Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Hari Ketika Aku Bertanya, “Sampai Kapan?”

Penulis: Angie Natasha Amadea, (SaiG, 2000273)

Penyunting: Reva Laelatul Zahra

Dok. Penulis

Hi, aku Angie Natasha Amadea, mahasiswi S1 Sains Informasi Geografi. Saat tulisan ini dibuat, aku sudah sampai di salah satu titik yang dulu rasanya begitu jauh: menyelesaikan skripsi.

Kalau dipikir-pikir lagi, perjalanan menuju titik ini ternyata tidak sesederhana yang pernah kubayangkan ketika memulai perkuliahan pada tahun 2020. Ada banyak hal yang berubah di tengah jalan, banyak rencana yang harus disesuaikan, dan tentu saja, ada beberapa hari ketika aku benar-benar bertanya pada diri sendiri, “Aku bisa sampai selesai gak, ya?”

Salah satunya adalah hari ketika aku hampir berhenti.

Aku masih ingat bagaimana rasanya duduk di depan laptop dan merasa tidak tahu harus melakukan apa. File skripsi sudah terbuka, beberapa halaman sudah penuh tulisan, tetapi rasanya semuanya seperti tidak membawa aku ke mana-mana. Ada revisi yang belum selesai, ada bagian yang harus diperbaiki, dan ada banyak hal yang masih belum menemukan jawabannya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak sedang memikirkan bagaimana cara menyelesaikan skripsi. Aku justru sedang memikirkan apakah aku masih sanggup melanjutkannya.

Mungkin dari luar, skripsi hanya terlihat seperti sebuah tugas akhir. Ada judul, beberapa bab, data, analisis, lalu pada akhirnya ada sidang. Tetapi semakin lama menjalaninya, aku sadar bahwa ada banyak hal yang tidak pernah terlihat dari lembar-lembar itu.

Ada rasa takut ketika penelitian tidak berjalan sesuai rencana. Ada bingung ketika data yang dibutuhkan tidak mudah didapat. Ada lelah ketika harus mengulang sesuatu yang sebelumnya kukira sudah selesai. Dan ada perasaan tertinggal ketika melihat orang lain sudah lebih dulu sampai di tahap yang ingin kita capai.

Aku pernah merasakan semuanya.

Penelitianku sendiri tidak berjalan lurus. Apa yang awalnya sudah kurencanakan perlahan berubah ketika aku mulai berhadapan dengan kondisi yang sebenarnya. Metode yang sudah dipikirkan harus disesuaikan. Data yang kuharapkan tidak selalu tersedia seperti yang kubayangkan. Bahkan beberapa keputusan yang awalnya terasa final ternyata harus dipertimbangkan kembali.

Ada masa ketika aku merasa semua orang sedang berjalan maju, sementara aku masih sibuk mencari jalan keluar dari masalahku sendiri. Aku mulai mempertanyakan banyak hal. Apakah topikku memang pilihan yang tepat? Apakah aku mampu menyelesaikannya? Kenapa rasanya proses ini begitu panjang?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu punya jawaban. Tapi skripsi tetap harus dikerjakan. Jadi aku mulai melakukan satu hal yang sederhana: melanjutkan sedikit demi sedikit. Satu revisi. Satu halaman. Satu data. Satu keputusan kecil yang akhirnya membawaku ke keputusan berikutnya. Tidak selalu terasa seperti kemajuan. Kadang bahkan rasanya seperti kembali ke awal. Tetapi ternyata, bergerak pelan tetap berarti bergerak. Dan mungkin, kalau hari itu aku benar-benar berhenti, aku tidak akan pernah tahu sejauh apa sebenarnya aku bisa berjalan.

Karena sekarang, ketika melihat kembali perjalanan itu, aku sadar bahwa hari ketika aku hampir berhenti bukanlah akhir dari semuanya. Justru dari situlah aku mulai belajar bahwa menyelesaikan sesuatu tidak selalu berarti kita harus kuat setiap hari. Kadang, cukup dengan memilih untuk mencoba lagi besok.

Dok. Penulis

Ada alasan kenapa aku membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai di titik ini. Dan alasannya bukan hanya karena skripsiku sulit, penelitianku berubah, atau ada bagian yang harus berkali-kali direvisi. Ada banyak hal yang terjadi bersamaan, jauh sebelum akhirnya aku sampai pada tahap ini.

Selama menjalani semuanya, aku harus berhadapan dengan banyak hal yang tidak pernah masuk ke dalam rencana kuliahku. Aku harus menghadapi pengalaman bullying yang meninggalkan luka, menghadapi tekanan setelah mengalami pelecehan dari adik tingkat, menghadapi masalah keluarga yang rasanya tidak pernah benar-benar selesai, dan pada saat yang sama tetap mencoba menjadi mahasiswa yang seharusnya baik-baik saja.

Yang paling melelahkan dari semuanya mungkin bukan hanya masalah-masalah itu sendiri, tetapi kenyataan bahwa aku sering merasa harus menghadapinya sendirian. Tidak ada banyak tempat untuk pulang ketika semuanya terasa terlalu berat. Tidak selalu ada seseorang yang bisa kuceritakan ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Jadi, berkali-kali aku hanya punya dua pilihan: berhenti sebentar, atau memaksa diri untuk tetap berjalan. Dan skripsi tetap menunggu.

Laptop tetap harus dibuka. Revisi tetap harus dikerjakan. Data tetap harus dicari. Deadline tetap berjalan, bahkan ketika hidupku sendiri sedang berantakan. Mungkin itu yang tidak terlihat ketika seseorang hanya melihat bahwa aku terlambat lulus. Orang bisa melihat lamanya waktu yang kubutuhkan. Tetapi mereka tidak bisa melihat apa saja yang harus kulewati selama waktu itu.

Aku tidak menulis ini untuk mencari alasan atas keterlambatanku. Aku hanya ingin, untuk sekali ini, menceritakan bagian yang biasanya tidak terlihat. Karena sebelum akhirnya sampai di titik ini, ada hari-hari ketika menyelesaikan skripsi terasa seperti satu-satunya hal yang harus kulakukan, padahal sebenarnya aku sedang berusaha menyelesaikan begitu banyak hal lain dalam hidupku.

                                                         Dok. Penulis

Aku mungkin tidak akan sampai di titik ini kalau aku tidak belajar menguatkan diriku sendiri. Tapi aku juga tahu, aku tidak sepenuhnya sampai di sini sendirian. Ada dosen-dosen SAIG yang selama proses ini tidak hanya membimbing penelitian dan skripsiku, tetapi juga ikut menguatkan mentalku. Mereka berkali-kali meyakinkanku bahwa aku bisa menyelesaikannya, bahkan di saat aku sendiri mulai meragukan kemampuan itu.

Mungkin kalimat seperti “kamu pasti bisa selesai” terdengar sederhana. Tapi di masa-masa tertentu, kalimat itu adalah alasan kecil yang membuatku mau membuka laptop lagi, mengerjakan satu halaman lagi, menumbuhkan harapan untuk melanjutkan hidup dan mencoba sekali lagi.

Aku juga ingin menyampaikan terima kasih kepada dosen-dosen SAIG yang selama perjalanan ini sudah banyak memberikan dukungan. Terutama kepada Bapak Dr. Lili Somantri, S.Pd., M.Si.  selaku Ketua Program Studi, serta kedua dosen pembimbingku, Bapak Hendro Murtianto, M.Sc.  dan Ibu Siti Zahrotunisa, M.Sc.

Terima kasih karena tidak hanya membimbingku dalam menyelesaikan penelitian, tetapi juga menjadi orang-orang yang beberapa kali meyakinkanku bahwa aku masih bisa sampai di akhir. Di saat aku sendiri mulai meragukan kemampuanku, kalian tetap percaya bahwa aku bisa menyelesaikannya. Dukungan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi aku yang sedang melewati masa yang tidak mudah, artinya jauh lebih besar dari yang mungkin bisa aku jelaskan.

Dok. Penulis

Terakhir, aku ingin berterima kasih kepada sahabat-sahabat yang kutemui selama masa kuliah. Aku datang ke kampus dengan perasaan seperti tidak punya siapa-siapa, sampai akhirnya aku bertemu kalian di KKN.

Entah bagaimana, setelah bertemu kalian, rasanya aku bisa hidup sedikit lebih ringan. Di tengah masa kuliah yang tidak selalu mudah, kalian memberiku banyak hal untuk dikenang—tawa, cerita, kebersamaan, bahkan hal-hal kecil yang mungkin waktu itu terasa biasa saja, tapi sekarang justru menjadi bagian yang paling ingin kuingat.

Kalau harus memilih satu bagian dari masa kuliah yang paling ingin kusimpan, mungkin KKN akan selalu ada di urutan teratas. Bukan karena kegiatannya, tempatnya, atau apa yang kami lakukan, tetapi karena di sana aku merasa punya rumah kecil di tengah perjalanan yang panjang.

Terima kasih sudah hadir di masa ketika aku benar-benar membutuhkannya. Kalau dulu aku menjalani kuliah dengan perasaan sendirian, setidaknya aku bisa mengakhirinya dengan kenangan bahwa pernah ada kalian yang membuat perjalanan ini terasa jauh lebih berarti.

Dok. Penulis

Kalau ada satu hal yang paling aku pelajari dari perjalanan ini, mungkin adalah bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing. Dulu aku sering merasa tertinggal ketika melihat teman-temanku sudah lebih dulu menyelesaikan apa yang masih sedang kuperjuangkan. Aku sempat bertanya-tanya, kenapa aku tidak bisa seperti mereka? Kenapa aku membutuhkan waktu selama ini?

Sekarang aku mulai mengerti bahwa aku tidak sedang berjalan di jalan yang sama dengan mereka.

Ada banyak hal yang harus kuhadapi di sepanjang perjalanan yang mungkin tidak mereka hadapi. Dan itu bukan berarti aku lebih lemah. Aku hanya sedang membawa beban yang berbeda.

Aku juga belajar untuk tidak menaruh terlalu banyak ekspektasi kepada orang lain. Bukan berarti kita tidak boleh berharap atau mempercayai orang lain, tetapi pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar tahu siapa yang akan tetap tinggal ketika keadaan menjadi sulit. Orang bisa datang dan pergi, keadaan bisa berubah, bahkan orang yang paling kita percaya pun mungkin tidak selalu bisa ada ketika kita membutuhkannya.

Karena itu, jangan menggantungkan seluruh kebahagiaan kita pada satu orang, satu hubungan, atau satu keadaan. Ketika kita menaruh seluruh kebahagiaan pada sesuatu di luar diri kita, kita juga memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk ditentukan oleh hal yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.

Dari semua yang kulewati, aku belajar bahwa orang lain boleh menjadi tempat kita bersandar, tetapi kita juga harus belajar menjadi tempat untuk diri kita sendiri pulang. Pada akhirnya, orang yang paling lama bersama kita adalah diri kita sendiri.

Dan mungkin itu yang paling sulit sekaligus paling penting untuk kupelajari: bagaimana menguatkan diri sendiri ketika tidak ada yang bisa melakukannya untuk kita. Bagaimana tetap bangun ketika tidak ada yang datang untuk membangunkan. Bagaimana tetap melanjutkan sesuatu ketika tidak ada yang menjamin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku pernah merasa bahwa berjalan sendirian berarti aku benar-benar sendirian. Sekarang aku tahu, ternyata tidak selalu begitu. Ada orang-orang yang datang dan membantu sepanjang perjalanan, ada dosen yang menguatkan, ada sahabat yang membuat hari-hari terasa lebih ringan. Tapi pada akhirnya, keputusan untuk terus berjalan tetap harus datang dari dalam diri sendiri. Jadi kalau ada seseorang yang sedang berada di fase yang sama denganku, aku ingin bilang: jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri hanya karena perjalananmu terlihat lebih lambat dari orang lain.

Jangan terlalu banyak membandingkan. Jangan menaruh seluruh kebahagiaanmu pada orang lain. Dan jangan berharap semua orang akan selalu mengerti perjalanan yang sedang kamu lalui. Belajarlah untuk tetap punya dirimu sendiri. Kalau hari ini kamu hanya mampu mengerjakan satu halaman, kerjakan satu halaman itu. Kalau hari ini kamu hanya mampu beristirahat, istirahatlah. Besok, coba lagi. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus.

Aku pernah berada di titik ketika semuanya terasa terlalu berat. Aku pernah merasa sendirian, tertinggal, lelah, dan tidak yakin bisa menyelesaikan semuanya. Tapi hari ini aku bisa melihat ke belakang dan menyadari bahwa ternyata aku sudah melewati begitu banyak hal yang dulu kukira tidak akan sanggup kulewati. Jadi, kalau hari ini kamu merasa perjalananmu terlalu panjang, tidak apa-apa. Kalau langkahmu lebih lambat dari orang lain, tidak apa-apa. Kamu tidak gagal hanya karena membutuhkan waktu lebih lama. Mungkin kamu hanya sedang menempuh jalan yang berbeda.

Dan kalau suatu hari tidak ada siapa-siapa di sampingmu, semoga kamu tetap punya cukup alasan untuk memilih dirimu sendiri dan melanjutkan perjalanan. Karena pada akhirnya, kita memang tidak bisa selalu mengandalkan keadaan. Kita tidak bisa selalu mengandalkan orang lain.

Tapi kita bisa belajar untuk mengandalkan diri sendiri.

Kamu tidak terlambat. Kamu hanya sedang berjalan dengan waktumu sendiri.

Tidak semua perjalanan harus cepat, dan tidak semua hal harus selesai sesuai rencana. Jangan terlalu keras pada dirimu hanya karena kamu belum sampai di tempat yang orang lain sudah lebih dulu capai. Boleh bersandar pada orang lain, tapi jangan lupa untuk tetap menjadi tempat pulang bagi dirimu sendiri.

Pelan-pelan saja. Istirahat kalau lelah, mulai lagi kalau sudah siap. Yang penting, jangan berhenti hanya karena perjalananmu lebih panjang dari yang kamu bayangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *