Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
BENCANA PERMUKIMAN DAN KERENTANAN KERUANGAN: ANALISIS GEOGRAFI ATAS TRAGEDI KEBAKARAN KAMPUNG ADAT KASEPUHAN CIPTAMULYA, CISOLOK

Penulis: Mutiara Amni Opsesa (2501972)

Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

 

Sumber: https://sindojabar.com/headline/kebakaran-di-kampung-adat-cipta-mulya-sukabumi-70-unit-rumah-dan-lumbung-padi-ludes/https://prfmnews.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-1310361745/kebakaran-hanguskan-kampung-adat-kasepuhan-ciptamulya-dt-peduli-bergerak-dampingi-penyintas?page=all

Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, mengalami musibah kebakaran hebat pada Sabtu, 25 Juli 2026, yang menghanguskan puluhan rumah panggung tradisional, Imah Gede, serta leuit atau lumbung padi. Sudut pandang analisis geografi melalui pendekatan keruangan, ekologis, dan kompleks wilayah, menunjukkan bahwa kerentanan fisik berupa penggunaan material bangunan alami beratap ijuk, pola pemukiman berkepadatan tinggi dengan posisi berdempetan, keterbatasan aksesibilitas topografis, serta tiupan angin kencang regional yang menjadi faktor utama percepatan perambatan api. Dampak bencana ini tidak hanya mencakup dislokasi spasial dan ketidakberdayaan sosial ekonomi ratusan jiwa, tetapi juga mengancam kelestarian warisan budaya immaterial dan sistem ketahanan pangan lokal. Hal ini menegaskan pentingnya integrasi teknologi mitigasi kebencanaan modern yang adaptif tanpa menghilangkan karakter dan nilai arsitektur tradisional masyarakat kasepuhan.

 

Pendahuluan dan Karakteristik Kerentanan Permukiman Adat

Geografi sebagai sains kewilayahan mengkaji fenomena geosfer melalui pemahaman mendalam atas keterkaitan antara aktivitas antroposfer dengan bentang alam fisik yang dihuninya. Dalam konteks geografi permukiman dan kebencanaan, ruang tidak sekadar dipandang sebagai wadah fisik yang pasif, melainkan sebagai arena dinamika yang mencerminkan tingkat kerentanan serta daya tahan suatu komunitas. Permukiman tradisional yang berada pada bentang alam perbukitan sering kali menyajikan interaksi yang sangat khas antara kearifan lokal dan potensi bahaya lingkungan. Salah satu kasus nyata yang memerlukan perhatian dan kaji ulang geografi secara mendalam adalah musibah kebakaran hebat yang meratakan kawasan permukiman Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu, 25 Juli 2026.

Sumber: https://1001indonesia.net/kasepuhan-ciptamulya/

Kasepuhan Ciptamulya merupakan salah satu komunitas adat Sunda yang konsisten menjaga warisan leluhur melalui arsitektur panggung kayu, dinding bambu, dan atap ijuk. Namun, dalam konteks keilmuan geografi lingkungan dan mitigasi bencana, karakteristik fisik material alami tersebut dipadu dengan pola pemukiman tradisional yang berdempetan menyimpan potensi bahaya terhadap amukan si jago merah. Ketika pemicu awal timbul seperti dugaan korsleting listrik di fasilitas MCK umum dekat Imah Gede sekitar pukul 14.00 WIB, interaksi antara suhu lingkungan, embusan angin regional, serta bahan mudah terbakar memicu perambatan api yang tidak terkendali. Dalam hitungan jam, puluhan rumah panggung, pusat ritual adat atau Imah Gede, serta lumbung padi atau leuit ludes menjadi abu, menyebabkan ratusan warga mendadak kehilangan tempat tinggal dan modal sosial budaya mereka.

Dampak kehancuran tersebut tidak berhenti pada hilangnya aset fisik semata, tetapi juga meretas tatanan sosial ekologis dan kontinuitas tradisi yang selama ini menjadi fondasi kehidupan masyarakat Kasepuhan Ciptamulya. Musnahnya leuit secara mendadak mengancam sistem ketahanan pangan adat yang telah terbangun secara turun-temurun, sementara rusaknya Imah Gede melumpuhkan pusat ruang ritual dan orientasi kepemimpinan adat setempat. Kondisi pascabencana ini memperlihatkan betapa tingginya kerentanan komunitas adat ketika ruang hidup tradisional mereka dihadapkan pada ancaman kebencanaan yang tereskalasi oleh faktor lingkungan modern. Oleh karena itu, tantangan terbesar dalam fase pemulihan ini bukan sekadar membangun kembali fisik bangunan yang telah hangus, melainkan merumuskan strategi penataan ruang dan rekonstruksi yang adaptif terhadap risiko bencana tanpa merusak identitas arsitektur serta kearifan lokal yang diwariskan leluhur.

Sumber: https://jabar.suara.com/read/2026/07/26/200336/kebakaran-kasepuhan-ciptamulya-51-rumah-dan-49-leuit-hangus-puluhan-ton-padi-musnah

Berdasarkan kompleksitas permasalahan tersebut, penelitian dan kajian dalam artikel ini difokuskan pada tiga aspek utama. Pertama, kajian ini melakukan analisis keruangan untuk memetakan pola persebaran serta tingkat keterpaparan fisik bangunan di Kampung Adat Ciptamulya. Kedua, penelitian ini menelaah lebih jauh keterkaitan antara dinamika ekologi lingkungan dengan tingkat kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat adat pada fase pascabencana. Melalui integrasi kedua analisis tersebut, penelitian ini pada akhirnya bertujuan untuk merumuskan skema rekonstruksi dan penataan ruang yang berbasis pada mitigasi kebencanaan adaptif. Skema ini dirancang sedemikian rupa agar ketangguhan kawasan meningkat tanpa harus mengorbankan identitas arsitektur tradisional yang menjadi warisan leluhur.

 

Analisis Kebencanaan Berdasarkan Pendekatan Geografi

Sumber: https://www.catrawarta.com/warta/kebakaran-kampung-adat-kasepuhan-cipta-mulya-warisan-tradisi-yang-kini-terancam/

Ditinjau dari sudut pandang pendekatan keruangan, letak geografis Kampung Adat Ciptamulya yang berada di zona perbukitan Cisolok memberikan tantangan tersendiri dalam aspek keselamatan dan keterjangkauan. Tata letak bangunan panggung yang saling berdekatan dengan jarak antar-rumah yang sangat rapat menciptakan koridor angin alami yang justru mempercepat penjalaran lidah api. Ditambah lagi dengan tiupan angin kencang pada siang hari saat kejadian, api menyambar dari satu atap ijuk ke atap ijuk lainnya hanya dalam waktu beberapa menit. Keterbatasan lebar jalan akses menuju kawasan perkampungan di daerah perbukitan turut menjadi hambatan spasial bagi unit pemadam kebakaran untuk melakukan pemadaman secara cepat di fase awal, sehingga pembasahan baru dapat dioptimalkan saat api telah melalap sebagian besar bangunan utama.

Sumber: https://radarsukabumi.com/kabupaten-sukabumi/kemeriahan-seren-taun-kesepuhan-cipta-mulya-dispar-sukabumi-harapkan-jadi-daya-tarik-wisatawan/

Ditinjau dari pendekatan ekologi, tragedi Ciptamulya memperlihatkan interaksi antara penambahan instalasi modern seperti jaringan listrik dengan struktur material alam tradisional. Penggunaan material kayu, bambu, dan ijuk pada dasarnya merupakan bentuk adaptasi lingkungan masyarakat adat Sunda yang ramah lingkungan dan tahan gempa. Namun, ketika jaringan listrik modern diintegrasikan tanpa standar keamanan proteksi kebakaran yang memadai, timbul kerentanan baru di lingkungan permukiman. Kebakaran yang menghanguskan puluhan unit bangunan serta leuit tidak hanya menghancurkan fisik rumah, melainkan juga merusak ekosistem sosial ekonomi warga. Terbakarnya leuit sebagai simbol ketahanan pangan adat berpotensi mengganggu stabilitas cadangan pangan lokal yang selama ini dikelola secara mandiri oleh masyarakat kasepuhan.

 

Perspektif Kompleks Wilayah dan Strategi Rekonstruksi Adaptif

Dalam perspektif pendekatan kompleks wilayah, dampak bencana kebakaran di Kasepuhan Ciptamulya memerlukan penanganan terpadu yang melibatkan hubungan antarwilayah dan pemangku kepentingan. Hilangnya Imah Gede sebagai pusat pengambil keputusan adat melumpuhkan sementara koordinasi internal kasepuhan. Oleh karena itu, skema rekonstruksi pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan kembali dinding dan atap rumah, melainkan harus mengintegrasikan penataan ruang berbasis respon bencana. Langkah-langkah konkrit yang direkomendasikan mencakup penyediaan sekat bakar alami melalui penanaman vegetasi beroksigen tinggi dan berdaun tebal, penyediaan tandon air darurat bertekanan atau hydrant terdistribusi di titik-titik krusial permukiman, penataan ulang jarak aman antar-bangunan tanpa merusak tatanan adat, serta edukasi sistem proteksi bahaya kebakaran berbasis jaringan listrik secara berkala bagi masyarakat adat.

Dapat disimpulkan bahwa tragedi kebakaran yang menghanguskan Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya Cisolok merupakan bukti nyata betapa tingginya kerentanan spasial dan fisik pada permukiman tradisional akibat keterbatasan sistem proteksi bencana modern. Pendekatan geografi membuktikan bahwa kombinasi antara material bangunan alami yang mudah terbakar, pola tata ruang yang sangat rapat, serta kendala aksesibilitas wilayah perbukitan mempercepat eskalasi bencana. Proses pemulihan dan penataan kembali Kampung Adat Ciptamulya harus dilakukan secara kolaboratif melalui penerapan tata ruang berbasis mitigasi kebencanaan tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal dan warisan kebudayaan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat kasepuhan.

 

DAFTAR PUSTAKA

BPBD Kabupaten Sukabumi. (2026). Laporan Kebakaran Permukiman Kampung Adat Ciptamulya Desa Sirnaresmi Cisolok. Sukabumi: Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Inilahkoran. (2026). Kebakaran Hebat Melanda Kampung Adat Ciptamulya Cisolok Sukabumi. Diakses dari portal berita Inilahkoran.id.

Nandi, N. (2020). Mitigasi Bencana dan Penginderaan Jauh dalam Geografi Lingkungan. Jurnal Geografi Gea, 20(1), 12-25.

Sumaatmadja, N. (1988). Studi Geografi: Pendekatan dan Metodologi. Bandung: Alumni.

Suryana, A. (2019). Kearifan Lokal dan Tata Ruang Permukiman Adat Kasepuhan di Jawa Barat. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 30(2), 110-125.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *