“Komparasi Wilayah Karst dan Peralihan Karst dalam Mengidentifikasi Masalah Sumberdaya Air dan Strategi Adaptasi Masyarakat Gunungkidul”

BABAK PERTAMA: Jika banyak orang mengira bahwa bagian terberat dari Kuliah Kerja Lapangan (KKL) telah usai begitu bus kami kembali di Bandung, mereka keliru besar. Bagi saya, tantangan terberatnya ada di sini, baru dimulai ketika kaki ini melangkah masuk ke kamar kos dan disambut oleh tumpukan berkas instrumen, sampel lapangan, dan ratusan data mentah di laptop. Sebagai orang yang punya mimpi atas nama Bumisaka untuk menampilkan output akademis seluruh anak-anak, fase pasca-KKL ini terasa jauh lebih mengurasi energi batin dan pikiran.
Namun, di tengah lautan data yang seolah siap menenggelamkan mimpi ini, saya tidak berdiri sendiri. Di samping saya, ada beberapa rekan yang memilih untuk melipat ego mereka dan berjalan beriringan bersama saya. Tidak banyak, tapi membantu menenangkan hati saya, di saat kawan-kawan lain sudah bisa bernafas lega dan kembali ke ritme hidup yang santai, kami justru harus mengurung diri. Selain kami harus melanjutkan mata kuliah dan praktikum lainnya, malam-malam kami juga berubah menjadi ruang diskusi yang sunyi. Di depan layar laptop yang menyala hingga fajar menyingsing, kami berkejaran dengan waktu untuk membersihkan data kualitatif hasil wawancara, sekaligus memetakan titik koordinat dari GPS Mapping.
Di sinilah kami memahami arti nyata dari sebuah pendewasaan. Mengorbankan waktu tidur, mengorbankan waktu istirahat, dan memeras isi kepala demi memastikan data dari Kapanewon Tanjungsari dan Ponjong tidak tercecer selembar pun. Ada kepuasa akademis yang magis ketika deretan data mentah perlahan mulai berbicara, memperlihatkan
dengan kontras bagaimana angka pH air Tanjugnsari dan POnjong berfluktuasi, serta bagaimana porusitas tinggi di batuan gamping Formasi Wonosari benar-benar memotong aliran air permukaan di kawasan holokarst.

BABAK KEDUA: Setelah data sedikit demi sedikit dijinakkan, langkah berikutnya adalah menuangkannya ke dalam draf Laporan Utama KKL. Menulis laporan ini seperti menyusun sebuah narasi keruangan yang utuh. Saya bersama rekan-rekan harus memastikan landasan konseptual mengenai interaksi manusia dan lingkungan tertulis dengan tajam, membandingkan secara komprehensif aspek fisik dan sosial-ekonomi antara Tanjungsari dan Ponjong. Setiap bab kami bedah agar argumentasi geografis angkatan kami tersampaikan jelas.
Ketika kita merasa laporan sudah rampung dan kemudian waktu presentasi semakin mendekat, kelelahan fisik berada di titik tertingginya. Konflik isi kepala dan kejenuhan melanda. Tetapi, di ruang-ruang sempit itulah sebuah nilai bernama keihklasan menampakkan wujudnya. Rekan-rekan yang membantu saya tidak pernah menuntut pujian panggung; mereka bergerak murni karena rasa cinta yang teramat dalam pada nama besar angkatan kita, Bumisaka. Kami merancang storyline presentasi yang kami anggap sudah sangat sistematis, mengalirkan data komparatif dari slide pembuka, metodoogi, hingga matriks kerentanan kekeringan di kedua wilayah. Kami memoles setiap slide bersama, melakukan simulasi dadakan, dan akhirnya membawa hasil ini ke atas altar pembuktian akademik.

BABAK TERAKHIR: Hari yang mendebarkan itu tiba. Ruang aula sidang dipenuhi oleh atmosfer akademik yang pekat. Di hadapan kami, jajaran dosem pembimbing dan penguji siap membedah hasil kami dari celah yang tidak kita lihat. Sebagai presenter angkatan, saya merasa sangat tenang dan siap menghadapinya, tetapi rasa lelah yang saya rasakan sebelumnya sungguh menyiksa. Penat karena berhari-hari harus membuka mata di depan laptop, pikiran yang dipaksa terus bekerja, batin yang dipaksa terus semangat dikala melihat yang lain bisa berlibur. Sungguh itu menyakitkan, tetapi ini adalah momen mimpi akademis terbesar saya.
Meski demikian, ruang sidang bukanlah tempat untuk menerima pujian. Realitas akademik menghantam kami dengan begitu keras dan kenyataan akhirnya berbicara bahwa di atas segala bergadang dan lelah, kami hanya mampu memberikan semampunya, di mana hasil tersebut masih menyisakan banyak celah yang harus diperbaiki.

Satu demi satu catatan evaluasi dari para dosen penguji mulai berdatangan dan menguji mentalitas serta kedewasaan berpikir kami.
- Dosen pertama langsung mengoreksi judul kami yang dianggap terlalu panjang—sebuah ironi karena judul tersebut sebenarnya bersumber dari diskusi bersama dospem kami sendiri. Beliau juga menegaskan bahwa Bab 1 dan Bab 2 kami masih sangat kurang dalam hal sitasi, serta menuntut proses kekeringan dibahas secara runtut step-by-step dari tahap meteorologis, hidrologis, hingga sosial-ekonomi.
- Dosen kedua memberikan kritik yang paling menohok bagi kerja keras data kami. Beliau melihat bab hasil dan pembahasan kami terlalu banyak menampilkan data tetapi sangat kurang dianalisis. Tidak ada callback data. Sangat disayangkan, data sebanyak yang kami kumpulkan terancam tidak berguna karena kami buru-buru melompat ke kesimpulan tanpa melakukan analisis dampak yang mendalam.
- Dosen ketiga mengingatkan esensi dasar kami sebagai mahasiswa geografi. Beliau meminta kami untuk mengaitkan analisis menggunakan prinsip geografi serta pendekatan komparatif yang menekankan pada aspek interaksi, interelasi, dan interdependensi antar-variabel.
- Dosen keempat menilai bahwa apa yang kami bahas masih terlalu umum dan tidak spesifik. Beliau memberikan catatan krusial bagi presenter: jangan pernah menjelaskan suatu aspek secara terisolasi. Ketika membahas geomorfologi Tanjungsari, jangan hanya terpaku pada bentuk lahannya saja, melainkan harus
dikaitkan secara luas dengan konten hidrologi, tanah, curah hujan, hingga dampak sosialnya.
Jujur, mendengar rentetan kritik tersebut di depan podium, ada rasa sesak yang sempat singgah. Namun, rasanya kami sudah menyiapkan hal ini sebelumnya, ketegaran. Kami menerima setiap kritikan itu dengan kepala tegak walau menyayat hati.
Fase pasca-ekspose KKL ini memberikan saya dan rekan-rekan pelajaran yang jauh lebih mahal daripada sekadar nilai A di atas kertas. Kami belajar tentang arti mendalam dari sebauh dedikasi dan keikhlasan. Dedikasi bukan berarti hasil kerja keras kita harus selalu sempurna tanpa cacat; dedikasi adalah ketika kita berani memberikan seluruh kemampuan kita dan memiliki keikhlasan serta kelapangan dada yang luas untuk menerima bahwa hasil kerja kita masih harus diperbaiki.
Kritikan tajam dari para dosen bukanlah pelemah semangat, melainkan sebuah bentuk rasa cinta akademis dari para dosen untuk menempa Bumisaka agar menjadi geograf yang sesungguhnya. Mereka tidak ingin kami hanya menjadi tukang kumpul data atau penyaji infografis yang indah, tetapi mereka ingin kami mampu menenun interelasi spasial yang tajam antara fisik dan sosial.
Saya, dan bersama rekan-rekan di balik semua ini mengucapkan terimakasih kepada seluruh dosen, panitia ekspose, dan siapapun yang sudah berkontribusi. Mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya melihat tim ekspose ini menjadi perwakilan angkatan. Kesempatan yang
diberikan sudah dimaksimalkan semampunya, dan pelajaran yang didapat, akan kami turunkan kepada tim selanjutnya. Terimakasih.
“even kalian merasa tidak pintar, try to become it. fake it till u make it.”
- Aqila
Dari,
Rifat Kamaluddin Yasir as a
Ketua Angkatan Pendidikan Geografi 2024