Penulis: Ani Lutfiana (2402320) & Muhammad Farhan Nurhakim (2408870)
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi persoalan lingkungan yang mendapat perhatian di Indonesia pada Agustus 2026. Sejumlah wilayah di Kalimantan menghadapi peningkatan risiko kebakaran seiring dengan berlangsungnya musim kemarau. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena fenomena El Niño pada tahun ini berada pada intensitas yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada dalam fase positif. Kedua fenomena tersebut berkontribusi terhadap kondisi yang lebih kering di sebagian wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan dan karhutla, termasuk di sejumlah wilayah Kalimantan.
Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena karakteristik geografisnya memiliki kawasan hutan dan lahan gambut yang luas. Ketika musim kemarau berlangsung panjang, vegetasi dan bahan organik menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar. Permasalahan menjadi semakin kompleks ketika kondisi alam tersebut bertemu dengan aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan menggunakan api, kelalaian, perubahan penggunaan lahan, serta pengelolaan lahan gambut yang kurang tepat.
Oleh karena itu, muncul pertanyaan penting dalam memahami karhutla di Kalimantan: apakah kebakaran yang terjadi benar-benar disebabkan oleh perubahan kondisi iklim, atau justru sebagian besar berasal dari aktivitas manusia? Pertanyaan tersebut penting karena El Niño pada dasarnya tidak menyalakan api. Fenomena iklim membuat lingkungan menjadi lebih kering dan mudah terbakar, sedangkan sumber api pada banyak kasus berkaitan dengan aktivitas manusia.

Foto Kebakaran Hutan di kawasan Kalimantan (Foto: AL ZULKIFLI/AFP).
El Niño merupakan fenomena iklim yang ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini dapat mempengaruhi pola curah hujan di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Dalam kondisi El Niño, sebagian besar wilayah Indonesia cenderung mengalami penurunan curah hujan sehingga musim kemarau dapat menjadi lebih kering dan berlangsung lebih lama.
Kondisi tersebut terlihat pada Agustus 2026. Analisis BMKG pada dasarian pertama Agustus menunjukkan nilai indeks Nino 3.4 sebesar +2,77 yang dikategorikan sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat. Pada periode yang sama, indeks IOD juga berada pada fase positif. BMKG mencatat bahwa sejumlah wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur mengalami kondisi kekeringan dengan tingkat yang berbeda-beda.
Pada pertengahan Agustus, BMKG juga mencatat bahwa 76,5 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia, sementara kondisi hujan di bawah normal juga cukup luas. Di tengah kondisi tersebut, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terpantau terutama di Kalimantan dan Papua.
Dengan demikian, faktor iklim memang memiliki hubungan yang kuat dengan meningkatnya risiko karhutla. Penelitian mengenai hubungan El Niño, IOD, dan luas area terbakar di Indonesia juga menunjukkan bahwa luas kebakaran di Kalimantan cenderung meningkat ketika El Niño dan IOD positif menjadi lebih kuat. Pada kejadian El Niño yang lebih kuat, luas area terbakar di Kalimantan dapat meningkat secara signifikan dibandingkan kondisi tahun normal.
Namun, kondisi kering tidak dapat dianggap sebagai penyebab tunggal. El Niño lebih tepat dipahami sebagai faktor yang memperbesar kerentanan suatu wilayah terhadap kebakaran. Api tetap membutuhkan sumber penyulut. Di sinilah aktivitas manusia menjadi bagian penting dalam persoalan karhutla.
Apakah Kebakaran Kalimantan Sengaja Dibakar?
Jawabannya tidak dapat digeneralisasi bahwa seluruh kebakaran di Kalimantan sengaja dilakukan. Setiap lokasi kebakaran memiliki penyebab yang harus ditelusuri melalui investigasi lapangan. Akan tetapi, berbagai penelitian dan penanganan kasus karhutla menunjukkan bahwa aktivitas manusia merupakan faktor penting dalam munculnya kebakaran.
Penelitian mengenai kebakaran lahan gambut di Indonesia menunjukkan bahwa sebagian besar kebakaran lahan gambut berkaitan dengan aktivitas antropogenik. Api dapat berasal dari kegiatan pembukaan lahan skala kecil maupun persiapan kawasan untuk perkebunan. Kondisi tersebut kemudian menjadi jauh lebih sulit dikendalikan ketika terjadi pada musim kemarau atau pada tahun dengan kondisi El Niño.
Kondisi tersebut juga terlihat dari penanganan karhutla di Indonesia pada 2026. Kementerian Kehutanan pada 24 Agustus 2026 melaporkan bahwa penyidik sedang menangani sejumlah perkara dugaan tindak pidana karhutla. Perkara tersebut antara lain berkaitan dengan pembukaan kawasan menggunakan cara membakar, dugaan jual-beli kawasan hutan, perambahan kawasan, serta kasus yang melibatkan korporasi.
Fakta tersebut menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus memang terdapat indikasi kuat bahwa api berkaitan dengan aktivitas manusia. Namun, hal tersebut tidak berarti seluruh titik panas yang terdeteksi satelit merupakan hasil pembakaran yang disengaja. Titik panas dapat berasal dari berbagai sumber dan tetap memerlukan verifikasi di lapangan untuk menentukan penyebab sebenarnya.
Selain pembakaran yang disengaja, kebakaran juga dapat terjadi karena kelalaian. Api yang berasal dari aktivitas manusia dapat menyebar ketika vegetasi dalam kondisi sangat kering. Bahkan puntung rokok atau api kecil yang tidak terkendali dapat menjadi sumber kebakaran ketika kondisi lingkungan sangat mudah terbakar. Karena itu, peningkatan risiko karhutla pada musim kemarau bukan hanya persoalan cuaca, tetapi juga persoalan perilaku dan pengelolaan lingkungan.
Mengapa Lahan Gambut di Kalimantan Sangat Rentan Terbakar?
Salah satu alasan karhutla di Kalimantan dapat berkembang menjadi persoalan besar adalah keberadaan lahan gambut. Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik yang mengalami proses penguraian secara tidak sempurna dalam kondisi jenuh air. Karena mengandung banyak bahan organik dan karbon, gambut memiliki karakteristik yang berbeda dengan tanah mineral.
Ketika lahan gambut berada dalam kondisi basah, air membantu menjaga gambut agar tidak mudah terbakar. Masalah muncul ketika gambut mengalami pengeringan, terutama akibat drainase untuk kepentingan pertanian atau perkebunan. Gambut yang kehilangan air dapat berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah terbakar.
Penelitian tentang kebakaran gambut di Indonesia menjelaskan bahwa drainase, pembalakan, dan perubahan penggunaan lahan telah menyebabkan degradasi sebagian kawasan gambut dan meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran. Kebakaran pada lahan gambut juga dapat terjadi di bawah permukaan tanah sehingga pemadaman menjadi jauh lebih sulit.

Lahan Gambut yang Berbatasan dengan Kebub Sawit (Foto: DOK.YKAN).
Kondisi tersebut terlihat pada penanganan karhutla di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Pada 23 Agustus 2026, Kementerian Kehutanan melaporkan bahwa meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat, kawasan gambut masih mengeluarkan asap. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebakaran gambut tidak selalu dapat dilihat hanya dari api yang muncul di permukaan.
Karakteristik tersebut membuat kebakaran gambut menjadi persoalan yang lebih serius dibandingkan kebakaran vegetasi biasa. Api dapat merambat di bawah permukaan, sulit dideteksi secara visual, dan dapat kembali muncul setelah dianggap padam. Ketika kondisi cuaca tetap kering, proses pemadaman menjadi semakin sulit.
Kalimantan sebagai Wilayah yang Rentan terhadap Karhutla
Secara geografis, Kalimantan memiliki kombinasi kondisi yang membuat beberapa wilayahnya rentan terhadap karhutla. Keberadaan kawasan hutan, lahan gambut, perkebunan, serta wilayah yang mengalami perubahan penggunaan lahan membentuk kondisi yang kompleks.
Pada Agustus 2026, pemerintah memperkuat operasi pengendalian karhutla terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Kebijakan tersebut dilakukan setelah terjadi peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi dan adanya laporan mengenai kabut asap serta gangguan jarak pandang di sejumlah wilayah.
Data hotspot juga menunjukkan bahwa kondisi kebakaran dapat berubah dengan cepat. Kementerian Kehutanan mencatat jumlah hotspot nasional berdasarkan pemantauan satelit Terra-Aqua NASA turun dari 2.170 titik pada 19 Agustus menjadi 950 titik pada 20 Agustus 2026. Penurunan terbesar terjadi di Kalimantan Barat, yaitu dari 784 titik menjadi 82 titik. Meskipun demikian, penurunan hotspot dalam satu hari tidak berarti ancaman karhutla telah sepenuhnya berakhir karena kondisi kering masih berlangsung.
Pemanfaatan data satelit tersebut menunjukkan pentingnya teknologi penginderaan jauh dalam pemantauan karhutla. Hotspot dapat digunakan sebagai indikasi awal lokasi yang memiliki anomali suhu permukaan dan berpotensi berkaitan dengan kebakaran. Data tersebut kemudian dapat dipadukan dengan informasi curah hujan, tutupan lahan, jenis tanah, jaringan jalan, penggunaan lahan, dan data sosial ekonomi untuk memahami pola kebakaran secara lebih menyeluruh.
Dalam perspektif geografi, pendekatan tersebut menjadi penting karena karhutla bukan hanya fenomena lingkungan, tetapi juga fenomena spasial. Kebakaran tidak tersebar secara acak. Lokasinya dapat berkaitan dengan karakteristik fisik wilayah dan aktivitas manusia di sekitarnya.
Dampak Karhutla Tidak Berhenti pada Lokasi Kebakaran
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh wilayah yang terbakar. Asap yang dihasilkan dapat terbawa angin menuju wilayah lain. Pada kondisi tertentu, kabut asap bahkan dapat melintasi batas administratif dan batas negara.
BMKG pada 25 Agustus 2026 menjelaskan bahwa sebaran asap karhutla di Kalimantan Timur umumnya bergerak ke arah barat laut hingga timur laut dan dapat melewati batas administratif menuju Kalimantan Utara serta Sabah, Malaysia.
Dampak yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah penurunan kualitas udara. Kebakaran lahan gambut menghasilkan asap yang mengandung partikulat halus seperti PM2.5. Partikel tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan menimbulkan risiko kesehatan.
Penelitian mengenai dampak kesehatan kebakaran gambut di Kalimantan Tengah menunjukkan bahwa kebakaran gambut berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi PM2.5 dan dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa dampak asap dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak.
Penelitian yang lebih luas mengenai dampak kesehatan kebakaran gambut di Sumatra dan Kalimantan juga menunjukkan bahwa paparan PM2.5 dari kebakaran gambut berhubungan dengan peningkatan risiko kematian dini, rawat inap akibat penyakit pernapasan, serangan asma pada anak, serta hilangnya hari kerja.
Selain kesehatan, karhutla dapat mengganggu aktivitas masyarakat, transportasi, pendidikan, perekonomian, dan ekosistem. Hilangnya vegetasi dan habitat akibat kebakaran juga dapat mengurangi fungsi ekologis kawasan. Dengan demikian, kebakaran yang awalnya terjadi pada suatu petak lahan dapat berkembang menjadi masalah yang berdampak jauh lebih luas.
Memahami Karhutla sebagai Gabungan Faktor Alam dan Manusia
Melihat kondisi tersebut, kurang tepat apabila karhutla Kalimantan hanya dijelaskan sebagai akibat El Niño. Sebaliknya, menyebut semua kebakaran sebagai akibat pembakaran sengaja oleh manusia juga merupakan penyederhanaan yang tidak tepat.
Karhutla lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor iklim, kondisi lingkungan, penggunaan lahan, dan aktivitas manusia. El Niño dan IOD positif menyebabkan kondisi lebih kering. Kondisi tersebut menurunkan kelembaban vegetasi dan meningkatkan kerentanan lahan terhadap api. Perubahan penggunaan lahan dan pengeringan gambut kemudian dapat memperbesar kerentanan tersebut. Ketika terdapat sumber api dari aktivitas manusia, kebakaran lebih mudah berkembang dan sulit dikendalikan.
Hubungan tersebut dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:
El Niño + IOD positif → curah hujan berkurang → kondisi lahan mengering → kerentanan terhadap api meningkat → sumber api dari aktivitas manusia → kebakaran berkembang → asap dan dampak lingkungan serta sosial.
Artinya, iklim dapat menjadi faktor penguat, tetapi bukan berarti iklim secara langsung menciptakan api. Hal ini penting dalam menentukan strategi penanggulangan. Jika pemerintah hanya berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi, akar persoalan tidak sepenuhnya terselesaikan.
Upaya Pencegahan dan Pengendalian
Pencegahan karhutla perlu dilakukan sebelum api muncul. Pemantauan hotspot menggunakan satelit menjadi salah satu instrumen penting untuk mendeteksi wilayah yang memiliki indikasi kebakaran. Data tersebut dapat dipadukan dengan informasi cuaca dan kondisi lahan untuk menentukan wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Pengendalian Karhutla KEMENHUT (Foto: KEMENHUT).
Selain pemantauan teknologi, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan juga diperlukan. Kasus-kasus yang sedang ditangani Kementerian Kehutanan menunjukkan pentingnya penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran atau aktivitas ilegal yang berkaitan dengan karhutla.
Pengelolaan lahan gambut juga harus menjadi bagian utama dari pencegahan. Menjaga kelembaban gambut, mengendalikan drainase, melakukan pembasahan kembali pada kawasan yang terdegradasi, serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dapat membantu mengurangi risiko kebakaran.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu mendapatkan alternatif pembukaan lahan yang tidak menggunakan api. Penelitian mengenai pengendalian kebakaran menunjukkan bahwa pembukaan lahan dan kelalaian manusia merupakan faktor penting dalam terjadinya kebakaran, sehingga pencegahan juga perlu menyentuh aspek perilaku masyarakat dan pengelolaan lahan.
Pemerintah juga telah melakukan langkah antisipasi melalui operasi modifikasi cuaca. Pada 25 Agustus 2026, BMKG bersama OIKN, TNI AU, BNPB, dan Pemerintah Kalimantan Timur melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk mengatasi defisit air dan membantu mengantisipasi karhutla di Kalimantan Timur.
Daftar Pustaka
Annisa Amalia Zahro (2026). BMKG, OIKN, TNI AU, dan BNPB laksanakan OMC di IKN dan Kaltim, antisipasi kekeringan dan karhutla. https://www.bmkg.go.id/cuaca/potensi-hujan-sepekan/prakiraan-cuaca-indonesia-sepekan-periode-25-31-agustus-2026-kemarau-dan-risiko-karhutla-meningkat-namun-potensi-hujan-lokal-masih-ada?
Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. (2026). Tinjau karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api sudah tak terlihat tapi gambut masih berasap. https://www.kehutanan.go.id/pers/tinjau-karhutla-kalsel-menhut-raja-antoni-api-sudah-tak-terlihat-tapi-gambut-masih-berasap-1
Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. (2026). Kemenhut bongkar motif di balik karhutla, dari jual beli kawasan hingga perambahan, korporasi dan individu jadi tersangka. https://www.kehutanan.go.id/news/kemenhut-bongkar-motif-di-balik-karhutla-dari-jual-beli-kawasan-hingga-perambahan-korporasi-dan-individu-jadi-tersangka?
Puji Rosita Anggraini Sibuea (2026). Prakiraan cuaca Indonesia sepekan periode 25-31 Agustus 2026: Kemarau dan risiko karhutla meningkat, namun potensi hujan lokal masih ada. https://www.bmkg.go.id/cuaca/potensi-hujan-sepekan/prakiraan-cuaca-indonesia-sepekan-periode-25-31-agustus-2026-kemarau-dan-risiko-karhutla-meningkat-namun-potensi-hujan-lokal-masih-ada?
Isal Mawardi (2026). Anggota DPR Desak Kemenkeu Cairkan Rp 290 M untuk Tangani Karhutla Kalimantan" https://news.detik.com/berita/d-8626419/anggota-dpr-desak-kemenkeu-cairkan-rp-290-m-untuk-tangani-karhutla-kalimantan.