Penulis : Alifa Syapa Azzahra (2400654)
Editor : Syalwa Ramadianti Nugraha (2407430)
Pernahkah kita sudah tahu bahwa ada tugas yang harus segera dikerjakan, tetapi entah mengapa justru memilih membuka media sosial, menonton satu video, merapikan meja, atau melakukan hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting? Tugas tersebut tidak hilang, deadline tetap berjalan, bahkan rasa bersalah mulai muncul. Namun, semakin dipikirkan, semakin sulit rasanya untuk benar-benar memulai.
Situasi seperti ini sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa. Tugas kuliah, membaca jurnal, membuat presentasi, menyelesaikan laporan praktikum, hingga mempersiapkan ujian sering kali bukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan. Masalahnya justru terletak pada proses memulai dan mempertahankan usaha ketika pekerjaan terasa berat. Pada titik tertentu, muncul keinginan untuk berkata, “Nanti saja, masih ada waktu.”

Gambar 1 Oleh Shawn Day via Unsplash
Menariknya, menghadapi masalah tersebut tidak selalu harus dilakukan dengan memaksa diri menjadi lebih disiplin. Salah satu pendekatan yang semakin banyak dibicarakan adalah “tricking your brain” atau mengubah cara kita memandang dan memulai suatu pekerjaan sehingga otak tidak langsung meresponsnya sebagai sesuatu yang terlalu berat. Gagasan ini juga menjadi pembahasan dalam artikel How to Trick Your Brain into Doing Difficult Things dari Brain Health Decoded serta artikel Real Simple yang membahas cara “mengakali” otak agar mau melakukan hal-hal yang sulit.
Tentu, istilah “menipu otak” di sini bukan berarti benar-benar memperdaya otak secara harfiah. Maksudnya adalah mengubah cara sebuah pekerjaan disajikan kepada diri sendiri. Pekerjaan yang awalnya terasa besar dapat dibuat lebih kecil, tujuan yang abstrak dapat dibuat lebih konkret, dan kegiatan yang terasa membosankan dapat dipasangkan dengan sesuatu yang menyenangkan. Dengan demikian, hambatan psikologis untuk memulai dapat dikurangi.
Kenapa Hal-Hal Terasa Lebih Sulit Sebelum Dikerjakan?
Manusia cenderung berusaha menghindari ketidaknyamanan. Ketika sebuah kegiatan membutuhkan konsentrasi tinggi, usaha besar, kemungkinan gagal, atau hasil yang baru terasa dalam waktu lama, kegiatan tersebut dapat terasa kurang menarik dibandingkan aktivitas yang memberikan kepuasan secara langsung.
Bayangkan seorang mahasiswa memiliki dua pilihan pada malam hari. Pilihan pertama adalah membaca 20 halaman jurnal untuk tugas kuliah. Pilihan kedua adalah membuka media sosial dan menemukan banyak video pendek yang menarik. Membaca jurnal membutuhkan perhatian dan usaha, sedangkan media sosial memberikan rangsangan dan hiburan dengan cepat. Tidak mengherankan apabila pilihan kedua terasa jauh lebih mudah.
Dalam konteks inilah procrastination atau penundaan menjadi menarik untuk dipahami. Penundaan bukan sekadar persoalan malas. Dengan kata lain, kita sering kali tidak menghindari tugas karena tugas tersebut mustahil dilakukan. Kita menghindarinya karena biaya yang terasa sekarang lebih besar daripada manfaat yang baru akan dirasakan nanti. Ini menjelaskan mengapa tugas yang sebenarnya penting justru sering kalah oleh kegiatan sederhana. Menonton video selama sepuluh menit memberikan kesenangan sekarang. Membaca jurnal selama satu jam mungkin baru memberikan manfaat setelah tugas selesai, nilai keluar, atau presentasi dilakukan. Otak manusia sangat sensitif terhadap perbedaan waktu tersebut. Masalahnya, semakin lama tugas ditunda, semakin besar pula beban mental yang muncul. Kita bukan hanya masih harus mengerjakan tugas, tetapi juga harus menanggung pikiran bahwa tugas itu belum selesai. Akibatnya, pekerjaan yang awalnya hanya membutuhkan waktu satu jam dapat terasa seperti gunung yang semakin tinggi karena terus dipikirkan.
Jangan Kerjakan Semuanya Sekaligus
Ketika mendengar “pelajari materi satu bab” atau “selesaikan laporan”, kita cenderung langsung membayangkan seluruh pekerjaan. Akibatnya, tugas terlihat seperti satu pekerjaan besar yang melelahkan. Padahal, kita sebenarnya tidak perlu menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Coba pecah tugas menjadi bagian yang sangat kecil. Jangan mengatakan, “Saya harus menyelesaikan artikel.” Ganti dengan, “Saya akan membuat tiga subjudul terlebih dahulu.” Setelah itu, lanjutkan ke satu paragraf, satu halaman, atau satu bagian berikutnya.
Coba Lima Menit Dulu
Salah satu hambatan terbesar dalam pekerjaan sebenarnya bukan proses mengerjakannya, tetapi memulainya. Karena itu, daripada berkomitmen “harus belajar dua jam”, coba katakan, “Saya hanya akan belajar selama lima menit.” Lima menit mungkin terasa terlalu singkat untuk menyelesaikan tugas, tetapi memang bukan itu tujuannya. Tujuan utamanya adalah melewati rasa berat di awal. Setelah lima menit, kita bisa saja berhenti, tetapi sering kali kita justru menemukan bahwa pekerjaan tersebut ternyata tidak sesulit yang dibayangkan dan akhirnya memilih melanjutkannya.
Tentukan “Langkah Berikutnya”
“Kerjakan tugas” terdengar seperti instruksi, tetapi sebenarnya masih terlalu umum. Kita belum tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Akibatnya, sebagian energi justru habis untuk memikirkan dari mana harus memulai. Cobalah mengganti tujuan yang terlalu luas dengan tindakan konkret. Misalnya, bukan “mengerjakan laporan”, tetapi “membuka dokumen dan menulis bagian pendahuluan”. Bukan “belajar untuk ujian”, tetapi “membaca dua halaman pertama dan mencatat tiga poin penting”. Semakin jelas langkah berikutnya, semakin kecil kemungkinan kita berhenti karena bingung. Jadi, ketika tugas terasa berat, jangan bertanya “Bagaimana saya menyelesaikan semuanya?”, tetapi tanyakan “Apa yang bisa saya lakukan sekarang?”
Pasangkan Hal Sulit dengan Hal yang Menyenangkan
Ada pekerjaan yang sulit bukan karena rumit, tetapi karena membosankan. Untuk jenis pekerjaan seperti ini, kita bisa membuatnya sedikit lebih menarik dengan memasangkannya dengan sesuatu yang disukai. Konsep ini dikenal sebagai temptation bundling. Dalam kehidupan mahasiswa, bentuknya bisa sederhana: belajar sambil berada di tempat yang nyaman, mengerjakan tugas administratif sambil menikmati minuman favorit, atau memberikan waktu istirahat sebagai bagian dari jadwal belajar. Tentu tidak semua tugas cocok dilakukan sambil melakukan aktivitas lain. Untuk membaca materi yang sangat membutuhkan konsentrasi, misalnya, justru lebih baik mengurangi gangguan. Prinsipnya bukan membuat pekerjaan menjadi penuh hiburan, tetapi membuat kondisi mengerjakannya terasa lebih menyenangkan.
Ubah Lingkungan, Bukan Hanya Niat
Sering kali kita mengatakan, “Saya harus lebih fokus.” Namun, fokus akan jauh lebih sulit dipertahankan ketika ponsel berada tepat di samping laptop, notifikasi terus muncul, dan banyak tab yang tidak berkaitan dengan tugas terbuka. Karena itu, salah satu cara paling sederhana untuk “mengakali otak” adalah mengubah lingkungan. Letakkan ponsel lebih jauh, matikan notifikasi, siapkan file yang diperlukan sebelum mulai, dan buat meja belajar hanya berisi hal-hal yang mendukung pekerjaan. Dengan begitu, kita tidak harus terus-menerus menggunakan kemauan untuk menolak gangguan. Lingkungan yang baik dapat mengurangi jumlah godaan yang harus kita lawan.
Jangan Menunggu Mood Datang
Banyak mahasiswa terbiasa berkata, “Nanti saya kerjakan kalau sudah mood.” Masalahnya, mood tidak punya jadwal. Kalau produktivitas sepenuhnya bergantung pada suasana hati, pekerjaan akan mudah berpindah terus ke waktu berikutnya. Lebih baik membangun rutinitas sederhana. Misalnya, setelah makan malam langsung belajar selama 25 menit atau setiap pukul 20.00 mengerjakan satu bagian tugas. Kebiasaan yang dilakukan berulang dalam situasi yang konsisten dapat semakin terbentuk menjadi pola otomatis. Jadi, kita tidak perlu selalu menunggu merasa siap.
Berhenti Menyebut Diri Sendiri “Malas”
Ketika sering menunda, kita mudah memberikan label kepada diri sendiri: malas, tidak disiplin, atau tidak bisa fokus. Padahal, label tersebut belum tentu menjelaskan masalah yang sebenarnya. Coba ganti pertanyaannya. Bukan “Kenapa saya malas?”, tetapi “Apa yang membuat tugas ini sulit dimulai?” Bisa jadi tugasnya terlalu besar, langkahnya tidak jelas, takut hasilnya tidak bagus, atau lingkungan terlalu penuh distraksi. Dengan melihat masalah secara lebih spesifik, kita juga bisa mencari solusi yang lebih tepat. Kalau masalahnya bingung mulai dari mana, buat next action. Kalau masalahnya terdistraksi, ubah lingkungan. Kalau takut hasilnya tidak sempurna, izinkan diri membuat draf pertama yang belum sempurna.
Jangan Berusaha Menang Melawan Otak
Pada akhirnya, “tricking your brain” bukan tentang membuat semua pekerjaan sulit menjadi mudah. Kita tetap harus membaca, berpikir, menulis, belajar, dan menyelesaikan tanggung jawab. Yang diubah adalah cara kita mendekati pekerjaan tersebut.
Tugas besar dipecah menjadi langkah kecil. Komitmen besar dibuat menjadi lima menit. Tujuan yang abstrak diubah menjadi tindakan konkret. Hambatan dikenali sejak awal. Lingkungan diatur agar membantu. Dengan cara tersebut, kita tidak terus-menerus memaksa diri untuk bekerja, tetapi menciptakan kondisi yang membuat pekerjaan lebih mudah dimulai. Mungkin kita memang tidak selalu bisa membuat tugas sulit terasa menyenangkan. Namun, kita bisa membuatnya cukup ringan untuk dimulai. Dan sering kali, setelah langkah pertama berhasil dilakukan, langkah berikutnya tidak lagi terasa seberat yang kita bayangkan.