Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
KETIKA DUNIA HANYA FANA, MAKA NAMAMU ABADI

Penulis: Nadiya Khansa (SaIG, 2403216)

Penyunting: Hilmy Nurizky (SaIG, 2400015)

Dok. Penulis

Ayo Masuk, Di Dalam Hujan

Di rumahku hujan menggigil kedinginan.

Katanya ingin menginap, satu purnama saja.

Maka teh hangat ‘ku siapkan,

selimut senja ‘ku hangatkan.

Rumahmu bagaimana?

Kedatangan hujan juga?

Di dalam hujan sedang berduka.

Perciknya masuk ke dunia fana,

dalam samar bisiknya terasa dekat sekali:

“Ketika Aku datang,

apa Kamu justru lebih senang

ketika dedurianlah

yang jatuh? Bukan air.”

Isak hujan semakin nyalang.

Entah sudah berapa kota Ia buat banjir,

sudah berapa pohon gagal menyerapnya.

Gemuruh pada atap rumahku

semakin nyaring

dan seketika 

ambruk juga di jiwaku.

Kota Parahyangan bagiku 

adalah arah

dari segala jalan pulang.

Karena disana 

kita menyicip kebebasan,

saling kasih mengasihi.

Bersama senja yang 

menggelinang air mataku.

To My Dearest

kepada Kerabatku yang kasih

Mengalir dalam takdir: kita bersua,

benarlah hikmat dan bahagia.

Di segala waktu 

ketika mata saling menemu,

semilir angin malam dan suaramu

yang entah bagaimana,

serasa dapat memeluk

semua hati yang hampa dan remuk.

Mengetahui namamu, (yang wangi kayu manis)

memperbaiki

dinding rumah-rumah rusak.

Merajut kembali

benang kusut

masing-masing hati yang berceceran.

Ketahuilah bahwa

sebangsat apapun dunia

mengoyakmu, 

di sini ada Aku. 

Setia..

menunggu setiap kepingan hatimu,

yang pecah dan pilu.

Segala pemberian

duka dan bahagia

darimu, membuatku mengerti.

Tak segala hal

harus dipaksa benar

dan utuh, dalam satu waktu.

Teman, semoga mimpi-mimpi

yang baik saja,

senantiasa menyelinap 

di setiap malammu yang senyap.

Dan Aku akan ikut mengendap.

(Eh, Aku sudah izin ke Ibu kok.)

Mari Bermain Teka-Teki. Apakah pada Hari Kematian, Aku Baru Dirayakan?

Pada suatu usia, yang kepala dua,

langit kepala semakin seberat semesta,

sepanas karhutla.

Di perjalanan, malam durja,

Aku ditelanjangi 

nasib tak tentu lagi.

Lantas mana yang lebih biru,

antara langit di kamarnu

atau Aku?

Entah jadi apa

Aku jadinya

jika dua kata saja

membuatku luruh dalam ketiadaan?

“After you.”

Tirai-tirai tabir

melengos dari jendela.

Wajah yang muram

dan gelapnya mega mendung,

tak mampu menghirup udara,

segala jadi petaka.

Lalu bagaimana

ribuan diksi

bisa membuatku

tersungkur

lebih dalam dari

jangkar Van Der Wijck?

Di kamar Aku telanjang,

duka yang menantang.

Bisakah Aku 

memadamkan api 

dan membuang pisau 

jauh ke dasar lautan?

Ah, untungnya

mimik burukku

mampu menyabotase

orang-orang yang kusayangi.

Setelahmu, Hanya Sunyi Yang Kukenal

I don’t look like anything, after you,
Afterlife.

They look the same.

People have different ways

of hurting the ones they love.

And I’m just waiting,

while protecting what is left of me.

Every part of me

once belonged to you.

Every curve and flatline

across my body now

doesn’t know how

to bond with another soul.

And it’s only my mind

that remains—

a hallway

full of past times,

where every door

still opens to you.

’Cause my body

couldn’t respond anymore.

Even when there’s nothing left of me,

your name will remain

not among the living,

but somewhere 

my corpse still remembers.

Dari Kejauhan, Aku Melihatmu Terang

Setiap malam yang kita temui

dan dingin kota yang kita mampusi,

pada akhirnya hanya

meleleh di alam mimpi.

Lalu dengan sengaja

Ia membakar kreteknya 

berkali-kali.

Sementara lail semakin lail,

dilaknat serasa jadi Bahlil,

Fihi Ma Fihi terbahak jahil,

kaki terjerembab kerikil.

Tak usahlah membuang

waktu-waktu berhargamu,

untuk sekadar

membuatku merasa dicintai.

Pergilah ke pantai lepas

hati-hati ada hiu buas

Terbanglah ke udara bebas

ada elang ganas, awas!

Sejurus lara Aku dirampas ketenungan:

“Bu, kepada siapa Aku 

belajar mencintai?

Dengan benar,

dengan tulus dan nanar.”

Hati yang bisu,

namamu masih kusebut

beribu kali,

lebih duka lagi,

mari mengingat lagi.

Sementara dada semakin sepi

meski sudah ratusan

bakau meramaikan.

Gelas-gelas tumpah

pecah belah,

hanya menyapa lambung

dan pergi meninggalkan rindu.

Semakin perih,

semakin gelisah dan rebah

di hujan yang mewah.

Aku takkan pernah lupa

tangan dinginmu,

di rembulan yang mati,

melantunkan hangat serupa 

mentari naif di sunyi yang membiru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *