Jl. Dr. Setiabudi No.276A, Kota Bandung 40143
UPI-FPIPS-Logo-blok
Mahasiswa Pendidikan Sosiologi UPI Dalami Kesenian Jawa Lewat Gamelan di Desa Kemiren

Banyuwangi, 18 Juni 2025 — Dalam rangka kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL), mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengikuti praktik langsung kesenian tradisional gamelan di Desa Kemiren, Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari eksplorasi budaya Osing, salah satu subkultur Jawa yang masih kuat mempertahankan tradisi lokal.

Dipandu oleh seniman lokal Desa Kemiren, mahasiswa tidak hanya memainkan gamelan, tetapi juga belajar memahami setiap alat musik dalam kesatuan memainkan gamelan. Dalam suasana hangat dan penuh antusiasme, mahasiswa mencoba menyatu dengan irama dan memahami filosofi yang terkandung dalam tiap pukulan gamelan.

“Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang sangat bermakna. Mahasiswa tidak sekadar mendengar penjelasan tentang kebudayaan Osing, tapi benar-benar merasakannya lewat partisipasi aktif,” ungkap Muhammad Retsa Rizaldi Mujayapura, M.Pd., dosen pendamping dalam kegiatan KKL ini.

Desa Kemiren sendiri dikenal sebagai desa adat yang menjadi representasi kehidupan masyarakat Osing, dengan berbagai unsur budaya seperti bahasa, arsitektur, ritual, dan kesenian yang tetap lestari. Praktik bermain gamelan menjadi pintu masuk penting bagi mahasiswa untuk memahami hubungan antara kesenian dan struktur sosial dalam masyarakat tradisional.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak untuk melihat gamelan bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi sebagai ekspresi kolektif yang menyimpan nilai-nilai sosial seperti harmoni, gotong royong, dan keteraturan. Hal ini sejalan dengan pendekatan sosiologi budaya yang menekankan pentingnya memahami makna simbolik dalam praktik kehidupan masyarakat.

KKL di Desa Kemiren menjadi bukti nyata bahwa pembelajaran sosiologi bisa dilakukan secara kontekstual dan partisipatif. Dengan menyatu dalam kehidupan masyarakat, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga membangun empati dan kesadaran lintas budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *