Bandung IPAI FPIPS UPI - Alhamdulillah, sebuah karya ilmiah yang teoretis sekaligus bernilai aplikatif kembali lahir dari Civitas Akademika Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI). Tim peneliti yang terdiri dari Anisa Nur Sajidah, Saepul Anwar, dan Usup Romli resmi mempublikasikan hasil riset terbaru mereka pada Nuris Journal of Education and Islamic Studies (JEIS) Volume 6 Nomor 1 Tahun 2026 bertajuk "Pedagogical Pragmatism of Islamic Education Teachers in Implementing Holistic Assessment in Senior High School". Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif ini menelisik secara mendalam bagaimana para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di jenjang SMA melakukan navigasi dan kompromi reflektif—yang diartikulasikan sebagai pragmatisme pedagogis—guna menjembatani jurang pemisah antara tuntutan idealitas kurikulum nasional (Kurikulum Merdeka) dan realitas demografis kelas yang padat serta minim sarana penunjang. Publikasi ini menjadi wujud nyata komitmen berkelanjutan para akademisi FPIPS UPI dalam menghadirkan solusi ilmiah atas tantangan evaluasi pendidikan keagamaan di era kontemporer.
Dalam laporan penelitian tersebut, dibedah secara rinci penyesuaian yang dilakukan oleh para pendidik pada tiga ranah evaluasi utama. Pada ranah kognitif, tingginya rasio siswa yang mencapai 1:44 serta keterbatasan waktu menyebabkan guru mengambil langkah strategis dengan menyederhanakan instrumen dari Higher Order Thinking Skills (HOTS) menjadi Lower Order Thinking Skills (LOTS) guna mencegah frustrasi belajar pada peserta didik. Sementara itu pada ranah psikomotorik, keterbatasan sarana praktik seperti kain ihram atau alat pengurusan jenazah direspons melalui penyederhanaan rubrik analitis menjadi bentuk ceklis sederhana serta penerapan metode peer-assessment. Pada ranah afektif, kompleksitas penilaian sikap disikapi guru dengan mengalihkan pengisian rubrik yang kaku menuju catatan anekdotal dan penguatan intuisi pedagogis. Temuan ini menegaskan bahwa langkah adaptif tersebut bukanlah bentuk ketidakmampuan profesional, melainkan bentuk kecerdasan adaptif (adaptive intelligence) pendidik dalam menjaga keberlangsungan proses pembelajaran di sekolah.
Perspektif teoretis yang diusung dalam penelitian ini memiliki pijakan ilmiah yang sangat kokoh serta sejalan dengan diskursus kependidikan Islam bereputasi. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal bereputasi nasional terindeks Sinta, kapasitas Pedagogical Content Knowledge (PCK) guru terbukti secara empiris menjadi kunci utama dalam mentransformasi materi ideal agar sesuai dengan kesiapan kognitif peserta didik. Lebih lanjut, literatur internasional dalam jurnal bereputasi terindeks Scopus menegaskan bahwa penyederhanaan instrumen berbasis prinsip Taysir (kemudahan) dan kaidah Khatibu an-nasa 'ala qadri uqulihim (berbicaralah sesuai kadar akal manusia) efektif menjaga kualitas pembelajaran keagamaan tanpa merusak integritas moral dan mental peserta didik. Secara filosofis, adaptasi ini berfokus pada penjagaan esensi ta'dib (pembentukan adab) dan pembentukan insan kamil, alih-alih sekadar kepatuhan administratif yang mekanis.
Riset ilmiah yang dihasilkan oleh akademisi FPIPS UPI ini memberikan kontribusi konkrit terhadap ketercapaian agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada pilar SDG 4 mengenai Pendidikan Berkualitas, temuan riset ini mengadvokasi pentingnya kebijakan penilaian yang sensitif terhadap konteks (context-sensitive assessment policies). Dengan memberikan ruang fleksibilitas dan diskresi bagi pendidik, sistem pendidikan dapat memastikan terciptanya lingkungan belajar yang inklusif, merata, dan kontekstual, sehingga seluruh peserta didik mendapatkan hak pendidikan agama yang bermakna tanpa tertekan oleh standardisasi yang kaku.
Publikasi riset ini pada hakikatnya menjadi ruang refleksi spiritual dan intelektual bagi seluruh pendidik Muslim untuk menyadari bahwa mengajar adalah amanah kepemimpinan yang menuntut kejelian intuisi dan ketulusan niat. Kesadaran bahwa pembentukan akhlak tidak dapat diukur sekadar lewat angka-angka statistik mengisyaratkan bahwa kompromi pedagogis yang berorientasi pada substansi merupakan bentuk ikhtiar terbaik dalam merawat fitrah suci peserta didik. Semoga hasil kajian ini mendatangkan keberkahan, menginspirasi para guru PAI di seluruh Indonesia untuk terus berinovasi, serta memperkuat posisi Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI sebagai pelopor dan pusat keunggulan (center of excellence) dalam pengembangan sains pendidikan Islam yang rahmatan lil 'alamin.
