Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Eksplorasi Budaya dan Kesenian Kampung Bugis di Karimunjawa

Jepara, 23 Juli 2025 - 15 mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia, melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Dusun Batulawang, Kampung Bugis, Desa Kemujan, Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Terletak di pojok utara Pulau Kemujan, dusun ini menggambarkan sejarah panjang sejak kedatangan nenek moyang Bugis pada tahun 1926. Seiring berjalannya waktu, hubungan kekerabatan melalui pernikahan antar sesama pendatang membentuk komunitas Bugis yang kuat dan masih bertahan hingga kini. Meskipun berada di wilayah administratif Jawa Tengah, masyarakat Dusun Batulawang tetap menggunakan bahasa Bugis dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk pelestarian warisan budaya leluhur dari Sulawesi Selatan. Tradisi lokal seperti sedekah laut, sedekah bumi, dan adat nakoke (melamar) masih dijalankan hingga kini sebagai cermin nilai kekeluargaan dan spiritualitas masyarakat.

Salah satu temuan penting berasal dari wawancara bersama Kepala Dusun Batulawang, Abdul Rozak. Beliau menjelaskan bahwa di wilayah tersebut, hampir setiap dusun memiliki perkumpulan seni tari
yang aktif dan memiliki makna tersendiri bagi masyarakat.

“Di beberapa dusun itu memiliki perkumpulan seni tari dan seni budaya yang ada di Desa Kemujan. Perkumpulan seni tari itu membawa arti masing-masing, jadi kami saling menghormati dan menghargai, tentunya kami juga senantiasa memeliharanya” ujar Abdul Rozak.

Perkumpulan seni tari di wilayah tersebut tidak hanya berperan sebagai hiburan semata, tetapi juga menjadi media pelestarian nilai-nilai budaya lokal serta mempererat hubungan sosial antar warga. Mahasiswa mencatat bahwa keberadaan seni tari ini berkaitan erat dengan kajian dalam sosiologi budaya, khususnya dalam konteks identitas lokal dan solidaritas sosial masyarakat tradisional.

Selama pelaksanaan KKL, mahasiswa juga berkesempatan menyaksikan penampilan dua tarian tradisional, yaitu Tari Paduppa dan Tari Buta Kalasukangku. Tari Paduppa merupakan tari penyambutan tamu yang dibawakan oleh penari perempuan. Ciri khas dari tarian ini adalah gerakan menabur beras sebagai simbol penghormatan dan penolak bala terhadap roh halus. Tak hanya kaya makna simbolik, tarian ini juga ditampilkan dengan atribut khas, seperti baju bodo dan lipa’ sabbe’, yang dipadukan dengan aksesori tradisional lainnya, memperkuat kesan sakral dan kultural dalam setiap gerakannya.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami kehidupan sosial masyarakat secara lebih dekat, tetapi juga menyadari pentingnya peran seni dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah
arus modernisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *