Penulis: Chelomita Trivena Simarmata (2402781)
Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)
Di tengah derasnya arus komersialisasi pendidikan dan tuntutan pragmatis era digital saat ini, kembali membuka lembaran buku klasik karya Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas, menghadirkan sebuah permenungan yang kontemporer sekaligus menggelisahkan. Karya monumental ini bukan sekadar arsip teoretis bagi para akademisi menara gading, melainkan cermin retak yang memantulkan wajah ruang-ruang kelas kita hari ini yang sering kali kering dari jiwa kemanusiaan. Membaca gagasan Freire di masa kini membawa saya pada sebuah kesadaran bahwa penindasan di era modern tidak lagi selalu datang dalam wujud rantai besi, melainkan hadir melalui pembungkusan kurikulum yang mereduksi manusia menjadi sekadar roda-roda penggerak industri yang patuh dan bisu.

Freire dengan sangat tajam membongkar apa yang ia sebut sebagai sistem pendidikan gaya bank, sebuah metode di mana guru bertindak sebagai pendepositor pengetahuan dan siswa diposisikan sebagai celengan pasif yang hanya bertugas menerima, menghafal, dan menyimpan apa yang disuapkan tanpa pernah diajak menggali makna sejati dari ilmu yang diserapnya. Ketika saya mengamati realitas pendidikan hari ini, sistem gaya bank tersebut belum sepenuhnya punah, bahkan bermutasi menjadi bentuk yang lebih canggih di balik bungkus pencapaian angka-angka administratif dan target kelulusan yang kaku. Siswa kerap dilatih untuk menjadi mesin pencetak nilai ujian, dicekoki rumus-rumus dan informasi instan tanpa pernah diajak merenungkan esensi paling mendasar tentang untuk apa mereka belajar dan bagaimana ilmu tersebut dapat membebaskan diri mereka dari belenggu kebodohan serta ketimpangan sosial. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang dialogis yang memanusiakan justru kerap berubah menjadi pabrik indoktrinasi halus yang melahirkan kepatuhan buta, menjauhkan anak-anak muda dari keberanian untuk meragukan kemapanan yang tidak adil.

Namun, di sinilah letak keindahan radikal dari pemikiran Freire yang paling beresonansi dengan pergulatan batin saya sebagai pembaca, yakni keyakinannya bahwa pendidikan yang sejati adalah praktik kebebasan. Freire menegaskan bahwa pendidikan tidak pernah berdiri di ruang hampa yang netral, melainkan selalu memihak; ia bisa menjadi alat untuk melanggengkan penyesuaian diri terhadap sistem yang opresif, atau justru menjelma sebagai obor pembebasan yang menuntun manusia untuk berpartisipasi aktif dalam mentransformasi dunia mereka. Di era informasi digital saat ini, di mana arus disinformasi dan algoritma media sosial mendikte cara kita berpikir, merasa, dan bertindak, gagasan Freire tentang kesadaran kritis menjadi sangat mendesak untuk dihidupkan kembali. Kita sedang menghadapi bentuk penjajahan baru atas nalar, dan tanpa pendidikan yang menumbuhkan daya kritis, generasi masa depan hanya akan menjadi buih yang terombang-ambing di lautan disinformasi.

Oleh karena itu, menyelami kembali pemikiran Paulo Freire di tengah carut-marut pendidikan kontemporer menyadarkan saya bahwa tugas seorang pendidik dan setiap insan yang mendambakan pencerahan bukanlah menjejalkan tumpukan fakta mati ke dalam kepala anak didik, melainkan menyalakan api kesadaran di dalam relung sanubari mereka. Ruang kelas harus kembali direbut sebagai ruang perjumpaan yang hangat, tempat di mana empati bertumbuh, pertanyaan-pertanyaan liar diayomi, dan keberanian untuk membela kebenaran dirawat dengan penuh kasih. Sebab pada akhirnya, seperti yang diwariskan oleh Freire melalui lembaran-lembaran bukunya, tidak ada pendidikan yang bermakna di luar pencarian manusia yang tak pernah padam akan martabat, keadilan, dan kebebasan hakiki.
Pendidikan harus mengembalikan fitrahnya sebagai medium untuk menyingkap selubung realitas yang timpang, memberikan suara pada mereka yang dibungkam, serta membangun keberadaban baru yang berlandaskan pada keadilan sosial. Sebab pada akhirnya, seperti yang diwariskan oleh Freire melalui lembaran-lembaran bukunya, tidak ada pendidikan yang bermakna di luar pencarian manusia yang tak pernah padam akan martabat, keadilan, dan kebebasan hakiki. Membebaskan pikiran bukan lagi sekadar pilihan pedagogis, melainkan sebuah panggilan moral untuk menyelamatkan kemanusiaan kita.