Penulis: Artanty Basilia Ambarwati (SaIG, 2307144)
Penyunting: Hilmy Nurizky
Esri Young Scholar Award (EYSA) merupakan ajang kompetisi global tahunan yang diselenggarakan oleh Esri di beberapa negara, termasuk Indonesia. Kegiatan ini memungkinkan satu mahasiswa dari setiap negara penyelenggara untuk menghadiri konferensi GIS terbesar di dunia, yakni Esri User Conference (Esri UC) di San Diego, Amerika Serikat.
Pada kegiatan EYSA Indonesia 2026, penulis berhasil mencatatkan prestasi sebagai Second Winner dengan membawakan projek berjudul “l.au.t: Landscape Analysis of Urban Traces”. Projek ini menyoroti persoalan sampah di DKI Jakarta dan potensi sampah urban tersebut terdampar di laut menggunakan citra satelit dan memanfaatkan teknologi GIS pada aplikasi Esri. Dengan nama “l.au.t” penulis menghadirkan dua perspektif, yakni laut sebagai area terdampak dari kegiatan urban, dan sebagai metafora dari laut sebagai “lautan sampah”. Keunikan ini, disertai dengan pengolahan GIS yang mumpuni berhasil membawa penulis sebagai Top Three Finalist.
Pada tanggal 10 Februari 2026, dilaksanakan Final Presentation untuk menentukan posisi juara dari ketiga finalis. Dengan waktu yang cukup terbatas, penulis memaksimalkan persiapan presentasi ini dengan dibantu oleh dosen pembimbing, yakni Dr. Tania Septi Anggraini, S.T., M.T., Ph.D. dan juga rekan-rekan penulis dari SaIG berbagai angkatan hingga rekan SPIG.

Dok. Esri
Kompetisi ini mengharuskan penggunaan Bahasa Inggris dalam setiap sesinya, mulai dari seluruh karya hingga presentasi. Sehingga menjadi tantangan tersendiri untuk dapat menyampaikan projek dalam Bahasa Inggris yang tepat kepada dewan juri. Namun, justru hal inilah yang menjadi sebuah kesempatan besar untuk melatih public speaking.

Dok. Esri
Meskipun belum berkesempatan meraih First Winner dan menghadiri Esri UC, namun pengalaman menjadi Top Three Finalist ini tetap menjadi pengalaman besar yang tidak terlupakan. Kesempatan untuk bertemu finalis-finalis keren lainnya dari PWK ITB, bertukar pikiran dengan para dewan juri dari berbagai instansi, menjalin relasi bersama pihak Esri, bahkan kesempatan untuk menampilkan projek penulis agar dapat memberikan dampak positif merupakan kesempatan luar biasa.
Berawal dari demotivasi dalam dunia akademik, EYSA 2026 menjadi jembatan yang membawa penulis kepada satu titik yang menyadarkan potensi penulis di bidang geospasial. Satu kalimat yang memotivasi penulis dalam berjalannya projek ini dan akan terus penulis implementasikan adalah, “We are limited only by our collective imaginations” —Jack Dangermond, pendiri dan presiden Esri. Penulis berharap, kegiatan ini dapat terus menjadi motivasi mahasiswa, khususnya mahasiswa SaIG dalam memaksimalkan penggunaan teknologi GIS.

Dok. Esri
Terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam kompetisi ini. Semoga, semakin banyak penerus dari mahasiswa SaIG yang berkesempatan menjadi Top Three Finalist Esri Young Scholar Award Indonesia, bahkan hingga menjadi First Winner dan membawa nama baik SaIG ke Amerika Serikat.
