Penulis: Nadiya Khansa (SaIG, 2403216)
Penyunting: Reva Laelatul Zahra

Ayo Masuk, Di Dalam Hujan
Di rumahku hujan menggigil kedinginan.
Katanya ingin menginap, satu purnama saja.
Maka teh hangat ‘ku siapkan,
selimut senja ‘ku hangatkan.
Rumahmu bagaimana?
Kedatangan hujan juga?
Di dalam hujan sedang berduka.
Perciknya masuk ke dunia fana,
dalam samar bisiknya terasa dekat sekali:
“Ketika Aku datang,
apa Kamu justru lebih senang
ketika dedurianlah
yang jatuh? Bukan air.”
Isak hujan semakin nyalang.
Entah sudah berapa kota Ia buat banjir,
sudah berapa pohon gagal menyerapnya.
Gemuruh pada atap rumahku
semakin nyaring
dan seketika
ambruk juga di jiwaku.
Kota Parahyangan bagiku
adalah arah
dari segala jalan pulang.
Karena disana
kita menyicip kebebasan,
saling kasih mengasihi.
Bersama senja yang
menggelinang air mataku.
To My Dearest
kepada Kerabatku yang kasih
Mengalir dalam takdir: kita bersua,
benarlah hikmat dan bahagia.
Di segala waktu
ketika mata saling menemu,
semilir angin malam dan suaramu
yang entah bagaimana,
serasa dapat memeluk
semua hati yang hampa dan remuk.
Mengetahui namamu, (yang wangi kayu manis)
memperbaiki
dinding rumah-rumah rusak.
Merajut kembali
benang kusut
masing-masing hati yang berceceran.
Ketahuilah bahwa
sebangsat apapun dunia
mengoyakmu,
di sini ada Aku.
Setia..
menunggu setiap kepingan hatimu,
yang pecah dan pilu.
Segala pemberian
duka dan bahagia
darimu, membuatku mengerti.
Tak segala hal
harus dipaksa benar
dan utuh, dalam satu waktu.
Teman, semoga mimpi-mimpi
yang baik saja,
senantiasa menyelinap
di setiap malammu yang senyap.
Dan Aku akan ikut mengendap.
(Eh, Aku sudah izin ke Ibu kok.)
Mari Bermain Teka-Teki. Apakah pada Hari Kematian, Aku Baru Dirayakan?
Pada suatu usia, yang kepala dua,
langit kepala semakin seberat semesta,
sepanas karhutla.
Di perjalanan, malam durja,
Aku ditelanjangi
nasib tak tentu lagi.
Lantas mana yang lebih biru,
antara langit di kamarnu
atau Aku?
Entah jadi apa
Aku jadinya
jika dua kata saja
membuatku luruh dalam ketiadaan?
“After you.”
Tirai-tirai tabir
melengos dari jendela.
Wajah yang muram
dan gelapnya mega mendung,
tak mampu menghirup udara,
segala jadi petaka.
Lalu bagaimana
ribuan diksi
bisa membuatku
tersungkur
lebih dalam dari
jangkar Van Der Wijck?
Di kamar Aku telanjang,
duka yang menantang.
Bisakah Aku
memadamkan api
dan membuang pisau
jauh ke dasar lautan?
Ah, untungnya
mimik burukku
mampu menyabotase
orang-orang yang kusayangi.
Setelahmu, Hanya Sunyi Yang Kukenal
I don’t look like anything, after you,
Afterlife.
They look the same.
People have different ways
of hurting the ones they love.
And I’m just waiting,
while protecting what is left of me.
Every part of me
once belonged to you.
Every curve and flatline
across my body now
doesn’t know how
to bond with another soul.
And it’s only my mind
that remains—
a hallway
full of past times,
where every door
still opens to you.
’Cause my body
couldn’t respond anymore.
Even when there’s nothing left of me,
your name will remain
not among the living,
but somewhere
my corpse still remembers.
Dari Kejauhan, Aku Melihatmu Terang
Setiap malam yang kita temui
dan dingin kota yang kita mampusi,
pada akhirnya hanya
meleleh di alam mimpi.
Lalu dengan sengaja
Ia membakar kreteknya
berkali-kali.
Sementara lail semakin lail,
dilaknat serasa jadi Bahlil,
Fihi Ma Fihi terbahak jahil,
kaki terjerembab kerikil.
Tak usahlah membuang
waktu-waktu berhargamu,
untuk sekadar
membuatku merasa dicintai.
Pergilah ke pantai lepas
hati-hati ada hiu buas
Terbanglah ke udara bebas
ada elang ganas, awas!
Sejurus lara Aku dirampas ketenungan:
“Bu, kepada siapa Aku
belajar mencintai?
Dengan benar,
dengan tulus dan nanar.”
Hati yang bisu,
namamu masih kusebut
beribu kali,
lebih duka lagi,
mari mengingat lagi.
Sementara dada semakin sepi
meski sudah ratusan
bakau meramaikan.
Gelas-gelas tumpah
pecah belah,
hanya menyapa lambung
dan pergi meninggalkan rindu.
Semakin perih,
semakin gelisah dan rebah
di hujan yang mewah.
Aku takkan pernah lupa
tangan dinginmu,
di rembulan yang mati,
melantunkan hangat serupa
mentari naif di sunyi yang membiru.
