Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
[SocioGazine] Soroti Kesenjangan Nilai dan Praktik Penggunaan AI: Etika Trisilas Sunda Menjadi Solusi Bagi Generasi Z di Ruang Kelas

PADANG - Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) generatif di kalangan pelajar Generasi Z kini hampir universal dan seringkali diakses secara gratis, namun sayangnya panduan literasi AI yang ada saat ini masih bersifat netral budaya. Merespons fenomena ini, Fajar Nugraha Asyahidda, M.Pd., mendiseminasikan hasil penelitiannya pada ajang konferensi internasional International Conference on Education, Sociology, Anthropology, and Communication (ICESAC) di Universitas Negeri Padang (UNP). Dalam kegiatan tersebut, ia mempresentasikan kajiannya yang menyoroti pentingnya nilai tradisional sebagai standar internal siswa melalui materi bertajuk "Mind the value practice gap: Sundanese Trisilas ethics and Generation Z's generative AI use in the classroom".

Kajian ini mengeksplorasi bagaimana nilai Trisilas Sunda silih asah (saling menajamkan pikiran), silih asih(kasih sayang dan rasa hormat), dan silih asuh (bimbingan dan perlindungan) dapat diterapkan dalam penggunaan AI di ruang kelas. Dalam konteks AI, silih asah terwujud dalam verifikasi dan evaluasi terhadap hasil keluaran AI, silih asih pada penciptaan pesan yang otentik dan sensitif secara budaya, sementara silih asuh berfokus pada saling mengoreksi kesalahan serta melindungi privasi data antarteman.

Berdasarkan studi terhadap 60 pelajar menengah Gen Z Sunda berusia 13-18 tahun, ditemukan sebuah kesenjangan antara nilai dan praktik. Hampir seluruh siswa sangat meyakini nilai Trisilas sebagai panduan hidup dan identitas mereka (lapisan afektif dan kognitif), namun keyakinan ini melemah ketika harus dipraktikkan secara perilaku dalam penggunaan AI. Kesenjangan (gap) paling lebar terjadi pada nilai yang berkaitan dengan hubungan sosial, yaitu silih asih dan silih asuh.

Sebagai contoh, dalam hal silih asih, siswa kerap mendelegasikan perhatian kepada mesin dengan mengirimkan pesan hasil tulisan AI tanpa mengubahnya, sehingga kehilangan sentuhan empati dan kesesuaian budaya lokal. Pada aspek silih asuh, karena penggunaan AI dirasa sebagai aktivitas pribadi, tanggung jawab untuk melindungi teman dari kesalahan AI, bias, maupun kebocoran data seringkali diabaikan. Sementara itu, aspek silih asah cenderung lebih netral karena praktiknya bersinggungan dengan aturan sekolah yang sudah ada terkait menyalin tugas atau menyontek.

Dalam paparannya di ICESAC, Fajar menegaskan bahwa para siswa sebenarnya tidak kekurangan nilai moral, melainkan mereka belum menyadari bahwa menggunakan AI adalah sebuah tindakan moral dan sosial. Akses bebas terhadap jawaban instan AI seringkali mengalahkan motivasi untuk mempraktikkan nilai tersebut. Oleh karena itu, untuk menjembatani kesenjangan ini, pendidik dituntut untuk menjadikan regulasi AI sebagai praktik kepedulian antarteman sebaya, bukan sekadar pengawasan dari guru.

Presentasi ini merekomendasikan model pedagogis berupa rutinitas kelas, seperti: mewajibkan log verifikasi AI dan evaluasi proses penalaran (untuk silih asah), meminta siswa memanusiakan dan melokalkan draf AI (untuk silih asih), serta membuat papan "hoaks dan kesalahan AI" atau daftar periksa privasi bersama di kelas (untuk silih asuh). Dengan pendekatan ini, nilai tradisional Trisilas mendapatkan arena baru untuk tetap hidup di dunia digital, sementara penggunaan AI di kelas mendapatkan landasan moral yang kuat bagi para Generasi Z.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *