Bandung — Di tengah arus zaman yang semakin cepat dan kompleks, Widia Lestari, S.Pd., hadir sebagai sosok pendidik muda yang tak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Lulusan Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam (IPAI) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI) tahun 2023 ini telah membuktikan bahwa pendidikan Islam bisa menjelma menjadi gerakan literasi, dakwah, dan kebudayaan yang menyentuh banyak lapisan masyarakat. Saat ini Widia sedang menyelesaikan program magister PAI di Universitas yang sama.
Dari Ruang Kelas ke Ruang Karya
Sejak lulus, Widia langsung mengabdi sebagai guru Pendidikan Agama Islam di SMA Kartika XIX-3 Bandung. Di sekolah yang sama, ia juga dipercaya sebagai kepala perpustakaan, menjadikan ruang baca sebagai pusat pembinaan karakter dan spiritualitas siswa. Di luar sekolah, ia aktif sebagai tutor dan HRD di Solusi Bimbel Privat, memperluas pengaruhnya dalam pembelajaran personal dan pengembangan sumber daya manusia.




Namun kiprah Widia tidak berhenti di ruang kelas. Ia dikenal sebagai penulis produktif yang telah menghasilkan berbagai karya ilmiah dan sastra. Tulisan-tulisannya mengangkat tema pendidikan karakter, spiritualitas, dan kearifan lokal, seperti pencak silat kebaitan, wayang Sukuraga, dan teologi inklusif. Beberapa karyanya telah dipresentasikan dalam forum ilmiah internasional seperti ICOGEN, dan diterbitkan dalam jurnal nasional.
Di bidang sastra, Widia telah menerbitkan sejumlah buku antologi dan novel, termasuk Hi Bye: Sekolah Kehidupan yang menggambarkan dinamika remaja dalam bingkai nilai-nilai Islam. Ia menjadikan sastra sebagai medium dakwah yang lembut, menyentuh, dan relevan bagi generasi muda.
Dakwah yang Membumi
Tak hanya di dunia akademik, Widia juga aktif dalam kegiatan sosial dan dakwah. Ia menjadi relawan di Yayasan Permata Insani dan Islamic Learning Center Bandung, serta menjadi pembina dakwah di SMKN 13 Bandung. Selama tiga tahun berturut-turut, ia dinobatkan sebagai Pembina Dakwah Terbaik, sebuah pengakuan atas dedikasi dan ketulusan dalam membimbing siswa menuju akhlak mulia.
Dalam refleksinya, Widia menyampaikan bahwa belajar di IPAI UPI bukan hanya soal ilmu agama, tetapi juga tentang menyelami psikologi pendidikan dan membentuk manusia seutuhnya. “Dosen-dosen di IPAI bukan sekadar pengajar, mereka adalah cahaya yang menuntun dan mendorong saya untuk berprestasi dan menebar manfaat,” ujarnya.
Menjawab Tantangan Zaman
Widia menyadari bahwa pendidikan Islam menghadapi tantangan besar di era modern, seperti hedonisme, liberalisme, dan krisis spiritual. Ia meyakini bahwa pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan tersebut dengan pendekatan ilmiah, humanis, dan berbasis nilai. “Jika pendidikan Islam tidak berkembang sebagai ilmu yang relevan, maka ia akan terpinggirkan. Saya ingin mengambil peran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat dan ilmu adalah jalan kebermanfaatan,” tuturnya.
Kiprah Widia Lestari menjadi bukti bahwa lulusan IPAI FPIPS UPI mampu menjelajahi berbagai ruang pengabdian—dari ruang kelas hingga ruang karya, dari dakwah hingga literasi, dari lokal hingga global. Ia hadir sebagai representasi generasi muda yang menjadikan Islam bukan hanya sebagai ajaran, tetapi sebagai gerakan yang hidup, menyala, dan memberi harapan.
