Penulis: Nokia Sigalingging (SaIG, 2204677)
Penunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)

Dok. Penulis
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat menjalani kehidupan mahasiswa di Program Studi Sains Informasi Geografi. Di balik angka tersebut ada begitu banyak cerita yang tidak selalu terlihat, entah itu keputusan yang pernah diragukan, rencana yang berubah, kegagalan, hingga proses panjang menyelesaikan skripsi. Pada akhirnya, perjalanan ini bukan hanya tentang bagaimana saya mendapatkan gelar sarjana, tetapi juga tentang bagaimana saya belajar mengenal diri sendiri, menghadapi masalah, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang saya ambil, serta keberanian untuk keluar dari semua keraguan yang ada. Maka dari itu, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. beserta seluruh dosen yang telah memberikan arahan, dukungan, serta motivasi selama masa perkuliahan dan juga penyusunan tugas akhir yang membawa penulis hingga meraih gelar Sarjana Geografi. Tak lupa saya ucapkan terima kasih banyak kepada dosen pembimbing skripsi Bapak Hendro Murtianto, S.Pd. M.Sc. dan Ibu Silmi Afina Aliyan, S.T., M.T yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta masukan selama penulis menyusun tugas akhir ini.
Perjalanan skripsi penulis dimulai ketika mengambil mata kuliah Metode Penelitian SaIG, tepatnya di semester lima yang diampu oleh Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. Saat di kelas, beliau menjelaskan bagaimana proses penyusunan proposal skripsi dari awal hingga akhir dengan mengangkat suatu isu yang dapat dikembangkan menjadi sebuah penelitian. dimulai dari isu yang ada di lingkungan sekitar. Pada saat itu, saya sudah terpikirkan untuk membawa isu polusi cahaya di sekitar Observatorium Bosscha, Lembang. Namun, seiring berjalannya waktu saya memiliki keraguan terhadap apa yang saya bawa karena keterbatasan data dan juga kompleksitas penelitian yang dibawa terlalu kecil, hingga pada akhirnya saya ragu dan tidak jadi melanjutkan isu ini hingga pada akhirnya saya merasa burn out dan kebingungan untuk mencari judul penelitian yang nantinya saya angkat.
Pada pertengahan 2025, akhirnya penulis mendapatkan judul penelitian yang bisa dibawa yakni pendeteksian deformasi permukaan di sekitar lapangan panas bumi dan membawa saya bisa seminar proposal di Maret 2026. Pada awalnya saya yakin terhadap seluruh data yang akan digunakan pada penelitian ini pasti tersedia dan lengkap semuanya, tetapi keadaan berkata lain sehingga pada saat penulis mendapatkan dosen pembimbing membawa penulis merubah sekali lagi isu yang dibawa.

Dok. Penulis
Dengan waktu yang sempit dan tak mudah, penulis merombak kembali seluruh proposal penelitian. Pada saat itu penulis merasa cukup takut, apakah dapat menyelesaikan dalam waktu empat tahun ini atau justru membawa penulis menambah semester lagi. Hingga dalam waktu singkat, penulis mendapat topik penelitian yang bisa dibawa hingga menetapkan hati dengan membawakan judul Integrasi Persistent Scatterer Interferometric Synthetic Aperture Radar (PS-InSAR) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk Pemetaan Kerawanan Longsor di Sekitar Lapangan Panas Bumi Wayang Windu.
Pada saat penetapan judul tersebut, saya merasa yakin akan bisa menyelesaikannya dengan cepat. Namun, lagi-lagi kepercayaan diri ini runtuh karena pada saat itu mengalami kendala processing yang membawa penulis harus mengolah dengan waktu yang cukup lama karena seperti yang diketahui pengolahan citra radar cukup berat dengan datanya yang besar serta kendala saat pengolahannya. Selain itu, responden AHP yang telah ditentukan sulit untuk dijangkau sehingga dilakukan berbagai cara untuk mendapatkan responden dimulai menghubungi instansi hingga melalui media sosial dengan peluang balasnya yang lebih besar.
Kondisi ini membuat penulis menjadi belajar bahwa kita tidak bisa memegang kendali penuh atas semuanya dan hal-hal yang kita rencanakan tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan hingga membawa penulis dihantui rasa cemas dan merasa tertinggal dari teman-teman yang lain selama pada pengolahan data skripsi. Namun, pada saat itu saya yakin dan berserah penuh kepada Tuhan bahwa saya bisa melewati semuanya. Ya, proses pengolahan data skripsi telah saya lalui hingga proses analisis data, tetapi penulis masih terdapat kendala lain untuk mengumpulkan seluruh berkas administrasi sidang. Pada saat itu, hanya satu berkas sidang yang saya belum kumpulkan dan harus melewati test-nya terlebih dulu. Lagi dan lagi, penulis memiliki keraguan apakah bisa melewatinya hanya satu kali saja dan hanya bermodalkan belajar satu malam saja, Namun, saya bawa dalam doa saja dan serahkan semuanya ke dalam tangan Tuhan dan akhirnya saya lolos dan pada hari itu juga seluruh berkas sidang dapat terkumpulkan.
Dari seluruh perjalan skripsi saya, saya mendapat berbagai pelajaran kembali seringkali diri penulis melakukan sesuatu itu seperti deadliner. Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan atau mengumpulkan berkas secara mendadak bukanlah sesuatu yang bisa terus dipertahankan ketika berhadapan dengan tugas akhir. Skripsi mengajarkan bahwa setiap pekerjaan yang ditunda akan selalu menunggu untuk diselesaikan dan pada akhirnya dapat menumpuk menjadi sesuatu yang jauh lebih berat. Berkali-kali berjanji kepada diri sendiri untuk mengerjakan lebih awal, tetapi pada kenyataannya penulis masih sering kembali pada kebiasaan lama.
Yang lalu biarlah berlalu, penulis pada akhirnya mengakui atas kesalahan dan kelalaian yang telah dihadapi selama proses penyelesaian skripsi. Semoga kesalahan penulis selama proses perjalanan skripsi ini bisa menjadi pelajaran bagi adik tingkat selanjutnya, semoga ini menjadi pembelajaran untuk kita semua.

Dok. Penulis
Setelah melewati semuanya, akhirnya penulis menyelesaikan skripsi dan telah diterima oleh dosen pembimbing serta diajukan untuk masuk di tahap final pada tanggal 30 Juli 2026. Lalu pada tanggal 4 Agustus 2026 penulis mendaftarkan sidang dan tidak lama kemudian pada 11 Agustus 2026 penulis melaksanakan sidang. Di satu sisi rasa gugup selalu menghantui bagaimana caranya penulis menghadapi pertanyaan dari para penguji, tetapi di sisi lain ada rasa lega karena saya akhirnya sampai pada tahap ini. Sidang bukan hanya menjadi tempat untuk mempertanggungjawabkan penelitian yang telah saya kerjakan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa saya ternyata mampu melewati sesuatu yang sebelumnya berkali-kali penulis ragukan. Tidak semua pertanyaan dapat penulis jawab dengan sempurna. Tidak semua bagian penelitian berjalan tanpa kekurangan. Namun, penulis belajar bahwa sebuah penelitian memang tidak harus sempurna untuk menjadi bagian dari proses belajar.
