Bandung IPAI FPIPS UPI - Alhamdulillah, sebuah karya ilmiah multidimensional yang teoretis sekaligus bernilai aplikatif kembali dilahirkan oleh sivitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tim peneliti yang terdiri dari Risma Putri Rahayu, Syahidin, dan Agus Fakhruddin mempublikasikan hasil riset terbaru mereka pada FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Volume 15 Nomor 2 Tahun 2026 bertajuk "Religious Education as a Safe Learning Space for Mental Health Support: A Multiple Case Study on Pedagogical Dimensions and Practices in Junior High Schools". Penelitian kualitatif studi kasus ganda (multiple case study) yang dilakukan di tiga SMP Negeri Kota Bandung (SMPN 4, SMPN 14, dan SMPN 43) ini menelisik secara mendalam bagaimana kelas Pendidikan Agama Islam (PAI) berfungsi sebagai ruang belajar yang aman secara psikologis (psychologically safe learning space) serta mendeteksi dimensi kesehatan mental yang paling konsisten muncul dalam praktik pengajaran PAI kontemporer. Publikasi ini mempertegas komitmen dan peran aktif akademisi dalam melahirkan gagasan pembelajaran yang inklusif, humanis, serta berwawasan luas demi mendukung tumbuh kembang remaja secara holistik selaras dengan visi program studi yang "Pelopor dan Unggul".
Dalam riset tersebut, tim peneliti membedah pembelajaran PAI melalui kerangka integratif lima dimensi kesehatan mental, yakni dimensi spiritual, emosional, psikologis, sosial, dan biologis. Temuan lapangan menunjukkan bahwa dimensi spiritual dan emosional menjadi area yang paling dominan difasilitasi dalam pengajaran melalui praktik ibadah, muhasabah, cerita inspiratif sejarah Islam, serta inovasi pembelajaran seperti media refleksi "membuang sampah emosi". Sebaliknya, dimensi psikologis diakui sebagai area yang paling menantang karena membutuhkan pendekatan personal, komunikasi non-diskriminatif, dan pengakuan identitas siswa secara intensif. Penelitian ini juga mengungkap ketegangan mendasar berupa adanya kesenjangan antara rutinitas ritual keagamaan dan internalisasi nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari siswa. Namun demikian, penciptaan lingkungan belajar yang aman terbukti dapat terwujud secara optimal ketika terjadi konvergensi antara inovasi pedagogis guru, budaya religius sekolah, dan penanaman nilai-nilai kearifan lokal Sunda-Islam seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh.
Perspektif teoretis yang diusung dalam penelitian ini memiliki pijakan ilmiah yang sangat kuat dalam diskursus psikologi kependidikan Islam modern. Berdasarkan hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi nasional terindeks Sinta, integrasi nilai-nilai keagamaan dan pola interaksi yang berorientasi pada kesejahteraan psikologis siswa terbukti secara empiris efektif menurunkan tingkat kecemasan akademik serta meningkatkan regulasi emosi remaja. Sementara itu, literatur internasional dalam jurnal bereputasi terindeks Scopus menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran humanistik yang menciptakan keamanan psikologis (psychological safety) serta ruang dialogis interaktif di kelas agama mampu memperluas Zone of Proximal Development (ZPD) siswa, tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada kematangan emosional dan spiritual.
Riset ilmiah ini juga merupakan wujud konkrit dan kontribusi nyata akademisi dalam menyukseskan agenda global Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Secara khusus, penelitian ini mendukung pemenuhan target SDG 4 mengenai Pendidikan Berkualitas melalui penyediaan lingkungan belajar yang aman, inklusif, ramah remaja, dan mendukung kesejahteraan mental. Di samping itu, inisiatif penguatan kesehatan mental dan pencegahan perundungan verbal di lingkungan sekolah ini beririsan langsung dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Kesejahteraan) serta SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), sebagai ikhtiar kolektif institusi dalam mewujudkan tatanan pendidikan yang adil, suportif, dan bebas dari tekanan psikologis.
Publikasi riset ini pada hakikatnya menjadi ruang refleksi spiritual dan intelektual yang sangat mendalam bagi seluruh pendidik Muslim untuk menyadari bahwa pembelajaran PAI tidak boleh sekadar berfokus pada transfer pengetahuan dan kepatuhan ritual formalisme semata. Kesadaran bahwa jiwa dan emosi peserta didik adalah amanah mulia mengisyaratkan bahwa setiap guru agama harus mampu bertransformasi menjadi fasilitator yang hangat, empati, serta mampu menghadirkan wajah Islam yang penuh kasih sayang di dalam ruang kelas. Semoga hasil kajian ini memberikan keberkahan, menginspirasi para pendidik di seluruh penjuru tanah air untuk terus berinovasi merawat kesehatan mental generasi muda, serta mengukuhkan posisi Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI sebagai pelopor pembaharuan sains pendidikan Islam yang rahmatan lil 'alamin.
