Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Bukan Lagi Abadi: Nestapa Gletser Carstensz yang Diprediksi Sirna Total pada 2027

Penulis: Maftuhah Ratu A  (2511403)

Editor: Nendeh Rizka Nurfadilah (2508823)

 

Puncak Jaya atau yang juga dikenal sebagai Carstensz Pyramid dengan ketinggian 4.884 mdpl adalah gunung tertinggi di Indonesia dan satu-satunya kawasan bersalju abadi di daerah tropis, yang berlokasi di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua Tengah. Fenomena alam yang sangat langka di kawasan khatulistiwa ini menjadikannya salah satu dari Seven Summits (tujuh puncak tertinggi di dunia).

Sumber: Kompas.com

Keberadaan tutupan es di Puncak Jaya, Papua, yang selama ini menjadi salah satu kebanggaan Indonesia, diperkirakan akan segera lenyap. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), lapisan es yang telah bertahan selama ribuan tahun tersebut diprediksi hilang sepenuhnya pada rentang akhir 2026 hingga awal 2027. Melalui kanal media sosialnya pada Jumat (3/7/2026), BMKG menyampaikan bahwa masyarakat saat ini berpotensi menjadi generasi terakhir yang menyaksikan langsung fenomena es abadi tersebut.

Ancaman kepunahan gletser tropis di Puncak Jaya, Papua semakin nyata berdasarkan sejumlah data ilmiah mutakhir. Laporan World Meteorological Organization (WMO) tahun 2025 menunjukkan sisa es tropis di Puncak Jaya, Papua tinggal 2% dibandingkan luasan pada 1988, dan diperkirakan punah pada akhir 2026 atau awal 2027. Penemuan ini memperkuat hasil penelitian David Ibel dan tim (The Cryosphere, 2025) yang mencatat penurunan luas es hingga lebih dari 99% sejak 1850, di mana citra satelit resolusi tinggi 2024 mencatat sisa area gletser Puncak Jaya tinggal 0,165 km² (16,5 hektare). Selain itu, kajian di jurnal Cold Regions Science and Technology (2026) yang menganalisis data Landsat 1980-2024 mengonfirmasi penyusutan sebesar 7,28 km² (97%), dengan kondisi empat dari enam gletser terpantau telah hilang sepenuhnya. Perbedaan angka luas es tersisa yang muncul di antara ketiga sumber tersebut sekitar 0,09 km² menurut WMO/BMKG (2025), 0,165 km² menurut Ibel dkk. (2025), dan sekitar 0,19-0,23 km² menurut kajian berbasis citra Landsat (2026) bukan merupakan kontradiksi substansial, melainkan mencerminkan perbedaan tahun pengukuran, resolusi citra satelit, dan metode deteksi es yang digunakan pada tiap studi. Ketiganya tetap sepakat bahwa gletser tropis Puncak Jaya telah kehilangan lebih dari 99% luasnya dan berada di ambang kepunahan total pada 2026-2027.

Pemanasan global menjadi pemicu utama hilangnya tutupan es di Papua, yang kondisinya kian diperburuk oleh fenomena El Niño sehingga memicu cuaca lebih panas dan kering. Peneliti iklim dari BMKG, Donaldi Permana, menjelaskan bahwa naiknya suhu mengubah batas ketinggian pembentukan salju. Akibatnya, curah hujan yang semestinya turun berupa salju kini berubah menjadi air hujan. Pergeseran bentuk presipitasi ini menghentikan pasokan es baru dan mempercepat laju pencairan gletser. Dampak krisis ini terlihat jelas dari hasil pemodelan tim peneliti, di mana luas gletser menyusut drastis dari 19,3 km² pada tahun 1850, menjadi hanya 0,16-0,23 km² pada periode 2022-2024.

Puncak glacier decline between 2010 and 2022 Sumber:BMKG

Laju penyusutan ekstrem yang dialami Puncak Jaya ini sejatinya tidak lepas dari karakteristik geografis gletser tropis, yang secara alami merespons perubahan suhu jauh lebih cepat dibandingkan gletser di wilayah kutub. Berada di garis ekuator, gletser tropis menerima paparan radiasi sinar matahari berintensitas tinggi secara konstan sepanjang tahun. Berbeda dengan wilayah kutub yang memiliki musim dingin panjang sebagai fase pemulihan untuk menumpuk kembali massa es, gletser tropis terus-menerus mengalami pencairan tanpa jeda. Respons instan terhadap perubahan iklim ini juga disebabkan oleh wujud gletser tropis yang sangat tipis dan memiliki kelembaman termal (thermal inertia) yang rendah. Rentannya kondisi ini membuat kenaikan suhu global yang kecil saja langsung berdampak fatal, seperti mengubah presipitasi salju pelindung menjadi hujan air, serta memicu penurunan efek pantulan cahaya matahari (albedo) ketika lapisan es menipis dan mengekspos batuan gelap yang menyerap panas di bawahnya.

Kepunahan gletser Carstensz di Puncak Jaya yang diprediksi terjadi pada awal 2027 akan membawa dampak ekologis yang parah, menandai runtuhnya ekosistem alpine tropis langka yang telah terbentuk selama ribuan tahun. Lenyapnya tutupan es ini berarti hilangnya arsip ekologi purba secara permanen, di mana bumi kehilangan jejak sejarah iklim, serbuk sari, dan komposisi atmosfer yang selama ini tersimpan di dalam bongkahan es. Secara fisik, ketiadaan massa es akan memicu efek umpan balik albedo hamparan batuan gelap yang terekspos akan menyerap jauh lebih banyak panas matahari ketimbang memantulkannya. Kondisi ini memicu pemanasan lokal yang dipercepat dan menghilangkan fungsi gletser sebagai pendingin alami, sehingga iklim mikro di kawasan puncak berubah menjadi jauh lebih ekstrem, hangat, dan kering.

Kondisi lingkungan yang memanas ini secara langsung menghadirkan ancaman fatal bagi flora dan fauna endemik di Taman Nasional Lorentz. Spesies yang berevolusi khusus untuk suhu sangat dingin ini akan mengalami fenomena escalator to extinction mereka terpaksa terus bermigrasi ke elevasi yang lebih tinggi untuk mencari suhu dingin, hingga akhirnya es benar-benar habis dan mereka tidak memiliki tempat lagi untuk naik. Bersamaan dengan itu, siklus hidrologi mikro di kawasan tersebut akan terputus. Tanpa adanya lelehan gletser yang selama ini menjaga ketersediaan air dingin bagi ekosistem lahan basah, hamparan lumut, dan danau-danau glasial di sekitarnya, lanskap tersebut berisiko mengering secara drastis sebelum organisme lokal memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi.

Menurut Marie Šabacká, seorang peneliti ekologi gletser dari Charles University Republik Ceko yang melakukan pengukuran di Puncak Carstensz, keberadaan gletser sangat krusial sebagai tempat penyimpanan rekaman iklim alami yang tak terbarukan. “Gletser menyimpan catatan iklim planet kita. Ketika gletser ini mencair, kita kehilangan data ekologis dan sejarah iklim yang tidak akan pernah bisa dipulihkan kembali,” papar Šabacká saat menjelaskan temuan lapangannya.

Šabacká menyoroti adanya ketidakadilan iklim di Puncak Carstensz masyarakat adat Papua yang nyaris tidak menyumbang emisi gas rumah kaca dipaksa menanggung dampak kerusakan di tanah mereka sendiri. Lenyapnya es abadi ini bukan sekadar hilangnya fenomena alam, melainkan membawa duka spiritual bagi berbagai kelompok masyarakat adat:

  1. Suku Amungme

Mendiami lembah di kaki pegunungan dan menyebut puncak tersebut Nemangkawi. Elfrida Natkime, keturunan pemilik hak ulayat di area pertambangan Mimika, menyebut kawasan itu sebagai “Hai Jogon” atau entitas surga yang menjadi tempat peristirahatan para leluhur.

  1. Suku Hubula & Damal

Komunitas adat Hubula (orang Dani) di sekitar Jayawijaya dan masyarakat Damal di Kabupaten Puncak turut meyakini dan menjaga kesakralan puncak bersalju tersebut.

  1. Suku Moni

Tinggal di kawasan utara (Intan Jaya), mereka menjulukinya Mbainggela atau gunung suci yang terlarang. Magdalena Sondegau, mantan porter pendakian dari daerah tersebut, menggarisbawahi bahwa kesucian gunung ini diwariskan lintas generasi dan selalu diabadikan dalam nyanyian tradisional adat Moni.

Sebelum es di Puncak Carstensz benar-benar mencair, para ilmuwan berlomba menyelamatkan data berharga yang terkandung di dalamnya. Pada tahun 2010, kolaborasi peneliti yang dipimpin oleh glasiolog Lonnie Thompson (Ohio State University), oseanograf Dwi Susanto (Columbia University), dan BMKG sukses mengebor inti es di gletser Carstensz dan Northwall Firn. Penemuan ini membuktikan bahwa es tropis tersebut telah bertahan selama minimal 5.000 tahun dan menyimpan rekam jejak atmosfer purba. Upaya ini dilanjutkan pada tahun 2019 oleh tim Ohio State University dan peneliti BMKG, Donaldi Permana, dengan memasang alat pemantau (accumulation stakes) untuk mengukur penyusutan es akibat El Niño 2015-2016. Seluruh riset inilah yang kini menjadi landasan ilmiah dalam memprediksi kepunahan gletser Puncak Carstensz.

Lonnie Thompson mengibaratkan gletser tropis Indonesia sebagai alarm peringatan dini bagi krisis iklim yang lebih masif. Hal ini sangat beralasan mengingat data ancaman nasional yang ada: BRIN memprediksi 115 pulau di Indonesia bisa tenggelam pada 2100 akibat naiknya air laut dan penurunan tanah. Di sisi lain, BMKG memperkirakan kenaikan muka air laut sebesar 3-8 milimeter per tahun yang mengancam 92 pulau terluar hingga 2050, dan Bappenas mencatat potensi tenggelamnya 29 pulau yang akan berdampak pada 16.500 jiwa. Ditambah dengan rekor suhu rata-rata Indonesia yang memanas hingga 27,52°C pada 2024, hilangnya es Papua terbukti bukanlah kejadian tunggal, melainkan bagian dari krisis iklim yang sedang melanda seluruh kepulauan Nusantara.

Sebagai respons atas krisis ini, Indonesia memperketat kebijakan pengurangan emisi karbon. Lewat dokumen Enhanced NDC tahun 2022, target penurunan emisi gas rumah kaca ditingkatkan menjadi 31,89% secara mandiri dan 43,2% dengan bantuan internasional pada tahun 2030. Sektor kehutanan melalui program Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 menjadi ujung tombak yang ditargetkan menyumbang 60% dari total penurunan emisi, sebagai jalan menuju Net Zero Emission 2060. Selain regulasi lingkungan, Kemendikbudristek juga memperkuat literasi iklim dengan meluncurkan Panduan Pendidikan Perubahan Iklim pada Agustus 2024 untuk diterapkan di sekolah-sekolah. Sinergi antara kebijakan mitigasi dan edukasi generasi muda ini merupakan langkah adaptasi krusial di masa depan.

Lenyapnya Gletser Carstensz lebih dari sekadar hilangnya keajaiban alam atau destinasi wisata Seven Summits. Dengan penyusutan luas es lebih dari 99% sejak 1850 dan prediksi kepunahan total pada 2026-2027, fenomena ini adalah bukti nyata bahwa krisis iklim sedang terjadi saat ini, bukan sekadar ancaman masa depan. Generasi saat ini berpotensi menjadi generasi terakhir yang melihat salju khatulistiwa.

Tragedi hilangnya salju abadi Papua yang selama ini disucikan oleh suku Amungme, Hubula, Damal, dan Moni harus menjadi pemicu aksi nyata (call to action) bagi pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat luas. Generasi mendatang tidak boleh hanya mewarisi cerita tentang salju di Papua, tetapi juga harus mewarisi tanggung jawab nyata untuk mencegah tragedi lingkungan serupa terjadi di belahan bumi lainnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

BBC News Indonesia. (2026a, September). Salju terakhir di Papua (Laporan Khusus). https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn45724vy5xo

BBC News Indonesia. (2026b, September). Wawancara dengan Marie Sabacka tentang penelitian salju terakhir di Papua dan wilayah Pasifik. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cly7dj0yjyjo

Cerah.or.id. (2026). Krisis Iklim: Ancaman Nyata yang Masih Diremehkan Indonesia. https://cerah.or.id/id/publications/article/detail/krisis-iklim-ancaman-nyata-yang-masih-diremehkan-indonesia

Columbia Climate School / Earth Institute. (2010, 17 Mei). Reaping Ice From a High Indonesian Peak. https://news.climate.columbia.edu/2010/05/17/reaping-ice-from-a-high-indonesian-peak/

Fisher, R. (2024, 22 Mei). The Last Glaciers of Indonesia. The Diplomat. https://thediplomat.com/2024/05/the-last-glaciers-of-indonesia/

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. (2022). Akselerasi Net Zero Emissions, Indonesia Deklarasikan Target Terbaru Penurunan Emisi Karbon. https://ekon.go.id/publikasi/detail/4652/

Nadira, F. (2026, 27 Mei). Alert! Salju Abadi Papua di Ujung Tanduk, RI Bisa Kehilangan Gletser. CNBC Indonesia. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260527183021-37-738370/alert-salju-abadi-papua-di-ujung-tanduk-ri-bisa-kehilangan-gletser

Saifullah. (2026, 21 September). Gletser Puncak Carstensz Terancam Lenyap Total. Radio Republik Indonesia (RRI). https://rri.co.id/samarinda/internasional/2745039/gletser-puncak-carstensz-terancam-lenyap-total

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *