Bandung, 22 September 2025 — Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Seminar Pemaparan Makalah Posisi Calon Guru Besar atas nama Dr. rer.nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., yang merupakan salah satu akademisi unggulan di bidang Ilmu Geografi dan Perencanaan Wilayah. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Auditorium Lantai VI Gedung FPIPS UPI pada Senin, 22 September 2025 pukul 09.00–10.30 WIB, dan dihadiri oleh para dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa dari berbagai program studi di lingkungan FPIPS.

Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FPIPS UPI, Prof. Cecep Darmawan, yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan pemaparan makalah posisi calon guru besar merupakan bagian dari proses akademik penting dalam pembinaan karier dosen, sekaligus menjadi sarana bagi sivitas akademika untuk mendapatkan pencerahan ilmiah dari hasil riset dan pengabdian yang telah dilakukan oleh calon guru besar. “UPI senantiasa mendorong pengembangan riset yang relevan dengan kebutuhan bangsa dan sejalan dengan visi universitas sebagai pelopor dan unggulan dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebudayaan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Nandi mempresentasikan makalah berjudul “Geografi Terapan dan Perencanaan Wilayah untuk Kota Berkelanjutan: Analisis Spasial, Kebijakan Lingkungan, dan Ketahanan Sosial.” Karya ini merupakan bentuk sintesis pemikiran dan kontribusi akademiknya dalam bidang geografi terapan, kebijakan lingkungan, dan perencanaan wilayah berkelanjutan, yang menjadi pilar utama dalam pembangunan kota-kota masa depan.
Melalui pemaparannya, Dr. Nandi menegaskan bahwa geografi memiliki peran strategis dalam perencanaan kota berkelanjutan, khususnya melalui pemanfaatan teknologi geospasial (GIS) dan analisis spasial berbasis data. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan landasan ilmiah bagi penyusunan kebijakan tata ruang, mitigasi bencana, serta peningkatan resiliensi sosial masyarakat perkotaan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan hasil-hasil riset yang dilakukan selama periode 2020–2024, termasuk kajian spasial COVID-19 di wilayah Bandung Raya, yang menunjukkan keterkaitan antara faktor geografis seperti elevasi dan kepadatan penduduk terhadap tingkat fatalitas pandemi. Kajian tersebut, menurutnya, menjadi bukti pentingnya integrasi antara data spasial, kebijakan kesehatan masyarakat, dan strategi pembangunan wilayah.
Position paper ini juga menyoroti isu kawasan peri-urban—wilayah peralihan antara kota dan desa—yang rentan terhadap konflik penggunaan lahan dan degradasi lingkungan. Menurut Dr. Nandi, kawasan tersebut memerlukan perhatian khusus dalam perencanaan wilayah agar tidak hanya menjadi ruang transisi, tetapi juga kawasan yang berdaya saing, produktif, dan tangguh terhadap perubahan sosial-ekologis.
Sebagai hasil sintesis akademik, Dr. Nandi mengajukan beberapa rekomendasi strategis bagi penguatan tata kelola perkotaan berkelanjutan, di antaranya:
- Integrasi teknologi GIS dalam kebijakan tata ruang dan pengambilan keputusan berbasis bukti.
- Pengembangan pendekatan spasial dalam mitigasi krisis kesehatan dan kebencanaan.
- Penguatan kebijakan pengelolaan kawasan peri-urban secara inklusif dan partisipatif.
- Penyusunan agenda riset multidisiplin yang menghubungkan geografi, perencanaan wilayah, pendidikan, dan keberlanjutan sosial.
Dr. Nandi juga menekankan pentingnya pendidikan dan ketahanan sosial sebagai dimensi fundamental dalam membangun masyarakat tangguh. Berdasarkan penelitiannya pada masa pandemi COVID-19, ia menunjukkan bahwa faktor psikologis, sosial ekonomi, dan akses teknologi berpengaruh besar terhadap kemampuan adaptasi mahasiswa dalam proses pembelajaran daring. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya berperan sebagai wahana transfer ilmu, tetapi juga sebagai mekanisme adaptif dalam menghadapi ketidakpastian global.
Melalui karya ilmiahnya ini, Dr. Nandi berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat tradisi akademik UPI sebagai universitas berbasis riset yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Ia menegaskan, “Geografi bukan hanya mempelajari ruang, tetapi juga bagaimana manusia membangun kehidupan yang selaras dengan ruangnya. Kota berkelanjutan harus tumbuh dari sinergi antara ilmu, kebijakan, dan nilai kemanusiaan.”
Kegiatan seminar berlangsung dengan penuh antusias dan diakhiri dengan sesi diskusi interaktif antara pemapar dan peserta yang memberikan berbagai pertanyaan kritis seputar penerapan analisis spasial dalam kebijakan publik serta tantangan integrasi teknologi GIS di tingkat daerah.
Acara ini menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan akademik FPIPS UPI dalam meneguhkan komitmennya terhadap pengembangan ilmu sosial terapan yang berdampak langsung pada masyarakat dan pembangunan nasional. Dengan diselenggarakannya seminar ini, UPI semakin menegaskan perannya sebagai pusat unggulan dalam pengembangan ilmu pendidikan dan sosial berbasis riset, kebijakan, dan inovasi.