Life Is What Happens to You While You're Busy Making Other Plans:
Sebuah Perjalanan Skripsi
Penulis : Morliya Intan Kurnia (2202964)
Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)
Saya belajar satu hal setidaknya selama pengerjaan skripsi, terkadang kita terlalu sibuk menyusun rencana sampai lupa bahwa waktu terus berjalan. Setiap hari kita membuat target, menyusun timeline, menghitung berapa lama waktu yang tersisa, dan menentukan kapan penelitian ini harus selesai. Timeline memang membantu kita menentukan arah dan menjaga agar setiap tahapan tetap berjalan, tetapi terkadang kita justru terlalu sibuk melihat sejauh mana kita sudah berjalan dibandingkan benar-benar menjalani prosesnya. Kita menghitung berapa hari yang tersisa, membandingkan posisi kita dengan target yang sudah dibuat, dan memikirkan apakah kita sudah cukup jauh dari titik awal. Padahal, selama kita sibuk melihat waktu dan mengejar batas yang kita tentukan sendiri, waktu tetap berjalan.
Mungkin itu sebabnya perjalanan skripsi tidak pernah benar-benar tentang seberapa sempurna kita menyusun rencana. Timeline tetap diperlukan, tetapi ia seharusnya menjadi penunjuk arah, bukan sesuatu yang membuat kita terus-menerus melihat seberapa jauh lagi kita harus sampai. Karena pada akhirnya, waktu akan tetap berjalan, baik ketika kita sedang mengerjakan sesuatu maupun ketika kita terlalu sibuk memikirkan kapan semuanya harus selesai. Dari sanalah saya mulai memahami bahwa mungkin yang penting bukan hanya memiliki rencana, tetapi juga benar-benar menjalani setiap proses yang sudah kita rencanakan.
Perjalanan ini dimulai dari satu hal yang sederhana, tetapi cukup menentukan, memilih topik penelitian. Sebagai mahasiswa yang berasal dari Sumatra dan merantau ke tanah Pasundan karena katanya Jawa adalah pusat peradaban. Saya membawa satu keinginan sederhana ilmu yang saya dapatkan selama di tanah rantau nantinya bisa saya bawa pulang, dan membawa kebermanfaatan.
Dari berbagai ketertarikan yang saya miliki, saya sempat mempertimbangkan satu topik yang menurut saya cukup sesuai untuk dikembangkan di daerah asal. Namun, pada saat itu saya belum benar-benar mengetahui apakah topik tersebut memang menjadi kebutuhan di lapangan. Perubahan arah justru datang ketika saya menjalani magang di BPBD Kabupaten Pringsewu.
Di sana, saya mendapat kesempatan untuk melihat langsung persoalan yang sedang dihadapi sekaligus mendengar kebutuhan dari praktisi di daerah. Dari percakapan tersebut, saya menemukan bahwa ada persoalan lain yang ternyata lebih membutuhkan pendekatan geospasial.
Akhirnya, saya memilih untuk mengubah topik penelitian. Bukan karena ketertarikan awal saya hilang, tetapi karena saya melihat ada pilihan yang lebih tepat guna. Saya sedikit menurunkan ego atas keinginan awal dan memilih untuk mendahulukan persoalan yang memang nyata serta memiliki ruang untuk dimanfaatkan. Bagi saya, ilmu yang saya pelajari di tanah rantau ini pada akhirnya memang ingin saya bawa kembali ke daerah asal. Ketika ilmu tersebut dapat digunakan untuk mendekati persoalan yang benar-benar ada, rasanya alasan untuk mengerjakannya menjadi jauh lebih berarti.
Dok. Penulis
Setelah itu, perjalanan berlanjut pada tahap yang tidak kalah panjang, membaca, memahami, dan menyelami berbagai literatur. Jurnal demi jurnal dibaca, penelitian terdahulu dibandingkan, teori dipelajari, dan celah penelitian dicari. Pada satu titik, jurnal dan laptop terasa lebih dekat dibandingkan dengan sahabat. Dari proses itu saya bukan hanya belajar tentang penelitian, tetapi juga belajar bagaimana menyusun alasan, mempertahankan gagasan, dan menjelaskan apa yang sebenarnya ingin saya kerjakan.
Tahap bimbingan kemudian mengajarkan hal lain yang tidak kalah penting, bagaimana berkomunikasi dengan dosen, menerima arahan, meyakinkan orang lain terhadap penelitian yang kita pilih, sekaligus belajar bahwa gagasan yang kita anggap sudah baik masih bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Alhamdulillah, proses tersebut berjalan dengan cukup lancar hingga akhirnya saya sampai pada seminar proposal.
Dok. Penulis
Seminar proposal menjadi titik ketika penelitian yang selama ini hanya berada di kepala akhirnya harus dipertanggungjawabkan. Karena dilakukan secara daring, saya berkesempatan melaksanakan seminar proposal dari BPBD sekaligus didampingi oleh pihak BPBD. Cukup gugup terlebih saya harus melihat penelitian ini dari dua sudut pandang sekaligus sisi akademik dari dosen dan kebutuhan praktis dari pihak BPBD. Ternyata keduanya tidak selalu melihat persoalan dari sudut yang sama. Namun justru dari situlah saya belajar bahwa perbedaan perspektif bukan sesuatu yang harus dihindari. Penelitian justru menjadi ruang untuk menjembatani keduanya. Ketika akhirnya tahap tersebut terlewati, ada rasa lega karena satu pintu berhasil dibuka.
Setelah seminar proposal, perjalanan berpindah dari banyak membaca menjadi banyak bergerak. Data harus dikumpulkan langsung di lapangan, di 62 titik yang tersebar di wilayah Kabupaten Pringsewu. Lapangan kemudian mengajarkan lebih banyak daripada sekadar teknik pengambilan data. Wilayah yang luas, lokasi yang tersebar, cuaca Lampung yang saat itu seperti lupa bagaimana caranya hujan, sampai kondisi jalan yang cukup sesuai dengan gambaran di media sosial, semuanya menjadi bagian dari cerita. Di luar kemampuan teknis, saya juga harus berhadapan dengan birokrasi, komunikasi, dan situasi yang tidak selalu bisa diprediksi. Untungnya, pengalaman praktikum selama kuliah menjadi bekal yang cukup membantu.
Dok. Penulis
Setelah data terkumpul, perjuangan belum selesai. Data harus diolah dan dianalisis, revisi harus dikerjakan, dan AutoCAD dan ArcGIS menjadi salah satu teman yang menemani sampai larut malam. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa berjalan begitu cepat, tetapi ada juga hari ketika satu bagian kecil saja terasa begitu sulit untuk diselesaikan. Hasil yang sudah dikerjakan harus kembali diperiksa, beberapa bagian harus diulang, dan tidak jarang apa yang sudah dianggap selesai ternyata masih membutuhkan perbaikan.
Di fase ini saya mulai memahami bahwa perjalanan tidak selalu dijalani dengan semangat yang sama, tetapi tetap harus dilanjutkan apa pun keadaannya. Ada saatnya saya merasa yakin dengan apa yang dikerjakan, ada pula saatnya muncul keraguan apakah semuanya akan selesai tepat waktu. Kadang kita hanya perlu mulai mengerjakan, menyelesaikan satu bagian, lalu membiarkan satu langkah membawa kita ke langkah berikutnya. Sampai akhirnya saya tiba pada tahap yang sejak awal ingin saya capai yaitu sidang skripsi.

Dok. Penulis
Bukan hal yang mudah tentunya mencapai titik ini. Ada banyak kesalahan selama proses penelitian, dan semuanya harus diperbaiki sebelum akhirnya saya berdiri di ruang sidang. Saat akan sidang saya cukup gugup dan grogi. Tetapi bukankah ini yang selama ini akan kita tuju? Maka, bertarunglah sekuatmu, semampumu.
Sidang ternyata bukan hanya tentang mempertahankan apa yang sudah dikerjakan. Ada pertanyaan yang menguji pemahaman, kritik yang membuat saya melihat penelitian dari sudut lain, dan masukan yang justru menjadi pengetahuan baru. Alhamdulillah, semuanya dapat dilalui dengan baik. Dan ketika akhirnya sampai di titik ini, saya tahu ada banyak hal yang mengantarkan saya ke sini, salah satunya adalah doa Ayah dan Ibu yang tidak pernah putus dalam setiap langkah yang saya jalani.

Dok. Penulis
Ada banyak orang yang hadir di sepanjang proses ini, melalui arahan, kesempatan, pengingat, maupun bantuan yang mungkin sederhana, tetapi berarti. Karena itu, rasanya tidak lengkap jika perjalanan ini hanya saya ceritakan sebagai perjuangan pribadi. Penyelesaian penelitian ini tentu tidak berdiri sendiri. Terima kasih kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si., selaku Ketua Program Studi sekaligus Dosen Pembimbing Pertama, yang melalui berbagai arahan dan motivasinya telah banyak membantu saya selama perjalanan ini. Berbagai panggilan akademik dari Bapak juga menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan dan masa studi tidak boleh disia-siakan dan hal tersebut terbukti dapat mendorong saya berada di titik ini.
Terima kasih kepada Ibu Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Kedua, yang telah membimbing saya dengan teliti dan konsisten. Bimbingan yang rutin, berbagai masukan yang diberikan, serta arahan terhadap setiap perkembangan penelitian menjadi pengingat bagi saya untuk terus bergerak dan menjaga penelitian ini tetap berjalan. Setiap pertemuan juga membuat saya kembali melihat bagian-bagian yang perlu diperbaiki dan diselesaikan. Terima kasih karena telah membantu saya tetap berada di jalur, terutama di saat saya terkadang membutuhkan sedikit dorongan untuk kembali bergerak.
Terima kasih juga kepada Ibu Dr. Annisa Joviani Astari, M.I.L., M.Sc., Ph.D., selaku Dosen Pembimbing Akademik, atas bimbingan dan arahan sejak tahap awal perjalanan akademik hingga sebelum seminar proposal. Kepada seluruh dosen yang telah memberikan ilmu selama masa perkuliahan, terima kasih. Banyak hal yang dulu terasa seperti materi kelas atau tugas praktikum, ternyata baru saya pahami manfaatnya ketika benar-benar digunakan dalam penelitian.
Ayah dan Ibu, orangtua hebat yang menjadi tempat pertama penulis belajar tentang segalanya. Terima kasih telah menjadi rumah yang memberi ruang untuk tumbuh, bukan tempat yang membatasi langkah. Semoga suatu hari nanti, segala pencapaian penulis dapat menjadi sedikit jawaban atas begitu banyak doa, pengorbanan, dan kasih yang telah Ayah dan Ibu berikan.
Untuk keluarga baru yang penulis temukan di tanah perantauan, teman-teman Sains Informasi Geografi Angkatan 2022, terima kasih telah menjadi teman dalam berdinamika, bercerita, bercanda, dan berolahraga ditengah proses skripsi yang kadang membuat kepala penuh. Lapangan tenis dan coffe shop bahkan kadang terasa lebih menarik daripada gedung fakultas. Setiap dari kalian punya perannya masing-masing dalam perjalanan penulis, dan tentu dengan caranya sendiri telah meninggalkan jejak yang turut membentuk siapa penulis hari ini.

Dok. Penulis
Dan untuk adik-adik tingkat yang sedang berada di perjalanan skripsi, saya ingin menyampaikan satu hal, hidup memang pilihan dan kita harus berdiri di atas konsekuensi dari pilihan tersebut. Kalian bisa memilih untuk terus berjalan, mengerjakan sedikit demi sedikit, menghadapi revisi, bertanya ketika tidak tahu, dan tetap bergerak meskipun langkahnya tidak selalu cepat. Konsekuensinya sederhana kalian akan semakin dekat dengan tujuan.
Sebaliknya, kalian juga bisa memilih untuk menunda, menunggu mood, mengerjakan hal lain, lalu merasa masih punya banyak waktu. Konsekuensinya juga sederhana, momentum perlahan hilang. Teman-teman yang hari ini masih bisa ditemui, diajak berdiskusi, bercanda, dan saling membantu suatu hari akan memiliki kesibukan masing-masing. Kampus yang sekarang terasa ramai bisa berubah menjadi tempat yang berbeda ketika orang-orang yang membuatnya hidup sudah lebih dulu melanjutkan perjalanan. Jadi, selama kalian masih punya momentum, manfaatkan. Manfaatkan segala bentuk kesempatan yang diberikan prodi dan jangan disiasiakan. Dalam mengerjakan skripsi kita merasa mampu namun skripsi bukan hanya tentang kita tapi banyak hal diluar kendali kita yang mempengaruhi perjalanan skripsi kita. Ingat juga bahwa di balik proses panjang ini ada orang tua yang mungkin tidak banyak bertanya, tetapi diam-diam menunggu kalian menyelesaikan tanggung jawab ini. Jadi, ketika mulai lelah atau ingin menunda, ingat bahwa yang sedang kalian perjuangkan bukan hanya gelar untuk diri sendiri, tetapi juga ada doa dan harapan orang tua yang menunggu kalian pulang membawa kabar bahwa tanggung jawab ini sudah selesai.
Beberapa hal yang paling banyak diajarkan skripsi kepada saya, mungkin bukan hanya tentang metode atau bagaimana mengolah data. Skripsi mengajarkan tentang kesempatan yang harus dimanfaatkan, ketakutan yang harus dihadapi, kesalahan yang harus diperbaiki, motivasi yang harus dijaga, konsistensi yang harus dipelihara, ego yang terkadang harus diturunkan, dan doa yang harus terus dipanjatkan.
Dulu ada begitu banyak pertanyaan yang memenuhi kepala kalau datanya seperti ini, bisa tidak ya? Kalau metodenya seperti ini, tepat tidak ya? Dengan waktu yang ada, cukup tidak ya? Pertanyaan-pertanyaan itu pada akhirnya menemukan jawabannya melalui proses yang dijalani.
Di titik itu saya teringat pada kalimat John Lennon, “Life is what happens to you while you're busy making other plans.” Kita sibuk merencanakan bagaimana semuanya harus berjalan, sementara disaat yang bersamaan hidup terus berjalan ketika kita sibuk membuat rencana. Mungkin pada akhirnya, yang penting bukan hanya memiliki rencana, tetapi juga berani menjalani setiap proses yang sudah kita rencanakan.