajiban ibadah, di mana kegiatan dijeda pada pukul 11.15 WIB untuk mobilisasi Sholat Jumat dan ISHOMA. Kajian dilanjutkan kembali pada pukul 13.10 WIB dengan menyisir wilayah Taman Nasional Kepulauan Seribu serta Pelabuhan Sisi Timur, sebelum akhirnya peserta kembali bertolak ke penginapan Pulau Tidung pada sore hari.

Selanjutnya, Hari Ketiga (Sabtu, 6 Juni 2026) difokuskan penuh pada eksplorasi multidimensi di lingkup spasial Pulau Tidung. Setelah pengkondisian pagi, pukul 08.15 WIB mahasiswa bergerak menuju Kawasan Budidaya dan Konservasi Tidung Kecil.

Keterbaruan dan poin krusial pada lini masa hari ketiga ini terletak pada aktivitas lapangan di kawasan tersebut, di mana mahasiswa tidak hanya melakukan pengamatan pasif, melainkan juga melakukan aksi nyata berupa kolaborasi dengan Pusat Budidaya dan Konservasi Laut. Dalam kolaborasi ini, diselenggarakan dua agenda konservasi utama:

  • Kegiatan Menanam Mangrove: Sebagai bentuk kontribusi praktis mahasiswa dalam menjaga kelestarian bentang alam pesisir serta mitigasi abrasi di pulau-pulau kecil.
  • Penebaran Benih Ikan: Sebagai upaya nyata dalam restorasi ekosistem perairan dan pengayaan stok sumber daya perikanan lokal.

Dokumentasi : Kegiatan Penanaman dan Restocking bersama Pusat Budidaya dan Konservasi Laut

Aksi kolaboratif ini dirancang untuk memperkuat basis data primer pada Aspek Lingkungan melalui keterlibatan langsung dalam tindakan konservasi. Selepas agenda tersebut, pada pukul 11.15 WIB kegiatan bergeser ke analisis pariwisata di Sentra Pariwisata Jembatan Cinta hingga siang hari.  Alur pergerakan pasca-ISHOMA siang (pukul 14.15 WIB) kemudian dipecah secara paralel ke dalam empat titik krusial secara bersamaan, yaitu Pemakaman Raja Pandhita, Pemukiman Nelayan, Kantor Kecamatan, dan Tidung Nirwana. Langkah pemecahan ruang observasi ini diambil agar pemetaan data sektoral pada aspek sosial-ekonomi, pariwisata, dan kelembagaan dapat berjalan secara lebih efektif, fokus, dan kondusif.

Pada Hari Keempat (Minggu, 7 Juni 2026), orientasi riset bergeser ke Pulau Pari. Keberangkatan kapal dijadwalkan pagi hari pukul 07.40 WIB dari pelabuhan utama. Setibanya di Pulau Pari, ruang kajian langsung diarahkan ke Pantai Pasir Perawan dan Pemukiman RT 01 guna membedah aspek fisik pantai sekaligus kondisi sosial masyarakat setempat. Setelah jeda ISHOMA, alur kegiatan dilanjutkan pukul 13.00 WIB menuju Pantai Burung, yang disusul dengan agenda pembersihan lingkungan (bersih-bersih) di Masjid Al-Ikhlas sebagai bentuk pengabdian masyarakat sebelum rombongan kembali ke basecamp penginapan.

Rangkaian KKL 3 ini akhirnya ditutup pada Hari Kelima (Senin, 8 Juni 2026). Kajian pamungkas dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB pagi di SMKN 61 Tidung untuk melengkapi data aspek pendidikan. Selepas observasi tersebut, mahasiswa kembali ke penginapan untuk persiapan pulang dan ISHOMA akhir. Tepat pukul 12.15 WIB, seluruh peserta melakukan mobilisasi penyeberangan laut kembali ke Pelabuhan Muara Angke. Perjalanan darat menuju Bandung dimulai pada sore hari dan dijadwalkan tiba kembali di Kampus UPI Bumi Siliwangi pada pukul 19.45 WIB, menandai berakhirnya seluruh rangkaian kepanduan lapangan secara resmi.

Dokumentasi : Panitia

Secara keseluruhan, meskipun dinamika mobilisasi massa lintas pulau yang cukup padat menyisakan beberapa catatan teknis sebagai bahan evaluasi bersama, pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) 3 di kawasan Kepulauan Seribu ini telah berhasil terlaksana dengan aman, lancar, dan tepat sasaran. Melalui integrasi studi akademis lapangan yang terstruktur serta aksi nyata berupa kolaborasi konservasi alam seperti penanaman mangrove dan penebaran benih ikan di Tidung Kecil kegiatan ini tidak hanya berhasil menghimpun basis data primer yang valid dan komprehensif. Lebih dari itu, KKL 3 telah sukses mengaitkan benang merah antara aspek lingkungan, sosial-ekonomi, pariwisata, hingga pendidikan yang menjadi pondasi utama penelitian.

Sebagai sebuah akhir dari kepanduan lapangan, esensi dari seluruh rangkaian agenda ini diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah yang nyata, baik berupa rekomendasi solutif bagi keberlanjutan wilayah Kepulauan Seribu, maupun sebagai bekal metodologis dan wawasan spasial yang mendalam bagi mahasiswa Pendidikan Geografi FPIPS UPI dalam melanjutkan estafet riset serta pengabdian masyarakat di masa yang akan datang

Penulis            : Reza Nurjaman (2307062)

Editor              : Syalwa Ramadianti Nugraha (2407430)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *