Penulis: Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si.
Penyunting: Felicia Syifa’ Hermanu Putri (SaIG, 2504208)
Bandung, 28 Juli 2026. Forum Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi (SaIG) Indonesia menyelenggarakan kegiatan diskusi dan pembahasan mengenai penguatan serta penyelarasan kurikulum Program Studi Sains Informasi Geografi di Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini mempertemukan perwakilan sejumlah perguruan tinggi yang memiliki Program Studi SaIG atau bidang keilmuan yang berkaitan dengan informasi geospasial yang terdiri dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Medan (UNIMED), UIN STS Jambi, Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Negeri Makassar (UNM), dan IKIP PGRI Pontianak.

Dok. Penulis
Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi para pengelola program studi untuk membahas kebutuhan kompetensi lulusan SaIG di tengah perkembangan teknologi geospasial yang semakin cepat. Dokumentasi kegiatan menunjukkan adanya diskusi antara sejumlah ketua program studi dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Dalam kegiatan tersebut juga ditampilkan bahan mengenai profil lulusan SaIG dengan arah profesi sebagai Analis Informasi Geospasial (Sarjana Geografi/S.Geo).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini menjadi momentum awal untuk mempertemukan para Ketua Prodi SaIG, saling mengenal, bertukar pengalaman, serta mendiskusikan berbagai tantangan dan peluang pengembangan Program Studi SaIG di Indonesia. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Dr. Lili Somantri dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Dok. Penulis
Semua anggota rapat meyakini bahwa pembahasan terkait kurikulum ini menjadi penting karena bidang Sains Informasi Geografi saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan pembuatan peta atau penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG). Perkembangan teknologi seperti penginderaan jauh, cloud computing, WebGIS, kecerdasan buatan, dan GeoAI telah membuka ruang yang semakin luas bagi lulusan SaIG untuk berperan dalam berbagai bidang.
Dalam forum yang dilaksanakan pada Selasa, 28 Juli 2026, salah satu bahan utama yang dibahas adalah rekomendasi mata kuliah wajib yang dapat menjadi dasar bersama bagi Program Studi SaIG di Indonesia. Dokumen forum tersebut secara khusus mencantumkan agenda “Rekomendasi Mata Kuliah Wajib Prodi SaIG Indonesia” dalam Forum Ketua Program Studi Sains Informasi Geografi Indonesia. Salah satu gagasan penting dalam pembahasan adalah pengelompokan mata kuliah SaIG ke dalam tiga bagian utama, yaitu mata kuliah geosfer, mata kuliah geografi teknik, dan mata kuliah futuristik.
Hal menarik lainnya dalam pembahasan adalah munculnya kelompok mata kuliah futuristik. Kelompok ini menunjukkan bahwa kurikulum SaIG perlu terus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.Tiga mata kuliah yang direkomendasikan dalam kelompok ini adalah Cloud Computing, WebGIS, dan GeoAI. Pada bagian Cloud Computing, bahan forum memberikan contoh pemanfaatan Google Earth Engine (GEE) dan Google Colab. Sementara itu, WebGIS diarahkan pada kemampuan membangun dan menyajikan informasi geospasial melalui platform berbasis web. Adapun GeoAI menunjukkan kebutuhan integrasi antara teknologi geospasial dengan kecerdasan buatan.

Dok. Penulis
Masuknya teknologi tersebut ke dalam kurikulum menunjukkan adanya perubahan kebutuhan kompetensi lulusan. Di masa mendatang, analis informasi geospasial akan semakin banyak bekerja dengan data berukuran besar, komputasi awan, pemodelan berbasis kecerdasan buatan, serta sistem informasi geospasial yang dapat diakses secara digital. Karena itu, mahasiswa SaIG perlu dibekali bukan hanya dengan kemampuan menggunakan aplikasi SIG konvensional, tetapi juga kemampuan untuk mengolah data dalam jumlah besar, melakukan analisis berbasis komputasi, membangun aplikasi geospasial berbasis web, serta memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menyelesaikan persoalan keruangan.
Kegiatan forum ini menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat identitas dan posisi keilmuan Sains Informasi Geografi di Indonesia. Kolaborasi antarprogram studi diperlukan agar kurikulum SaIG tidak hanya relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini, tetapi juga mampu mempersiapkan lulusan menghadapi perkembangan teknologi geospasial pada masa mendatang.
Melalui silaturahmi dan koordinasi awal ini, para Ketua Prodi SaIG diharapkan dapat membangun komunikasi yang berkelanjutan. Forum tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring, berbagi pengalaman, serta merumuskan berbagai gagasan bersama dalam pengembangan pendidikan Sains Informasi Geografi di Indonesia. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, SaIG diharapkan mampu terus berkembang dan menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, serta perkembangan teknologi geospasial di masa depan.
