Tim mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 melalui inovasi bertajuk "ARISE: Pengembangan Modul Adversity Quotient Based-Interventions untuk Meningkatkan Academic Resilience sebagai Upaya Mengatasi Stres Akademik Mahasiswa." Keberhasilan tersebut berangkat dari kepekaan tim dalam melihat persoalan stres akademik yang kerap dialami mahasiswa serta upaya menghadirkan solusi yang aplikatif.
Keberhasilan dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tidak hanya ditentukan oleh kualitas sebuah gagasan, tetapi juga oleh kepekaan dalam melihat persoalan yang ada di sekitar. Berangkat dari keresahan terhadap fenomena stres akademik yang kerap dialami mahasiswa, Indra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bersama timnya berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 melalui inovasi bertajuk "ARISE: Pengembangan Modul Adversity Quotient Based-Interventions untuk Meningkatkan Academic Resilience sebagai Upaya Mengatasi Stres Akademik Mahasiswa."
Proposal tersebut diajukan pada tema Penguatan Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Melalui inovasi ARISE, tim mengembangkan sebuah modul berbasis Adversity Quotient yang bertujuan meningkatkan academic resilience atau ketahanan akademik mahasiswa. Pengembangan modul ini diharapkan dapat membantu mahasiswa agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai tantangan selama menjalani perkuliahan, sekaligus menjadi salah satu upaya dalam mengatasi stres akademik.
Lahirnya gagasan tersebut berawal dari fenomena yang sering dijumpai di lingkungan kampus. Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami stres akademik hingga memilih mengurangi aktivitas perkuliahan atau bahkan menghilang sementara dari kegiatan akademik. Kondisi tersebut tidak hanya ditemukan pada mahasiswa semester akhir, tetapi juga dapat terjadi pada mahasiswa di tengah masa perkuliahan. Fenomena inilah yang kemudian mendorong tim untuk menghadirkan sebuah inovasi yang berfokus pada peningkatan ketahanan akademik mahasiswa agar lebih siap menghadapi berbagai tekanan selama proses pendidikan.
Melalui pendekatan Adversity Quotient, modul ARISE dirancang sebagai bentuk intervensi untuk membantu mahasiswa membangun kemampuan dalam menghadapi tantangan akademik. Ketahanan akademik dipandang sebagai salah satu aspek penting agar mahasiswa mampu bertahan ketika menghadapi berbagai hambatan, tetap memiliki semangat dalam menyelesaikan studi, serta tidak mudah menyerah saat menghadapi tekanan selama perkuliahan.
Keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi tim lintas program studi yang dipimpin oleh Indra Abdul Majid sebagai ketua tim dari Program Studi Pendidikan Sosiologi. Anggota tim terdiri atas Rif'an Fazrin Zulfikar dari Program Studi PGSD Kampus Cibiru, Fathin Mufid Akram dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, Auly Mahya Masyrifah dari Program Studi Psikologi, serta Refina Shafa Awalia dari Program Studi Teknologi Pendidikan. Perbedaan latar belakang keilmuan tersebut menjadi kekuatan tersendiri dalam menyusun proposal karena setiap anggota mampu memberikan perspektif sesuai bidang keahliannya masing-masing.
Perjalanan menuju pendanaan PKM bukanlah proses yang instan. Penyusunan proposal telah dimulai sejak November 2025 melalui penyusunan berbagai alternatif judul dan pengembangan gagasan yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan. Setelah melalui proses penyempurnaan, proposal resmi diajukan pada 9 April 2026. Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika pada 23 Mei 2026 tim dinyatakan berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).
Di balik keberhasilan tersebut, tim juga menghadapi berbagai tantangan selama proses penyusunan proposal. Perbedaan program studi membuat setiap anggota memiliki jadwal dan kesibukan yang berbeda sehingga koordinasi secara langsung tidak selalu mudah dilakukan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menyatukan ide, menyusun proposal, hingga menyelesaikan setiap tahapan sesuai waktu yang telah ditentukan.
Tantangan tersebut diatasi melalui pembagian tugas yang jelas, pengelolaan waktu yang baik, serta komunikasi yang terus dijaga selama proses penyusunan proposal. Sebagai ketua tim, Indra berupaya merangkul seluruh anggota agar tetap terlibat aktif dalam setiap tahapan pengerjaan. Kolaborasi yang terjalin menjadi salah satu faktor penting yang mendukung penyelesaian proposal secara optimal.

Keberhasilan proposal memperoleh pendanaan juga didukung oleh beberapa faktor lain. Tim berupaya mengikuti panduan PKM secara cermat sejak awal penyusunan proposal serta memilih topik yang dinilai masih jarang dibahas. Pengembangan modul yang berfokus pada peningkatan academic resilience melalui pendekatan Adversity Quotient dipilih karena masih memiliki ruang pengembangan yang luas sebagai bentuk intervensi bagi mahasiswa. Selain itu, kolaborasi dengan anggota tim yang kompeten di bidangnya masing-masing, disertai usaha dan doa, turut menjadi bagian dari proses yang mengantarkan proposal tersebut meraih pendanaan.
Bagi Indra, keberhasilan lolos pendanaan PKM 2026 tidak hanya menjadi sebuah prestasi akademik, tetapi juga pengalaman yang memperkaya kemampuan dalam memimpin tim, mengelola waktu, serta membangun komunikasi yang efektif. Proses penyusunan proposal memberikan banyak pembelajaran mengenai pentingnya kerja sama, tanggung jawab, dan komitmen dalam mencapai tujuan bersama.
Melalui pengalaman tersebut, Indra berharap semakin banyak mahasiswa yang terdorong untuk mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi. PKM diharapkan tidak hanya dipandang sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai wadah untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, serta melahirkan inovasi yang mampu memberikan manfaat bagi dunia pendidikan. Semangat untuk terus belajar dan tidak cepat merasa puas terhadap pencapaian yang telah diraih menjadi pesan yang ingin dibagikan kepada mahasiswa lain yang ingin mencoba mengikuti PKM.
Keberhasilan inovasi ARISE menjadi bukti bahwa sebuah gagasan besar dapat lahir dari kepedulian terhadap persoalan yang ada di sekitar. Berawal dari keresahan melihat mahasiswa yang menghadapi stres akademik, Indra bersama tim berhasil mengubahnya menjadi sebuah inovasi yang mengantarkan mereka meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa 2026. Prestasi tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkarya, berinovasi, dan berani menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang ada di lingkungan sekitar.
