Penulis: Esya Aprisally Putri (SaIG, 2202007)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Menyelesaikan skripsi selalu menyisakan cerita yangtidak pernah benar-benar sama antara satu mahasiswa dengan mahasiswa lainnya. Setiap orang memiliki jalan, kendala, dan titik baliknya masing-masing. Tulisan ini adalah catatan singkat mengenai perjalanan penulis dalam menyelesaikan skripsi berjudul "Estimasi Produktivitas Tanaman Teh Berdasarkan Indeks Vegetasi dan Fractional Canopy Cover Tea (FCTea) Menggunakan Citra Sentinel-2 di Perkebunan Ciater".
Sebelum masuk lebih jauh, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si. selaku Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi, atas bantuan, arahan, dan dukungan yang diberikan sejak awal perkuliahan hingga penulis dapat menuntaskan studi. Ucapan terima kasih yang sama besarnya juga penulis sampaikan kepada dua dosen pembimbing, yaitu Ibu Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, MS. dan Bapak Andy Wibawa Nurrohman, S.Pd., M.Sc., yang telah membimbing penulis dengan sabar dari tahap penentuan topik hingga skripsi ini benar-benar rampung.
Dok. Penulis
Ketertarikan penulis terhadap tema tanaman tehsebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba di bangku perkuliahan, melainkan tumbuh dari pengalaman magang mandiri di PT Perkebunan Nusantara I Regional 2. Selamamagang, penulis banyak berinteraksi langsung dengankondisi kebun teh, mulai dari karakteristik lahan hinggabagaimana produktivitas tanaman menjadi perhatian pentingbagi pihak perkebunan. Dari sanalah muncul gagasan untuk mengangkat topik tersebut menjadi penelitian skripsi.
Selain karena ketertarikan pribadi, pertimbangan praktis juga turut memengaruhi keputusan penulis. PerkebunanCiater dipilih sebagai lokasi penelitian karena proses perizinan yang relatif tidak berbelit serta aksesibilitas lokasi yang mendukung kebutuhan penelitian, baik untuk survei awal maupun pengambilan data lapangan. Kombinasi antara pengalaman magang dan kemudahan akses inilah yang akhirnya membawa penulis pada topik estimasi produktivitas teh menggunakan citra Sentinel-2.
Jika ditanya bagian mana dari proses skripsi yangpaling menguras waktu dan tenaga, jawabannya ada pada tahap pengolahan data citra. Dalam penelitian ini, indeks vegetasi menjadi salah satu variabel penting untuk mengestimasi produktivitas tanaman teh. Namun, pada praktiknya, citra Sentinel-2 yang diperoleh justru menunjukkan nilai yang cenderung homogen pada beberapa area kajian. Kondisi ini menjadi masalah tersendiri karena nilai indeks vegetasi yang seharusnya dapat membedakanvariasi kondisi tanaman di lapangan, malah tidakmenunjukkan sebaran yang cukup bervariasi, dan hal tersebut turut memengaruhi hasil akhir estimasi produktivitas.
Persoalan tidak berhenti di situ. Penulis kemudian harus mengulang berkali-kali proses pengolahan citra dan analisis regresi untuk mencari kombinasi variabel dan pendekatan yang paling tepat. Setiap kali hasil regresi keluar, penulis membandingkannya dengan penelitian terdahulu sebagai acuan. Sayangnya, hasil yang diperoleh cenderung berbeda dari referensi tersebut. Situasi ini sempat membuat penulismeragukan validitas penelitian sendiri, apakah adakesalahan pada metode yang digunakan, atau apakah karakteristik lokasi kajian memang menghasilkan pola yang berbeda dari penelitian sebelumnya.
Rasa tidak percaya diri terhadap hasil penelitian sendiri ternyata menjadi salah satu tantangan yang cukup berat untuk dilalui, bahkan lebih berat dibandingkan proses teknis pengolahan datanya. Pada titik tersebut, penulis memutuskan untuk mengonsultasikan permasalahan ini secara khusus kepada Bapak Andy Wibawa Nurrohman,S.Pd., M.Sc. selaku pembimbing kedua. Melalui diskusitersebut, penulis mendapatkan sudut pandang baru bahwa perbedaan hasil dengan penelitian terdahulu bukan berarti penelitian yang dilakukan salah, melainkan dapat dipahami sebagai bagian dari karakteristik unik lokasi kajian maupun kondisi citra yang digunakan.
Arahan dan masukan dari beliau menjadi dorongan penting bagi penulis untuk tidak berhenti di tengah jalan.Setelah diskusi tersebut, penulis kembali melanjutkananalisis dengan pendekatan yang lebih terarah, alih-alih terus-menerus meragukan proses yang sudah dijalani.Pengalaman ini mengajarkan penulis bahwa hasil penelitianyang berbeda dari ekspektasi bukan selalu berarti kegagalan, melainkan sebuah temuan yang tetap perlu dijelaskan secara ilmiah.
Salah satu bagian yang paling berkesan sekaligus menantang dari penelitian ini adalah ketika penulis harusberhadapan dengan konsep Fractional Canopy Cover Tea (FCtea). Sejujurnya, istilah ini sama sekali belum pernahpenulis dengar sebelumnya. Selama menempuh perkuliahan, penulis lebih akrab dengan indeks vegetasi konvensional, sementara FCtea baru benar-benar dipelajarisetelah menentukan topik skripsi ini. Bisa dibilang, hampir seluruh proses memahami FCtea, baik dari sisi konsep, carapengukuran di lapangan, hingga pengolahannya, dijalanisambil belajar secara mandiri, dibantu dengan arahan dari dosen pembimbing.
Di lapangan, FCtea diperoleh melalui pengambilan fotokanopi pada setiap titik sampel di area pertanaman teh. Penulis harus menentukan titik-titik pengamatan terlebih dahulu, kemudian pada setiap titik tersebut mengambil foto permukaan kanopi teh secara tegak lurus dari atas, dengan jarak dan sudut pengambilan yang dijaga agar konsisten antar titik. Hal yang awalnya terlihat sederhana ternyata membutuhkan ketelitian tersendiri, mulai dari memastikan pencahayaan tidak terlalu kontras akibat bayangan, memastikan seluruh bidang kanopi pada titik tersebut tertangkap dalam bingkai foto, hingga mencatat koordinat setiap titik sampel.
Setelah data foto lapangan terkumpul, tahap berikutnya adalah mengolah foto-foto tersebut untuk memperoleh nilai persentase tutupan kanopi. Pada tahap ini, penulis melakukan klasifikasi sederhana pada tiap foto untuk memisahkan bagian yang tergolong kanopi (vegetasi) danbagian yang tergolong latar non-kanopi, seperti celah antar tanaman atau bayangan. Dari hasil klasifikasi tersebut, dihitung proporsi piksel kanopi terhadap keseluruhan pikselfoto pada masing-masing titik, sehingga diperoleh nilai FCtea untuk tiap titik sampel. Nilai inilah yang kemudian menjadi salah satu variabel yang dibandingkan dengan indeks vegetasi hasil olahan citra Sentinel-2 dalam model estimasi produktivitas.
Karena benar-benar baru mempelajari metode ini, penulis sempat beberapa kali mengulang pengambilan foto maupun proses klasifikasinya, terutama ketika hasil FCtea pada satutitik terasa janggal dibandingkan kondisi kanopi yang terlihatsecara visual di lapangan. Proses trial and error inilah yangpada akhirnya membuat penulis semakin memahami bahwa ketelitian pada tahap lapangan sangat menentukan kualitas data yang akan diolah lebih lanjut, dan bahwa mempelajari metode baru bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti selama dijalani secara bertahap.
Setelah melalui proses panjang mulai dari pengolahan citra, pengambilan data, hingga analisis regresi yang berulang kali diperbaiki, akhirnya skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan di hadapan dewan penguji. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. MuhammadIhsan, S.T., M.T., Ibu Tiara Handayani, S.Si., M.Sc., dan Ibu Siti Zahrotunnisa, S.Si., M.Sc. selaku dosen penguji, atas berbagai pertanyaan, koreksi, dan masukan yang diberikan selama sidang berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di ruang sidang justru menjadi ruang bagi penulisuntuk memahami lebih dalam batasan maupun kontribusidari penelitian yang telah dikerjakan.
Saat ini, penulis sudah menyelesaikan tahap sidang dan tengah menanti proses yudisium sebagai penanda resmi berakhirnya masa studi. Meski tahap administratif belum sepenuhnyarampung, rasa lega karena berhasil melewati tahap sidangsudah cukup terasa sebagai penutup dari perjalanan panjang ini.
Berdasarkan pengalaman pribadi selama menyelesaikan skripsi ini, penulis ingin membagikan beberapa catatan praktis bagi adik tingkat yang akan atau sedang menghadapi proses serupa, khususnya yang berkaitan dengan pengolahan citra dan data kuantitatif.Beberapa hal yang patut dilakukan antara lain memilih topik dari sesuatu yang sudah dikenal atau pernah dialami langsung, misalnya melalui magang, sekaligus mempertimbangkan aspek teknis seperti kemudahan perizinan dan aksesibilitas lokasi. Ketika muncul kejanggalan atau keraguan atas hasil penelitian, segera diskusikan dengan dosen pembimbing daripada memendamnya sendiri. Bersikap terbuka terhadap metode atau konsep baru yang belum pernah dipelajari sebelumnya juga penting, dijalani secara bertahap sambil menjaga konsistensi dan ketelitian saat pengambilan data lapangan. Hasil penelitian tetap perlu dibandingkan dengan penelitian terdahulu sebagai acuan, namun dengan tetap terbuka pada kemungkinan bahwa karakteristik lokasi kajian menghasilkan pola yang berbeda. Sesi sidang sebaiknya dimanfaatkan sebagai ruang belajar, bukan sekadar ruang untuk dinilai, dan dukungan dari teman seangkatan yang sama-sama berjuang menyelesaikan skripsi dapat menjadi penyemangat tersendiri di tengah proses yang melelahkan.
Di sisi lain, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari. Jangan langsung menyimpulkan bahwa penelitian sendiri salah hanya karena hasilnya berbeda dari penelitian terdahulu tanpa menelusuri penyebabnya secara ilmiah, dan jangan menunda konsultasi dengan dosen pembimbing ketika menemui kendala karena keraguan yang dipendam sendiri hanya memperlambat proses. Detail teknis kecil di lapangan, seperti pencahayaan, sudut pengambilan foto, atau pencatatan koordinat, tidak boleh diabaikan karena kesalahan kecil dapat berdampak besar pada tahap pengolahan data, dan hasil pengolahan data sebaiknya tidak diterima begitu saja tanpa pengecekan silang dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Jangan pula takut mempelajari metode atau istilah baru yang belum diajarkan di perkuliahan, dan jangan menutup diri dari masukan atau kritik saat sidang karena pertanyaan yang tampak menekan justru dapat memperkuat pemahaman terhadap penelitian sendiri. Yang terpenting, jangan berkecil hati atau menyerah hanya karena proses berjalan lebih lama dari perkiraan, sebab hasil yang tidak sesuai referensi bukan berarti kegagalan, melainkan bagian dari kontribusi penelitian selama dapat dijelaskan dengan baik.
Perjalanan penulis mengajarkan bahwa skripsi bukan hanya soal kemampuan mengolah citra satelit atau menjalankan analisis statistik, tetapi juga soal bagaimana bertahan ketika hasil penelitian tidak berjalan sesuai dugaan. Dukungan dari teman-teman mahasiswa SaIG Angkatan 2022 yang sama-sama berjuang menyelesaikan skripsi turut menjadi penyemangat tersendiri, meskipun masing-masing memiliki topik dan tantangannya sendiri.
Bagi teman-teman yang masih berada di tengah proses penelitian, khususnya yang berhubungan dengan data citra dan analisis kuantitatif, penulis ingin menyampaikan bahwa hasil yang tidak sesuai referensi bukan akhir dari segalanya. Terkadang, hal tersebut justru menjadi bagian dari kontribusi penelitian itu sendiri, selama dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan dengan baik.