
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Samuel Halomoan Simarmata, kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Ia terpilih sebagai Google Student Ambassador 2026 dalam program yang diselenggarakan oleh Google Indonesia pada 2 April 2026.
Prestasi ini menjadi signifikan mengingat ketatnya proses seleksi. Dari sekitar 81.000 pendaftar, hanya 2.000 peserta yang berhasil lolos ke tahap akhir.
Samuel mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam program tersebut berawal dari motivasi yang tidak sepenuhnya direncanakan. Ketertarikannya muncul secara spontan, namun diperkuat oleh kesadaran akan reputasi Google sebagai perusahaan global yang prestisius, serta peluang untuk meningkatkan kredibilitas diri melalui rekam jejak prestasi.
Setelah pengisian biodata, proses seleksi Google Student Ambassador terdiri dari tiga tahap, yaitu self-interview, penyusunan CV, serta mengunggah postingan sebagai kandidat. Menariknya, Samuel hanya mengikuti hingga tahap kedua yang bersifat wajib tanpa melanjutkan ke tahap ketiga yang opsional. Meski demikian, ia tetap dinyatakan lolos. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dasar, kesiapan, serta pengalaman kandidat tetap menjadi faktor penting dalam proses seleksi.
Selama proses tersebut, Samuel mengakui sempat menghadapi tantangan berupa rasa kurang percaya diri, terutama ketika membandingkan dirinya dengan kandidat lain yang dinilai memiliki capaian lebih tinggi. Namun, ia menekankan pentingnya keberanian untuk mencoba serta konsistensi dalam memberikan performa terbaik. Baginya, kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari proses pembelajaran untuk membangun kepercayaan diri.

Lebih lanjut, Samuel memandang bahwa mahasiswa berprestasi tidak hanya diukur dari pencapaian akademik. Kemampuan membangun citra diri yang positif, berpikir kritis dan kreatif, serta memiliki keterampilan komunikasi baik dalam kepenulisan maupun public speaking juga menjadi aspek penting. Hal ini menunjukkan bahwa makna prestasi kini semakin luas dan adaptif terhadap tuntutan zaman.
Samuel juga menekankan pentingnya strategi dalam mengikuti program serupa, terutama dengan memahami pola dan timeline seleksi yang cenderung tidak jauh berbeda setiap tahunnya. Dengan persiapan yang lebih matang, mahasiswa yang belum berhasil tetap memiliki peluang untuk mencoba kembali di kesempatan berikutnya.
Sebagai penutup, Samuel mendorong mahasiswa untuk aktif mengeksplorasi berbagai peluang pengembangan diri, mulai dari kepenulisan, pembuatan konten, hingga keterampilan komunikasi publik. Ia menegaskan bahwa proses tersebut tidak harus dimulai dari skala besar, melainkan dapat dibangun secara bertahap dari ruang lingkup kecil hingga berkembang lebih luas. Menurutnya, keberanian untuk memulai adalah kunci utama dalam meraih peluang.