Tanggal Kegiatan: 4 Agustus - 24 Agustus 2026 (awal magang)
Penulis: Friscka Fitri Aditama (SaIG, 2309831), Nanda Herry Fadillatu Yasmin (SaIG, 2300639), Nadya Marssyanda Alliyah Putri (SaIG, 2311593).
Penyunting: Muhammad Naufal Rifasyah (SaIG, 2500436)
Selasa, 4 Agustus 2026, menjadi hari pertama kami menjalani magang di Labtech Inovasi Indonesia. Hari itu dibuka dengan pengenalan lingkungan kerja dan gambaran umum tentang bagaimana magang akan berjalan. Enam mahasiswa kemudian diminta memperkenalkan diri, menceritakan minat, kemampuan, dan pengalaman masing-masing, terutama di bidang geospasial, serta hal-hal yang ingin dipelajari selama magang. Obrolan tidak berhenti pada soal pekerjaan. Kami juga berbincang tentang banyak hal lain, sehingga suasana hari pertama terasa santai dan proses beradaptasi menjadi jauh lebih mudah.

Dok.Penulis
Setelah sesi perkenalan, kami mendapat penjelasan tentang beberapa proyek yang sedang berjalan dan diberi kesempatan memilih proyek yang paling sesuai dengan minat serta kemampuan. Keesokan harinya, wawancara melalui Zoom dilakukan untuk menggali lebih jauh minat, kemampuan, dan pertimbangan kami dalam memilih proyek. Dari proses itu, setiap peserta ditempatkan pada proyek yang menjadi ruang belajarnya selama magang, mulai dari perencanaan sentra pangan di Nusa Tenggara, pengembangan kawasan agroforestri di Bangka Belitung, hingga pemodelan biomassa di kebun kopi.
Magang ini juga tidak hanya berisi pekerjaan proyek. Sejak awal kami diperkenalkan pada berbagai kegiatan pengembangan diri, seperti webinar eksklusif, tutorial, dan pelatihan keterampilan lainnya. Kami juga dilibatkan sebagai panitia Geosphere. Pengalaman ini memberi warna tersendiri, karena kami belajar bekerja dalam tim, berkoordinasi, dan melihat sisi lain dari sebuah organisasi di luar pekerjaan teknis sehari-hari.

Dari minggu-minggu awal, satu pelajaran penting cepat terasa: penerapan ilmu geospasial di dunia kerja bukan sekadar membuat peta. Pekerjaan itu mencakup pengumpulan dan pengelolaan data, pembersihan data, analisis spasial, interpretasi informasi, hingga penyajian hasil agar benar-benar dapat dipakai untuk mengambil keputusan.
“Masterplan Pengembangan Sentra Pangan di NTB dan NTT”

Pada proyek Masterplan Pengembangan Sentra Pangan di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur yang diambil oleh Nadya Marssyanda Alliyah Putri dan Aditya Akasha Putra, peran yang dijalankan adalah Spatial Data Scientist, atau dalam praktiknya seorang GIS Analyst. Tugasnya adalah mendukung tim perencana dalam pengumpulan, pembersihan (cleaning), analisis, dan visualisasi data spasial.
Proyek ini dipilih karena sangat dekat dengan bidang geospasial yang dipelajari di perkuliahan, khususnya pemanfaatan data spasial untuk perencanaan wilayah. Di sini, keterampilan teknis dari bangku kuliah bertemu dengan kebutuhan nyata sebuah proyek perencanaan. Data yang diolah tidak berhenti sebagai peta, tetapi menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan arah pengembangan sentra pangan. Proyek ini menjadi kesempatan untuk memahami alur kerja seorang GIS Analyst dari dekat sekaligus melihat bagaimana ilmu geospasial berkontribusi langsung pada perencanaan pangan di wilayah timur Indonesia.
“Masterplan Pengembangan Kawasan Berbasis Agroforestry di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”
Proyek Masterplan Pengembangan Kawasan Berbasis Agroforestry di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diambil oleh Nanda Herry Fadillatu Yasmin, Fathina Tazakka, dan Natasya Ilhami Maharani. Proyek ini berlangsung selama empat bulan, dari Agustus hingga November 2026, dengan kemungkinan diperpanjang.
Dalam proyek ini, peran yang dijalankan adalah Spatial Data Scientist yang membantu tim perencana dalam pengumpulan, pembersihan, analisis, dan visualisasi data spasial. Bekerja pada skala provinsi dengan pendekatan agroforestri menuntut kami memahami bahwa perencanaan kawasan tidak bisa dilepaskan dari kondisi lahan, pemanfaatan ruang, dan potensi pengembangan ekonomi masyarakat. Bekerja sebagai satu tim juga mengajarkan pentingnya pembagian tugas, konsistensi data, dan komunikasi yang baik agar setiap keluaran saling terhubung.
“Pengembangan Model Prediksi 5 Parameter Tanah dan Tumbuhan di Kebun Kopi Puntang”
Proyek ketiga, yang diambil oleh Friscka Fitri Aditama, berfokus pada kebun kopi di Puntang dengan peran sebagai AI Engineer. Tujuannya adalah membangun model prediksi parameter tanah dan tumbuhan berbasis machine learning dan penginderaan jauh, dengan target akurasi yang tinggi.
Langkah awalnya adalah mempelajari dashboard Agrivision dan konsep pemodelan biomassa, mulai dari cara biomassa pohon dihitung dari data lapangan hingga bagaimana citra satelit dapat dipakai untuk memperkirakannya pada area yang lebih luas. Setelah memahami dasar-dasarnya, pekerjaan berlanjut ke tahap pemodelan: mengolah data sensus pohon kopi, menggabungkannya dengan data koordinat, lalu memodelkan biomassa di atas permukaan (AGB) pada grid berukuran 10 × 10 meter menggunakan variabel dari citra Sentinel-1, Sentinel-2, dan PALSAR-2 melalui Google Earth Engine. Hasilnya kemudian disiapkan dalam bentuk layer yang dapat ditampilkan pada WebGIS.
Pengalaman paling berkesan adalah diajak turun langsung ke lapangan. Melihat sendiri kondisi kebun, deretan pohon kopi, dan pohon naungan di sekitarnya membuat angka-angka dalam tabel terasa jauh lebih nyata. Dari sini muncul pelajaran yang tidak diperoleh di kelas: model yang baik tidak hanya bergantung pada algoritma, tetapi juga pada desain pengambilan data. Pada kebun kopi yang tumbuh di bawah naungan, citra satelit lebih banyak "melihat" tajuk pohon pelindung daripada tanaman kopi di bawahnya. Memahami keterbatasan seperti ini, lalu menyampaikannya dengan jujur, ternyata sama pentingnya dengan mengejar angka akurasi.

Dok.Penulis
Saat ini, persiapan sedang dilakukan untuk proyek lanjutan dengan topik serupa di lokasi dan komoditas yang berbeda, yaitu kebun sereh wangi di Jampang, Sukabumi. Pengalaman dari kebun kopi menjadi bekal berharga untuk merancang pengolahan data dan pemodelan yang lebih matang di proyek berikutnya.
Dua bulan magang di Labtech Inovasi Indonesia memberi kami gambaran utuh tentang bagaimana data spasial bekerja di dunia nyata, dari ruang rapat perencanaan hingga kebun di lapangan. Kami belajar bahwa setiap peta dan model memiliki cerita di baliknya: data yang harus dibersihkan, asumsi yang harus diuji, dan keputusan yang harus didukung. Di luar pekerjaan proyek, kegiatan seperti webinar, tutorial, dan kepanitiaan Geosphere memperkaya pengalaman kami sebagai bagian dari sebuah tim.
Kami berterima kasih kepada seluruh tim Labtech Inovasi Indonesia atas bimbingan, kepercayaan, dan kesempatan belajar yang diberikan. Perjalanan ini belum selesai, dan kami menantikan pelajaran berikutnya di bulan-bulan yang akan datang.
| No. | Nama | NIM |
| 1 | Friscka Fitri Aditama | 2309831 |
| 2 | Nanda Herry Fadillatu Yasmin | 2300639 |
| 3 | Nadya Marssyanda Alliyah Putri | 2311593 |
| 4 | Natasya Ilhami Maharani | 2307414 |
| 5 | Fathina Tazakka | 2305803 |
| 6 | Aditya Akasha Putra | 2311230 |