Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Dari Fotogrametri ke Gaussian Splatting: Cerita di Balik Sebuah Penelitian

Penulis : Muhammad Nauval PahleFi (SaIG, 2204813)

Penyunting : Reva Laelatul Zahra

Ada dua cara orang memulai sebuah pencarian. Sebagian memulainya dengan peta yang sudah lengkap, tahu persis titik berangkat dan titik tiba sebelum kaki melangkah sama sekali. Sebagian lain memulainya justru tanpa peta apa pun, hanya berbekal satu pertanyaan yang belum terjawab dan keberanian secukupnya untuk mencoba mencari jawabannya sambil berjalan. Skripsi saya lebih dekat pada jenis yang kedua. Saya tidak memulai dengan kepastian, melainkan dengan rasa penasaran yang terus tumbuh setiap kali satu pertanyaan terjawab dan memunculkan pertanyaan baru.

Titik paling awal dari semua ini bukanlah topik yang saya bawa sekarang. Menentukan apa yang ingin diteliti ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar memilih sesuatu yang kedengarannya menarik. Saya harus terus-menerus menimbang: apakah persoalannya cukup relevan untuk dikaji, apakah data pendukungnya benar-benar bisa didapatkan, apakah metodenya realistis untuk dikerjakan dalam waktu yang saya punya, dan pertanyaan yang paling sering muncul kembali — apakah saya benar-benar sanggup menuntaskannya. Beberapa rencana awal yang tadinya terasa solid akhirnya kandas begitu berhadapan dengan kondisi data dan metode yang sesungguhnya.

Dari proses meraba-raba itu saya mulai menyadari sesuatu: penelitian yang baik tidak harus lahir dari ide yang sudah matang sejak awal. Justru sering kali ia tumbuh dari rasa tidak yakin yang terus dipertanyakan ulang. Minat saya pada rekonstruksi ruang tiga dimensi dan fotogrametri pelan-pelan membawa saya berkenalan dengan 3D Gaussian Splatting(3DGS) — sebuah pendekatan yang menjanjikan cara berbeda dalam merekonstruksi dan menyajikan objek maupun lingkungan secara tiga dimensi. Istilah-istilah seperti Gaussian, rendering, dan training iteration awalnya terasa seperti bahasa asing yang harus saya pelajari dari nol. Namun semakin saya menyelaminya, semakin jelas satu pertanyaan mengendap sebagai inti penelitian ini: benarkah menambah jumlah iterasi training selalu berbanding lurus dengan kualitas visual yang dihasilkan?

Judul yang kini melekat pada skripsi ini bukan gagasan pertama yang saya ajukan. Rencana awal saya justru mengarah ke topik fotogrametri murni, bidang yang saat itu terasa sudah cukup saya kuasai dasar-dasarnya. Arah itu berubah setelah Pak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, memberi dorongan moral dan menyarankan saya untuk berdiskusi lebih dalam dengan Pak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T. Dalam diskusi itu, Pak Ihsan menyampaikan pandangannya bahwa topik fotogrametri sudah terlalu jenuh dibahas pada penelitian-penelitian terdahulu, dan menyarankan saya menjajaki 3D Gaussian Splatting sebagai pendekatan yang lebih segar dan belum banyak dikaji di lingkup program studi. Kombinasi dukungan moral dari Pak Lili dan arahan konkret dari Pak Ihsan itulah yang akhirnya menuntun saya pada topik yang saya kerjakan sampai selesai.

Pertanyaan awal tadi kemudian mengkristal menjadi sebuah penelitian tentang optimasi jumlah iterasi training pada metode 3D Gaussian Splatting terhadap kualitas visual rekonstruksi model tiga dimensi, dengan lokasi kajian di kawasan zona inti Stone Garden Citatah, Kabupaten Bandung Barat. Target saya bukan sekadar menghasilkan sebuah model tiga dimensi yang jadi, melainkan memahami secara terukur bagaimana perubahan jumlah iterasi memengaruhi hasil akhirnya. Sejak titik itu, penelitian mulai punya arah yang jelas — meski saya masih sama sekali tidak tahu seberapa panjang jalan yang harus ditempuh untuk benar-benar sampai pada jawabannya.

Tahap berikutnya adalah membenamkan diri dalam literatur. Satu demi satu jurnal saya telaah, penelitian-penelitian sejenis saya bandingkan, kerangka teori saya susun, dan celah-celah yang belum terjawab saya cari satu per satu. Semakin banyak saya membaca, semakin saya sadar bahwa tujuan penelitian bukan untuk membuktikan bahwa saya sudah menguasai segalanya, melainkan sebaliknya — untuk menemukan betapa banyak hal yang justru belum saya pahami. Satu jurnal kerap mengantarkan saya ke jurnal lain, satu istilah baru membuka rangkaian pertanyaan susulan, dan pemahaman yang baru saja saya rasa mantap sering kali runtuh begitu bertemu literatur berikutnya yang menantangnya.

Dari sanalah bab-bab skripsi mulai terbentuk. Bab pertama perlahan menemukan kerangkanya, bab kedua terisi oleh tinjauan teori dan kajian terdahulu, sementara bab ketiga saya susun agar setiap tahapan penelitian punya alur metodologi yang runtut. Namun naskah yang tampak rapi di layar komputer sering menyembunyikan proses yang jauh lebih berantakan di baliknya: ada paragraf yang terpaksa saya tulis ulang beberapa kali, ada bagian yang dipertanyakan kembali oleh pembimbing, dan ada rencana kerja yang harus saya sesuaikan begitu kondisi lapangan tidak sesuai perkiraan. Pada fase inilah saya belajar memandang revisi bukan sebagai bukti kegagalan, melainkan sebagai mekanisme wajar untuk menyempurnakan sesuatu yang memang belum utuh.

Begitu proposal rampung dan seminar proposal terlewati, fokus saya bergeser dari meja kerja ke lapangan sesungguhnya. Stone Garden Citatah yang sebelumnya hanya menjadi nama pada judul penelitian, kini berubah menjadi tempat konkret pengambilan data. Proses akuisisi data mengajarkan saya bahwa penelitian lapangan menuntut lebih dari sekadar penguasaan teknis alat: ada perencanaan logistik, penyesuaian dengan kondisi cuaca dan medan, serta pengaturan sudut dan urutan pengambilan gambar yang harus benar-benar diperhitungkan agar data yang diperoleh layak diolah pada tahap selanjutnya. Saya juga menyadari bahwa kualitas hasil akhir sebuah rekonstruksi tidak semata ditentukan oleh kecanggihan perangkat lunak, tetapi juga oleh ketelitian sejak proses pengambilan data di lapangan.

Setelah data terkumpul, saya memasuki tahap yang mungkin paling menguras kesabaran: pengolahan dan analisis. Ratusan foto harus diproses lebih dulu untuk membangun informasi dasar sebelum masuk ke tahap rekonstruksi menggunakan 3D Gaussian Splatting. Tidak semua proses berjalan mulus — beberapa harus dihentikan di tengah jalan dan diulang dari awal karena hasil yang tidak sesuai harapan. Ada momen ketika komputer bekerja berjam-jam sementara hasil yang saya tunggu belum juga terlihat, dan di situlah saya belajar bahwa mengoperasikan sebuah perangkat lunak bukan sekadar menjalankan perintah, melainkan juga soal membaca pesan kesalahan, memahami logika di balik prosesnya, dan memiliki kesabaran untuk mencoba lagi ketika hasil pertama tidak sesuai rencana.

Kemudian tibalah fase ketika deretan angka iterasi menjadi variabel utama penelitian ini. Model saya latih pada lima titik uji: 5.000, 10.000, 15.000, 20.000, hingga 30.000 iterasi. Pada mulanya, angka-angka itu hanya terasa sebagai parameter teknis dalam proses training. Namun setelah hasil masing-masing titik uji saya bandingkan, tampak jelas bahwa setiap kenaikan jumlah iterasi membawa konsekuensi ganda — terhadap kualitas visual di satu sisi, dan terhadap beban waktu komputasi di sisi lain. Nilai PSNR, SSIM, dan LPIPS menjadi alat ukur yang membantu saya melihat perubahan kualitas secara lebih objektif, sementara pencatatan waktu komputasi membantu menilai apakah kenaikan kualitas tersebut sepadan dengan sumber daya yang harus dikorbankan untuk mencapainya.

Dari rangkaian eksperimen itu saya memahami bahwa optimasi bukan soal mengejar nilai yang paling maksimal. Yang saya cari bukan jumlah iterasi terbesar, melainkan titik ketika kualitas visual sudah cukup baik namun waktu komputasi yang dibutuhkan masih masuk akal untuk dipertimbangkan. Ada rentang tertentu ketika penambahan iterasi masih memberi peningkatan yang berarti, tetapi ada pula titik ketika tambahan proses hanya menghasilkan perubahan yang nyaris tidak terasa. Pelajaran yang saya bawa dari sini sederhana: lebih banyak tidak otomatis berarti lebih baik, dan lebih lama tidak selalu menjadi pilihan yang paling efisien.

Perjalanan ini sama sekali tidak saya tempuh sendirian. Pak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing 1, memberi kontribusi yang sangat besar sepanjang proses ini, bahkan bersedia meluangkan waktu bimbingan hampir setiap hari pada masa-masa ketika penelitian saya terasa kehilangan arah. Sementara itu, Bu Anisa Nabila Rizki Ramadhani, S.T., M.T., selaku Dosen Pembimbing 2, membimbing dengan ketelitian luar biasa terhadap setiap detail penulisan, memastikan setiap kalimat dan data yang saya sajikan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Pertanyaan-pertanyaan kritis dari keduanya kerap memaksa saya meninjau ulang hal-hal yang tadinya saya anggap sudah final, dan koreksi mereka berdua yang membuat penelitian ini menjadi jauh lebih kokoh dibanding versi awalnya. Dari proses bimbingan ini saya belajar bahwa peran pembimbing tidak selalu memberi jawaban langsung; kadang mereka hanya melontarkan satu pertanyaan tajam yang memaksa saya berpikir lebih dalam, atau satu catatan kecil yang membuka kekurangan yang sebelumnya luput dari perhatian saya sendiri.

Ada pula orang-orang lain yang turut mewarnai perjalanan ini dengan caranya masing-masing. Teman-teman seangkatan menjadi tempat berbagi cerita, berdiskusi soal revisi, atau sekadar pengingat bahwa saya tidak sedang berjuang sendirian. Dukungan itu sering datang dalam bentuk yang sangat sederhana dan bahkan mungkin terasa remeh saat itu terjadi. Namun pada hari-hari ketika semangat menipis, satu kalimat singkat seperti ajakan untuk terus lanjut bisa menjadi alasan yang cukup kuat untuk kembali membuka laptop dan meneruskan pekerjaan yang tertunda.

Mengerjakan skripsi ternyata menguji lebih dari sekadar penguasaan teori, metode, atau kemampuan mengolah data. Ia juga menguji kesabaran, konsistensi, dan kesediaan menerima kenyataan bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai rencana. Ada hari-hari ketika saya merasa yakin penelitian ini akan berjalan lancar, namun ada pula hari ketika satu halaman saja terasa mustahil untuk diselesaikan. Ada saat hasil yang saya peroleh jauh dari harapan sehingga seluruh proses harus diulang dari awal. Pada titik-titik semacam itu saya belajar bahwa rasa ragu tidak selalu menandakan langkah yang keliru — kadang ia hanya menandakan bahwa saya sedang berada di bagian perjalanan yang belum sepenuhnya saya pahami.

Waktu berjalan tanpa peduli seberapa siap saya menghadapinya. Gagasan yang dulu hanya berupa rencana kasar berangsur berubah wujud menjadi tabel data, grafik perbandingan, model rekonstruksi, dan hasil analisis yang utuh. Halaman-halaman yang tadinya kosong perlahan terisi, dan pertanyaan-pertanyaan besar yang dulu terasa menakutkan mulai menemukan jawabannya satu per satu. Tidak semuanya berjalan sempurna, tetapi setidaknya saya mulai bisa melihat bahwa proses panjang ini memang membawa saya ke suatu titik yang nyata.

Sampai akhirnya tiba hari yang sejak awal terasa jauh: sidang skripsi. Rasa gugup sulit disembunyikan, berbagai kemungkinan pertanyaan berputar di kepala, dan ada kekhawatiran bahwa masih banyak celah dalam penelitian yang saya kerjakan berbulan-bulan. Namun di tengah kecemasan itu, ada satu hal yang terus saya pegang: saya sudah menempuh jarak sejauh ini. Begitu sesi presentasi dimulai, seluruh proses yang selama ini terasa terpisah-pisah — topik, data, pengolahan, analisis, revisi — perlahan menyatu menjadi satu rangkaian cerita yang utuh.

Ketika semuanya berakhir, yang saya rasakan bukan sekadar lega. Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika menoleh kembali ke seluruh proses dari awal. Saya menyadari penelitian ini bukan selesai karena semuanya berjalan mulus tanpa hambatan, melainkan karena setiap kali sesuatu meleset dari rencana, saya memilih mencoba lagi. Setiap kesalahan membuka ruang untuk perbaikan, setiap kritik menjadi bahan belajar, dan setiap hambatan pada akhirnya menjadi bagian dari cerita yang mengantarkan saya sampai ke halaman terakhir.

Skripsi ini mengajarkan banyak hal yang tidak pernah tertulis dalam buku teori mana pun: tentang menerima kenyataan bahwa tidak semua rencana berjalan sempurna, tentang tetap bekerja meski motivasi sedang di titik terendah, tentang menerima kritik tanpa merasa seluruh usaha jadi sia-sia, dan tentang keberanian meminta bantuan ketika memang tidak sanggup berjalan sendiri. Pelajaran yang paling saya bawa pulang adalah soal konsistensi — semangat memang bisa naik turun, tetapi langkah kecil yang terus dilakukan pada akhirnya yang membawa kita mendekati garis akhir.

Untuk teman-teman seperjuangan yang tengah menjalani proses serupa: terima kasih untuk setiap obrolan di sela kesibukan, bantuan yang muncul tepat saat dibutuhkan, diskusi seputar penelitian, dan kebersamaan dalam menghadapi berbagai ketidakpastian. Barangkali kelak kita tidak lagi mengingat berapa kali laptop dibuka, berapa banyak revisi yang dikerjakan, atau berapa lama menunggu satu proses selesai. Namun saya yakin, kita akan tetap mengingat rasanya berjuang bersama — sama-sama lelah, sama-sama cemas, sama-sama tidak tahu kapan semuanya akan tuntas, tetapi tetap memilih untuk terus melangkah.

Untuk adik-adik tingkat yang suatu saat akan memulai perjalanan skripsinya sendiri, saya hanya ingin menitipkan satu hal: tidak masalah bila hari ini kalian belum tahu seluruh arah perjalanan. Tidak masalah bila langkahnya masih pelan, bila topik penelitian berubah di tengah jalan, atau bila masih banyak hal yang belum kalian pahami sepenuhnya. Kerjakan saja apa yang bisa dikerjakan hari ini — satu paragraf, satu bagian kecil, satu perbaikan sekecil apa pun. Prosesnya tidak harus cepat dan tidak harus sempurna sejak awal, yang penting jangan berhenti terlalu lama di satu titik.

Sebab suatu hari nanti, tanpa benar-benar menyadarinya, kalian akan membuka kembali halaman pertama dan melihat betapa jauh jarak yang sudah ditempuh. Kalian mungkin akan mengingat rasa takut ketika pertama kali memulai, kebingungan saat mencari arah, lelah ketika menghadapi revisi, dan kelegaan ketika akhirnya semua selesai. Pada saat itu, mungkin kalian akan tersenyum sendiri sambil berkata dalam hati bahwa ternyata perjalanan ini benar-benar bisa dituntaskan.

Kini, ketika saya menoleh kembali pada seluruh proses skripsi ini, yang saya lihat bukan sekadar sebuah penelitian tentang 3D Gaussian Splatting. Saya melihat ratusan foto yang pernah dikumpulkan, proses pengolahan yang berulang kali dijalankan dan diulang, model-model yang dibandingkan satu sama lain, angka-angka yang dianalisis dengan teliti, revisi yang pernah terasa melelahkan, serta orang-orang yang hadir sepanjang perjalanan ini. Lebih dari itu, saya melihat diri saya sendiri yang ternyata telah belajar jauh lebih banyak dari yang saya bayangkan ketika pertama kali memulai semuanya.

Barangkali, pada akhirnya skripsi bukan semata tentang sebuah karya ilmiah yang selesai dikerjakan. Ia adalah cerita tentang seseorang yang sempat ragu namun tetap memilih mencoba, tentang sebuah perjalanan yang tidak selalu menunjukkan arah dengan gamblang, dan tentang keberanian untuk terus melangkah meski tujuan akhir masih terasa jauh dari jangkauan. Saya mungkin belum tahu ke mana jalan berikutnya akan membawa saya, tetapi saya sudah tidak lagi terlalu takut untuk menghadapinya.

Dan barangkali, itulah pelajaran paling berharga dari seluruh proses ini: sampai ke tujuan tidak dimulai dari mengetahui segalanya lebih dulu, melainkan dari keberanian mengambil satu langkah, lalu satu langkah lagi, hingga tanpa disadari kita benar-benar telah tiba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *