Penulis : Desy Fitriani Azhari (SaIG, 2206010)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Perjalanan panjang ini sebenarnya dimulai jauh sebelum saya benar-benar mengerjakan skripsi. Semuanya berawal dari kebingungan ketika harus menentukan judul penelitian. Saya sempat beberapa kali berganti judul karena masih mencari topik yang benar-benar ingin saya jalani sampai akhir. Ada banyak pertimbangan, banyak keraguan, dan banyak pertanyaan yang muncul sebelum akhirnya saya menemukan judul yang sampai hari ini masih saya gunakan dan akhirnya berhasil saya selesaikan. Ketika judul itu sudah ditetapkan, saya mencoba untuk mulai berjalan meskipun sebenarnya saya belum sepenuhnya yakin apakah pilihan tersebut sudah benar. Saya hanya berpikir bahwa kalau saya terus ragu dan tidak pernah mencoba, saya juga tidak akan pernah tahu sejauh mana saya bisa menyelesaikannya.
Pada akhirnya saya memilih untuk tetap menjalankan apa yang sudah saya mulai. Saya mulai mengerjakan sedikit demi sedikit, melewati berbagai proses, sampai akhirnya bisa mendaftarkan diri untuk seminar proposal. Saat berhasil sampai di tahap sempro, ada rasa lega yang cukup besar. Saya merasa satu langkah sudah berhasil dilewati dan perjalanan saya sebagai mahasiswa di program studi ini tinggal menyisakan beberapa tahap lagi. Saat itu saya berpikir bahwa setelah sempro, semuanya akan terasa lebih mudah karena arah penelitian sudah semakin jelas. Namun ternyata, justru setelah sempro saya melewati salah satu masa yang cukup berat selama mengerjakan skripsi.
Setelah seminar proposal selesai, saya sempat merasa sangat down. Banyak sekali hal yang tiba-tiba saya pertanyakan kembali. Saya mulai merasa apakah saya salah mengambil judul, apakah saya salah memilih metode, apakah penelitian ini memang bisa saya selesaikan, dan berbagai pikiran lainnya terus muncul. Ada masa ketika saya merasa seolah-olah keputusan yang saya ambil sejak awal semuanya salah. Rasanya ingin kembali ke awal dan memilih sesuatu yang berbeda. Namun, di tengah perasaan tersebut saya mencoba mengingat bahwa saya sudah berjalan cukup jauh. Saya tidak ingin berhenti hanya karena merasa takut atau ragu. Akhirnya saya memilih untuk bangkit dan membenahi kembali bagian-bagian yang masih kurang.
Setelah bisa mengumpulkan kembali semangat, saya mulai melanjutkan proses berikutnya, yaitu mencari data untuk penelitian. Ternyata mendapatkan data yang saya butuhkan juga bukan sesuatu yang mudah. Saya harus beberapa kali melakukan perjalanan ke wilayah penelitian saya di Kota Sukabumi. Selama kurang lebih satu bulan, saya harus bolak-balik ke Sukabumi, kurang lebih seminggu sekali, hanya untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk melanjutkan penelitian. Perjalanan tersebut tentu melelahkan, tetapi pada saat itu saya tahu bahwa data adalah salah satu hal penting yang harus saya dapatkan terlebih dahulu sebelum bisa benar-benar melanjutkan penelitian.

Selama berada di Sukabumi, saya sangat terbantu karena keluarga memberikan tempat tinggal dan selalu mendukung proses yang sedang saya jalani. Dukungan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti. Di tengah proses yang cukup melelahkan, saya punya tempat untuk beristirahat dan kembali melanjutkan pekerjaan. Pada akhirnya, setelah melalui proses yang cukup panjang, kebutuhan data penelitian dapat terselesaikan. Saya merasa seperti berhasil melewati satu masalah besar dan akhirnya bisa kembali fokus untuk mengerjakan skripsi.
Setelah data terkumpul, perjalanan ternyata belum menjadi lebih mudah. Justru dari sinilah saya mulai merasakan bagaimana skripsi benar-benar menguras pikiran dan tenaga. Banyak waktu saya habiskan untuk mengolah data, mencoba berbagai proses, memeriksa hasil, membaca referensi, memperbaiki tulisan, dan kembali mengerjakan bagian-bagian yang belum sesuai. Ada kalanya saya merasa pekerjaan saya tidak kunjung selesai. Sudah menghabiskan banyak waktu, tetapi masih saja ada hal yang harus diperbaiki. Dalam proses tersebut, saya juga mulai semakin sering merasa lelah secara fisik dan mental.
Saya sempat berada di titik ketika saya merasa sangat tertekan sampai seperti kehilangan diri sendiri. Rasanya saya tidak lagi mengenali diri saya seperti sebelumnya. Skripsi seakan menjadi bagian yang terus memenuhi pikiran saya setiap hari. Bahkan saya sempat terpikir untuk mencari bantuan profesional karena merasa tekanan yang saya rasakan sudah terlalu berat. Namun pada akhirnya saya memilih untuk terus mencoba melewati masa tersebut dengan cara yang saya mampu. Saya mencoba bertahan, beristirahat ketika memang sudah terlalu lelah, lalu kembali mengerjakan ketika sudah sedikit lebih tenang. Dari sana saya belajar bahwa terkadang bertahan bukan berarti harus selalu kuat setiap saat. Bertahan juga bisa berarti mengakui bahwa kita sedang lelah, tetapi tetap memilih untuk melanjutkan.
Di tengah perjalanan yang cukup berat tersebut, keberadaan teman-teman juga menjadi salah satu hal yang membuat semuanya terasa sedikit lebih ringan. Tidak selalu harus membantu secara langsung dalam penelitian. Terkadang hanya dengan memiliki orang untuk diajak berbicara, bertukar cerita, mengeluh, atau sekadar bertemu setelah sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing, sudah cukup membuat saya merasa tidak sendirian dalam menjalani proses ini. Saya bersyukur bisa melalui masa perkuliahan dan skripsi bersama orang-orang yang sama-sama sedang berjuang dengan versinya masing-masing.
Selain teman, proses bimbingan dengan dosen juga menjadi bagian penting dari perjalanan skripsi saya. Tidak semua proses bimbingan berjalan dengan mudah. Ada banyak revisi, pertanyaan, dan bagian penelitian yang harus saya pahami kembali. Namun dari situlah saya belajar untuk tidak hanya mengerjakan skripsi sekadar agar cepat selesai. Saya mulai belajar memahami alasan di balik setiap langkah yang saya ambil dalam penelitian. Saya juga belajar bahwa ketika ada sesuatu yang belum saya pahami, saya tidak perlu malu untuk bertanya dan mengaku bahwa saya masih membutuhkan arahan.

Salah satu orang yang sangat berperan dalam perjalanan tersebut adalah Bapak Dr. Ir. Muhammad Ihsan, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing pertama saya. Beliau sudah menemani perjalanan saya sejak proses awal menentukan judul sampai penelitian ini akhirnya selesai. Saya sangat berterima kasih karena selama proses tersebut beliau selalu meluangkan waktu untuk saya temui, memberikan arahan, dan dengan sabar membantu saya ketika menemukan kesulitan. Banyak hal yang saya pelajari selama proses bimbingan, bukan hanya mengenai penelitian, tetapi juga tentang bagaimana menghadapi sebuah masalah dan mencari jalan keluarnya.
Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Anisa Nabila R.R., S.T., M.T. selaku dosen pembimbing kedua yang turut menemani perjalanan saya dalam menyusun skripsi. Arahan dan bimbingan yang diberikan menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian penelitian ini. Tidak lupa saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi yang selalu memberikan arahan dan perhatian kepada mahasiswa, khususnya Angkatan 2022, agar dapat menyelesaikan studi bersama-sama.

Perjalanan menuju akhir juga menjadi salah satu momen yang cukup berkesan. Setelah melewati berbagai revisi, pengolahan data, bimbingan, dan rasa lelah yang datang berkali-kali, akhirnya saya sampai pada tahap mendaftarkan skripsi untuk disidangkan. Saat itu ada rasa lega, tetapi juga masih ada rasa gugup karena saya tahu bahwa masih ada satu tahap yang cukup besar yang harus saya lewati. Saya kembali mempersiapkan diri, membaca kembali penelitian yang sudah saya kerjakan, dan mencoba memahami kembali berbagai hal yang mungkin akan ditanyakan saat sidang.
Ketika akhirnya sidang selesai, ada rasa lega yang tidak bisa benar-benar dijelaskan. Rasanya seperti ada beban panjang yang perlahan terangkat. Namun tentu saja, setelah sidang masih ada revisi yang harus diselesaikan. Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa sebuah proses tidak selalu berakhir tepat ketika kita merasa sudah selesai. Terkadang masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki sebelum benar-benar bisa mengatakan bahwa perjalanan tersebut telah selesai.
Melihat kembali seluruh perjalanan ini, saya sadar bahwa skripsi bukan hanya tentang penelitian yang akhirnya selesai. Ada banyak hal yang saya pelajari selama proses tersebut. Saya belajar bahwa tidak apa-apa merasa ragu, selama keraguan tersebut tidak membuat kita berhenti selamanya. Saya belajar bahwa kesalahan tidak selalu berarti kegagalan. Kadang-kadang kita memang harus kembali ke awal, mencari referensi lagi, memahami kembali metode, atau memperbaiki apa yang sebelumnya kita anggap sudah benar. Saya juga belajar bahwa tidak semua masalah harus selesai dalam satu waktu.
Saya juga belajar untuk lebih menghargai proses. Sebelumnya saya sering berpikir bahwa yang paling penting adalah cepat selesai. Namun semakin dijalani, saya justru memahami bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Ada yang bisa menyelesaikan skripsi dengan cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, dan itu bukan berarti salah satu lebih baik dari yang lainnya. Setiap orang memiliki tantangan yang berbeda. Yang penting adalah tetap berusaha menyelesaikan apa yang sudah dimulai.
Untuk adik tingkat yang sedang atau yang akan menghadapi skripsi, saya ingin mengatakan bahwa jangan terlalu takut ketika memulai. Saya tahu kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi saya sendiri pernah merasakan bagaimana skripsi bisa terasa sangat berat. Karena itu, menurut saya, yang paling penting adalah mencari acuan sejak awal, terutama untuk bagian metodologi dan evaluasi. Jangan hanya mencari tahu bagaimana cara melakukan sesuatu, tetapi pahami juga alasan mengapa cara tersebut digunakan. Bertanya kepada dosen ketika tidak memahami sesuatu juga bukan sebuah kelemahan. Justru dengan bertanya kita bisa terhindar dari kebingungan yang lebih panjang.
Tidak lupa saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi yang selama ini tidak hanya memberikan arahan dan dukungan dalam proses perkuliahan, tetapi juga selalu memberikan perhatian kepada kami khususnya Angkatan 2022 yang senantiasa mendorong dan merangkul kami agar dapat menyelesaikan studi secara bersama-sama dan sampai pada tahap akhir perkuliahan. Dukungan dan perhatian tersebut menjadi salah satu hal yang sangat berarti bagi saya selama menjalani proses hingga akhirnya dapat menyelesaikan skripsi dan sampai pada tahap yudisium.
Terima kasih juga kepada keluarga yang selalu memberikan dukungan, semangat, doa, dan tempat untuk saya kembali ketika proses ini terasa berat. Perjalanan mendapatkan data, bolak-balik ke Sukabumi, mengerjakan penelitian, sampai akhirnya menyelesaikan skripsi tidak mungkin saya lewati sendirian. Ada banyak orang yang membantu saya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dan saya sangat bersyukur untuk semua itu.

Pada akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada diri saya sendiri. Terima kasih karena sudah mau terus berjalan meskipun beberapa kali merasa ragu. Terima kasih karena sudah memilih untuk bangkit ketika sempat merasa salah arah. Terima kasih karena tetap mencoba ketika merasa hasil yang didapat belum sesuai harapan. Dan terima kasih karena sudah bertahan melewati proses yang tidak selalu mudah sampai akhirnya saya bisa sampai di titik ini, berada di tahap yudisium dan tinggal menunggu satu langkah lagi menuju wisuda. Mungkin perjalanan skripsi saya tidak sempurna. Banyak bagian yang harus diperbaiki, banyak hal yang membuat saya bingung, dan ada masa ketika saya sendiri tidak yakin apakah saya bisa menyelesaikannya. Tetapi sekarang saya justru bersyukur pernah melewati semuanya. Karena dari perjalanan inilah saya belajar bahwa arti selesai bukan hanya tentang mencapai garis akhir. Selesai adalah ketika kita tetap memilih untuk berjalan, meskipun perjalanan tersebut berkali-kali membuat kita ingin berhenti.