Pendidikan merupakan proses fundamental dalam kehidupan manusia yang mencakup transfer pengetahuan, pengembangan keterampilan, serta pembentukan karakter dan nilai-nilai. Melalui pendidikan, individu tidak hanya memperoleh informasi akademis, tetapi juga belajar cara berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, dan berinteraksi secara sosial. Proses ini terjadi secara formal melalui institusi seperti sekolah dan universitas, maupun secara informal dalam keluarga dan lingkungan masyarakat. Pendidikan berperan sebagai fondasi bagi kemajuan peradaban karena ia membekali manusia dengan kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup, meningkatkan taraf ekonomi, dan berkontribusi bagi pembangunan sosial. Tanpa pendidikan, mustahil bagi suatu masyarakat untuk mencapai kemajuan yang berkelanjutan, karena pendidikanlah yang melahirkan inovasi, memperkuat demokrasi, dan menjaga kelangsungan budaya.

Salah satu aspek penting dalam pendidikan modern adalah penanaman kesadaran lingkungan sejak dini. Hal ini disebabkan oleh ancaman krisis ekologis seperti pemanasan global, polusi, dan kepunahan biodiversitas yang semakin mengkhawatirkan. Dengan memperkenalkan konsep pelestarian alam sejak masa kanak-kanak, pendidikan dapat menciptakan generasi yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi. Anak-anak yang diajarkan untuk mencintai lingkungan cenderung tumbuh menjadi individu yang hemat energi, mengurangi penggunaan plastik, dan peduli terhadap keberlanjutan ekosistem. Sekolah dapat memainkan peran kunci dengan mengintegrasikan kurikulum berbasis lingkungan, misalnya melalui proyek daur ulang, kebun sekolah, atau kunjungan edukatif metode konservasi. Selain itu, keluarga juga berperan penting dengan membiasakan gaya hidup ramah lingkungan, seperti memilah sampah atau menghemat air. Kesadaran lingkungan yang ditanamkan sejak kecil tidak hanya bermanfaat bagi alam, tetapi juga membentuk pribadi yang lebih disiplin, empatik, dan sadar akan tanggung jawab kolektif. Dengan demikian, pendidikan lingkungan bukan sekadar tambahan kurikulum, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bumi dan kemanusiaan.
Pada program kerja Sekolah Alam yang dilaksanakan oleh Departemen Lingkungan Hidup Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi memiliki tujuan berkelanjutan untuk memacu semangat belajar di kalangan generasi muda, khususnya anak-anak di Kampung Adat Cireundeu, dengan menciptakan lingkungan yang mendorong rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Selain itu, kegiatan ini dirancang untuk melatih kreativitas sekaligus meningkatkan kemampuan sosialisasi anak-anak melalui berbagai aktivitas interaktif, seperti permainan edukatif dan kerja kelompok, sehingga mereka tidak hanya berkembang secara kognitif tetapi juga mampu berinteraksi dengan lebih percaya diri. Lebih jauh, program ini juga berupaya memperkenalkan dan menumbuhkan kesadaran lingkungan dengan mengajak anak-anak terlibat langsung dalam praktik-praktik ramah lingkungan, seperti menanam pohon atau mengelola sampah, agar mereka sejak dini memahami pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari kearifan lokal Kampung Adat Cireundeu. Dengan demikian, diharapkan muncul generasi yang tidak hanya cerdas dan kreatif, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan dan budaya mereka.

Gambar 2. Dokumentasi Sekolah Alam Pertemuan 1-3
Program kerja Sekolah Alam dilaksanakan melalui tiga pertemuan berurutan pada tanggal 27 Juli, 3 Agustus, dan 10 Agustus. Setiap pertemuan mengusung kurikulum berbasis lingkungan dengan materi pembelajaran yang berbeda, dirancang untuk membangun pemahaman holistik peserta mengenai ekosistem dan keberlanjutan. Pada pertemuan pertama, anak-anak diajak untuk mengenali dan mengidentifikasi lingkungan sekitarnya, guna menumbuhkan kepekaan terhadap alam sekitar. Pertemuan kedua berfokus pada pengenalan konsep pengelolaan sampah, termasuk klasifikasi jenis sampah serta metode penanganannya secara bertanggung jawab. Sementara itu, pertemuan ketiga membahas pemahaman dasar mengenai fenomena cuaca dan mitigasi bencana alam, yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan peserta terhadap potensi risiko lingkungan.
Agar proses pembelajaran tetap dinamis dan efektif, metode yang digunakan tidak terbatas pada penyampaian materi secara konvensional, tetapi juga mengintegrasikan kegiatan praktik langsung dan ice breaking untuk menjaga keterlibatan serta fokus anak. Pendekatan interaktif ini memungkinkan peserta untuk berpartisipasi aktif dalam setiap sesi, didampingi oleh pengajar dan anggota Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi yang bertindak sebagai fasilitator. Dengan demikian, program ini tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga pengalaman langsung, sehingga diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai lingkungan secara lebih mendalam sekaligus memupuk rasa tanggung jawab kolektif terhadap kelestarian alam.
Pertemuan pertama yang dilaksanakan pada 27 Juli 2025 ini difasilitasi oleh Nazhifa Khairiya Anjani dan Fazrul Ramadhanni. Peserta diajak mengenal karakteristik serta ciri-ciri fisik lingkungan tempat tinggal mereka di Kampung Adat Cireundeu. Anak-anak mengamati langsung keanekaragaman hayati yang ada, seperti jenis tumbuhan, hewan, serta kondisi fisik wilayah. Aktivitas dilakukan melalui eksplorasi singkat di sekitar kampung, kemudian dilanjutkan diskusi kelompok untuk menyebutkan temuan mereka. Kegiatan ini bertujuan menambah wawasan mengenai lingkungan sekitar sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap alam.
Pertemuan kedua pada 3 Agustus 2025, Irma Nirmala Sari dan Rizky Irfansyah memandu anak-anak mengenal jenis-jenis sampah: organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Peserta mempelajari dampak negatif sampah terhadap lingkungan dan kesehatan, serta diperkenalkan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace). Sesi ini juga mengajak anak-anak mempraktikkan pemilahan sampah secara langsung dan membuat karya sederhana dari barang bekas. Tujuannya adalah membentuk kebiasaan mengelola sampah secara bertanggung jawab dan menyadarkan mereka bahwa setiap individu bisa berkontribusi mengurangi sampah.
Pertemuan terakhir pada Minggu, 10 Agustus 2025, dipandu oleh Della Antika Wahyuni dan Azkia Nabila Zahra. Anak-anak mempelajari berbagai jenis cuaca seperti cerah, hujan, dan berawan, serta jenis-jenis bencana alam yang sering terjadi di Indonesia seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan angin puting beliung. Materi ini mengaitkan hubungan antara cuaca ekstrem dan potensi bencana, sekaligus memberikan pengetahuan langkah-langkah awal menghadapi situasi darurat. Melalui permainan edukatif dan simulasi sederhana, anak-anak diajarkan cara menjaga keselamatan diri saat bencana terjadi.
Rangkaian terakhir sekolah alam yakni penutupan yang diawali dengan laporan dari wakil ketua pelaksana dan sesi refleksi bersama pada akhir pertemuan ketiga. Peserta berbagi pengalaman, pengetahuan baru, dan rencana aksi kecil yang ingin mereka lakukan untuk menjaga lingkungan. Panitia memberikan apresiasi berupa rewarding di setiap pertemuannya kepada seluruh peserta sebagai tanpa partisipasi. Lalu selanjutnya ditutup secara resmi oleh Bapak Dr. Iwan Setiawan, M. Si. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Geografi UPI melalui pemberian sertifikat penghargaan kepada Bapak Ali selaku Kepala Sekolah SD Negeri Cireundeu. Dengan begitu, selesai sudah Sekolah Alam yang diadakan di Kampung Adat Cireundeu ini.
Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini pada anak-anak Kampung Adat Cireundeu. Dengan pengetahuan tentang lingkungan, pengelolaan sampah, serta mitigasi bencana, peserta dapat menjadi agen perubahan yang aktif menjaga kelestarian alam di sekitarnya. Manfaat kegiatan juga dirasakan oleh mahasiswa yang berperan sebagai fasilitator, karena mereka berkesempatan mengasah keterampilan mengajar, komunikasi, dan kerja sama tim. Bagi masyarakat, program ini memberi dorongan untuk menerapkan kebiasaan ramah lingkungan secara konsisten. Sekolah Alam diharapkan dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai upaya membentuk generasi muda yang cerdas, kreatif, peduli, dan tangguh menghadapi tantangan lingkungan.
Penulis : Salwa Dhia Tisani (2312471) dan Chelomita Trivena Simarmata (2402781)
Editor : Syalwa Ramadianti Nugraha (2407430)