Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
ASEAN Geography Smart Competition 2026

Adaptasi Kearifan Lokal: Strategi Ketahanan Pangan dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Penulis : Irma Nirmala Sari (2406990) dan Ferry Dinata (2303449)

Editor : Syalwa Ramadianti Nugraha (2407430)

ASEAN Geography Smart Competition merupakan salah satu program kerja unggulan yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi FPIPS UPI. Program ini dirancang sebagai ajang kompetisi akademik yang berfokus pada pengembangan wawasan dan keterampilan siswa/i SMA sederajat se-ASEAN di bidang Geografi. Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk memahami isu-isu spasial secara lebih kritis dan komprehensif. Disamping itu, ASEAN Geography Smart Competition juga menjadi sarana untuk memperkenalkan Program Studi Pendidikan Geografi FPIPS UPI kepada peserta dari berbagai daerah dan negara.


Tahun ini GEOSAC hadir dengan mengangkat tema “Adaptasi Kearifan Lokal: Strategi Ketahanan Pangan dalam Menghadapi Perubahan Iklim”. Tema ini menekankan pentingnya mengintegrasikan pengetahuan tradisional masyarakat sebagai upaya menjaga keberlanjutan pangan di tengah tekanan perubahan iklim. Negara-negara ASEAN yang sangat bergantung pada sektor pertanian menghadapi ancaman serius akibat peningkatan suhu, cuaca ekstrem, serta gangguan pola musim. Dalam konteks tersebut, kearifan lokal yang telah terbentuk melalui pengalaman panjang masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan menjadi aset strategis untuk membangun ketahanan pangan. Praktik-praktik tradisional, sistem sosial-budaya, hingga inovasi berbasis potensi lokal dapat menjadi fondasi dalam menciptakan sistem pangan yang tangguh, berkelanjutan, dan relevan dengan kondisi wilayah masing-masing. Oleh karena itu, sinergi antara kearifan lokal, teknologi, pembangunan ekonomi, serta sektor pariwisata dan industri kreatif menjadi langkah penting untuk menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan pangan di kawasan ASEAN.


GEOSAC 2026 dilaksanakan selama dua hari yaitu pada hari Rabu-Kamis, 04-05 Februari 2026. Konten kegiatan pada hari pertama berupa Olimpiade Geografi bagi Siswa/i SMA Sederajat yang terbuka hingga tingkat ASEAN. Selain itu, terdapat kegiatan Pembekalan Guru mengenai alat-alat laboratorium geografi, penerbangana drone, akuisisi data serta pengolahan datanya. Pada hari kedua, GEOSAC menghadirkan kegiatan lapangan yaitu Geotrek Siswa dan Geotrek Guru.


Kegiatan pada hari pertama diawali dengan prosesi pembukaan yang berlangsung meriah dan penuh khidmat. Suasana aula dipenuhi alunan musik tradisional yang mengiringi penampilan tari Topeng Kelana asal Cirebon, yang dibawakan oleh empat orang mahasiswi Pendidikan Geografi. Gerak tari yang anggun dan penuh makna tersebut menjadi pembuka yang memberikan kesan hangat sekaligus sakral bagi seluruh tamu yang hadir. Setelah penampilan tari, dilaksanakan prosesi pengalungan bunga kepada para undangan kehormatan sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan. Tamu undangan tersebut di antaranya Ibu Muftiah Listi dari Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Jawa Barat sebagai perwakilan Gubernur, serta Bapak Prof. Yudi selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan yang mewakili rektor. Prosesi pengalungan bunga dilakukan secara langsung oleh para penari topeng sebagai bagian dari rangkaian pembukaan yang bernuansa adat. Seluruh rangkaian pembukaan yang dikemas dalam bentuk upacara adat tersebut berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh makna. Kegiatan ini turut dihadiri oleh para guru pembimbing, peserta siswa yang akan berkompetisi, serta berbagai tamu undangan yang berasal dari dalam maupun luar lingkungan universitas, sehingga suasana pembukaan terasa semakin semarak dan berkesan.


Setelah rangkaian pembukaan selesai dilaksanakan, inti kegiatan pada hari pertama dibagi menjadi dua agenda utama yang berlangsung secara bersamaan. Agenda tersebut meliputi Olimpiade Siswa yang berlokasi di Sistem dan Teknologi Informasi (STI) UPI serta kegiatan Pembekalan Guru yang dilaksanakan di Halaman Garnadi dan Gedung BPU Achmad Sanusi.

Olimpiade siswa diikuti oleh 158 siswa/i SMA sederajat yang berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam. Pelaksanaan olimpiade dirancang untuk menguji kemampuan peserta secara komprehensif melalui beberapa jenis soal. Pengisian soal dilaksanakan secara bertahap per jenis soal dengan sesi waktu yang telah ditentukan

Di sisi lain, para guru pembimbing mengikuti kegiatan pembekalan yang berfokus pada pengenalan dan pemanfaatan berbagai alat laboratorium geografi. Materi pembekalan meliputi alat-alat survei seperti Total Station (TS), Waterpass (WP), GNSS, GPS Handheld, prisma, rambu ukur, dan statif. Selain itu, diperkenalkan pula alat penginderaan jauh seperti stereoplot, citra, DJI Matrice 350, drone Autel, serta premark. Guru juga mendapatkan pemahaman mengenai alat geografi fisik, di antaranya soil tester, weather tester, palu geologi, kompas geologi, anemometer, dan current meter, serta alat geolistrik single channel dan multi channel. Dilaksanakan juga praktik penerbangan drone dan akuisisi data citra drone yang dipandu oleh GEOSAC bersama tim Laboratorium Geografi UPI. Selanjutnya, data hasil akuisisi tersebut diolah menjadi data pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh para guru sebagai media dan sumber belajar geografi di sekolah masing-masing.

Pada hari kedua, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan Geotrek bagi siswa dan guru yang berlangsung di dua lokasi berbeda. Kegiatan ini dirancang sebagai pengalaman lapangan yang mengintegrasikan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam memahami fenomena geografi secara langsung. Melalui Geotrek, peserta tidak hanya berjalan menyusuri suatu kawasan, tetapi juga diarahkan untuk mengamati, menganalisis, serta menafsirkan berbagai unsur lingkungan yang ditemui sepanjang perjalanan. Menurut Kang Bach (T. Bachtiar), Geotrek merupakan perjalanan edukatif yang bertujuan untuk menyapa gejala kebumian, mengenali makhluk hidup, serta menafsirkan kisah yang tersimpan di dalam bentang alam. Konsep ini berangkat dari pemahaman bahwa setiap lanskap terbentuk melalui proses geologi, ekologi, serta aktivitas manusia dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, kegiatan Geotrek tidak hanya berfokus pada pengamatan fisik, tetapi juga pada pemahaman hubungan antara alam, manusia, dan budaya. Pendekatan ini menekankan pembelajaran langsung di lapangan sehingga dapat memahami fenomena geografi secara kontekstual.

Geotrek Siswa dilaksanakan di kawasan The Lodge Maribaya yang memiliki lanskap alam pegunungan. Kegiatan ini dirancang dalam sistem pos to pos, di mana setiap kelompok siswa berpindah dari satu titik ke titik lainnya untuk mengerjakan soal isian singkat yang berkaitan dengan materi tertentu sesuai dengan kenampakan alamnya. Terdapat empat pos utama yang masing-masing berisi tema berbeda yang relevan dengan kondisi lapangan. Setiap pos tidak hanya menguji pengetahuan siswa, tetapi juga kemampuan observasi, analisis, dan interpretasi terhadap fenomena yang mereka temui secara langsung.

Sementara itu, Geotrek Guru dilaksanakan di kawasan Kasepuhan Bunisari yang terkenal dengan Tradisi Nyawang Bulan. Tradisi Nyawang Bulan di Kasepuhan Bunisari merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap malam bulan purnama, khususnya pada tanggal 14 Hijriah, sebagai momen kebersamaan masyarakat dalam merayakan alam dan kehidupan. Istilah “nyawang” berarti menatap atau mengamati, sehingga tradisi ini secara harfiah bermakna menatap bulan sambil mensyukuri ciptaan Tuhan. Disana, para guru mendapatkan pematerian mengenai sejarah Kasepuhan Bunisari. Pematerian tersebut disampaikan langsung oleh Bapak Sandi selaku tokoh setempat.
Selain pematerian, para guru juga mengikuti workshop pembuatan mainan tradisional khas Kasepuhan Bunisari yang berbahan dasar bambu. Dalam kegiatan ini, para guru dibagi menjadi tujuh tim, di mana setiap tim memperoleh alat dan bahan untuk membuat mainan secara langsung. Workshop ini bertujuan untuk mengenalkan nilai kreativitas berbasis budaya lokal serta memberikan inspirasi bagi guru dalam mengembangkan media pembelajaran kreatif di sekolah. Dengan pendampingan langsung dari salah satu tokoh pengrajin setempat, para guru secara bersama-sama membuat mainan tradisional yang kemudian dijadikan sebagai cenderamata.

Tidak hanya itu, para guru juga diajak melakukan kegiatan trekking untuk mengunjungi bangunan tradisional yang biasa digunakan sebagai pasar saat tradisi Nyawang Bulan berlangsung. Selama kegiatan tersebut, para guru tidak hanya melihat secara langsung lokasi, tetapi juga mendapatkan penjelasan mengenai proses, makna, serta tahapan pelaksanaan tradisi tersebut yang dijelaskan oleh Teh Fega yang merupakan salah satu pelopor Nyawang Bulan. Melalui pengalaman ini, para guru diharapkan dapat memahami keterkaitan antara budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat, serta dapat menjadikannya bahan pembelajaran geografi di sekolah yang lebih kontekstual lagi.


Setelah para siswa dan guru menyelesaikan rangkaian kegiatan Geotrek di lokasi masing-masing, seluruh peserta diarahkan kembali menuju lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Titik kumpul kegiatan hari kedua bertempat di Gedung BPU Achmad Sanusi sebagai lokasi pelaksanaan penutupan sekaligus pengumuman kejuaraan. Suasana gedung dipenuhi oleh peserta, guru pembimbing, panitia, serta tamu undangan yang hadir dengan penuh antusias. Kegiatan ini menjadi momen yang paling dinantikan oleh para siswa setelah melalui berbagai rangkaian lomba dan aktivitas lapangan. Seluruh peserta tampak antusias menunggu hasil penilaian yang telah dilakukan.

Dalam pengumuman tersebut, panitia menyampaikan beberapa kategori nominasi yang dilombakan, di antaranya kejuaraan tipe soal olimpiade, video terbaik, video terfavorit, penilaian geotrek, dan sebagainya. Setiap nominasi diumumkan secara bertahap dengan suasana yang meriah dan penuh sorak dukungan dari peserta maupun guru pembimbing. Antusiasme peserta semakin terasa ketika nama-nama pemenang mulai diumumkan satu per satu. Juara pertama berhasil diraih oleh Abraham Richard Gawa, yang merupakan peserta asal dari SMA St. Aloysius 1. Berdasarkan hasil akumulasi penilaian, Abraham Richard Gawa memperoleh total skor sebesar 467 dari keseluruhan rangkaian pelombaan.

Sebelum seluruh rangkaian kegiatan benar-benar berakhir, panitia menghadirkan persembahan permainan angklung sebagai penutup acara. Penampilan ini menjadi salah satu momen yang paling dinantikan. Uniknya, dalam penutupan ini siswa/i peserta olimpiade dilibatkan secara langsung sebagai pemain angklung. Tentunya, sebelum permainan dimulai, para siswa terlebih dahulu menerima panduan singkat sebagai persiapan awal. Arahan tersebut membantu mereka memahami teknik dasar serta alur permainan secara bersama-sama. Suasana kebersamaan serta rasa gembira sangat terasa selama permainan berlangsung. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, permainan angklung menjadi salah satu bagian yang paling berkesan dalam keseluruhan rangkaian kegiatan GEOSAC.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *