Penulis : Fuhaiz Hazim ( SPIG, 2305137), Gani Septiadi (SPIG, 2312268), Syauqi Arka Yudisti (SPIG, 2300596), Yunan Aryagama (SPIG, 230871)
Bandung, 2026 – Perkembangan teknologi geospasial saat ini semakin berperan penting dalam mendukung pengelolaan dan perencanaan infrastruktur transportasi modern. Salah satu teknologi yang banyak dimanfaatkan adalah Light Detection and Ranging (LiDAR) yang mampu menghasilkan data topografi dengan tingkat ketelitian tinggi. Dalam rangka mengimplementasikan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), empat mahasiswa Program Studi D4 Survei Pemetaan dan Informasi Geografis Universitas Pendidikan Indonesia, yaitu Fuhaiz Hazim, Gani Septiadi, Syauqi Arka Yudisti, dan Yunan Aryagama, melaksanakan kegiatan MBKM di PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang pada kegiatan kali ini, para mahasiswa terlibat dalam proses pengolahan data LiDAR untuk mendukung pengelolaan aset perkeretaapian di Jatinangor.

Kegiatan magang dilakukan secara Work From Anywhere (WFA) selama rentang Februari - Maret dengan fokus utama pada proses filtering data LiDAR aset KAI untuk menghasilkan model elevasi permukaan berupa Digital Elevation Model (DEM) dan Digital Terrain Model (DTM). Data LiDAR yang digunakan merupakan data point cloud hasil akuisisi menggunakan wahana drone, yang memiliki kemampuan penetrasi terhadap vegetasi sehingga mampu menangkap refleksi titik langsung dari permukaan tanah. Keunggulan ini memungkinkan pemodelan topografi dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan metode fotogrametri konvensional, terutama pada wilayah dengan tutupan lahan yang kompleks.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa magang mengikuti alur kerja pengolahan data LiDAR yang sistematis. Tahapan awal dilakukan dengan proses penggabungan (merge) data point cloud menggunakan perangkat lunak CloudCompare. Proses ini diperlukan karena data LiDAR yang diterima masih berupa beberapa file terpisah sehingga harus disatukan terlebih dahulu agar dapat diproses lebih lanjut sebagai satu dataset utuh.
Setelah proses penggabungan selesai, data kemudian diimpor ke dalam perangkat lunak Agisoft Metashape Pro. Pada tahap ini dilakukan proses filtering point cloud, yaitu pemisahan antara titik yang merepresentasikan objek permukaan seperti vegetasi, bangunan, maupun infrastruktur dengan titik yang merepresentasikan permukaan tanah (ground points). Hasil dari proses klasifikasi tersebut kemudian digunakan untuk membangun dua model elevasi yang berbeda, yaitu DEM yang merepresentasikan elevasi permukaan secara keseluruhan, serta DTM yang menggambarkan elevasi permukaan tanah yang telah dibersihkan dari objek non-tanah.
Tahapan berikutnya adalah proses analisis dan visualisasi data topografi menggunakan Autodesk Civil 3D untuk menghasilkan kontur serta pemodelan permukaan, yang kemudian dapat digunakan dalam berbagai keperluan perencanaan dan pengelolaan infrastruktur. Selain itu, visualisasi spasial juga dilakukan menggunakan ArcGIS Pro guna menampilkan hasil pengolahan data dalam bentuk peta tematik yang lebih informatif.
Melalui kegiatan magang ini, para mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman praktis dalam pengolahan data LiDAR, tetapi juga memahami secara langsung penerapan teknologi geospasial dalam mendukung pengelolaan aset perkeretaapian. Pengolahan data LiDAR menjadi DEM dan DTM di wilayah Jatinangor diharapkan dapat memberikan gambaran topografi yang lebih akurat serta berkontribusi pada pengembangan sistem informasi geospasial di lingkungan PT KAI.

Meskipun kegiatan MBKM ini dilaksanakan dengan skema WFA selama rentang waktu Februari hingga Maret, hal tersebut tidak mengurangi esensi dari pengalaman belajar dan praktik profesional yang seharusnya diperoleh mahasiswa dalam kegiatan di dunia industri. Justru, sistem kerja yang fleksibel ini memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengatur waktu kerja secara mandiri sekaligus melakukan eksplorasi yang lebih mendalam terhadap data yang diberikan. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan pemahaman teknis, mencoba berbagai metode pengolahan data, serta meningkatkan kemampuan analisis geospasial secara lebih bebas namun tetap terarah sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di PT Kereta Api Indonesia (Persero). Fleksibilitas ini pada akhirnya menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran, karena mahasiswa tidak hanya mengikuti alur kerja yang ada, tetapi juga terdorong untuk lebih aktif mengeksplorasi potensi data dan teknologi yang digunakan.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara dunia akademik dan industri dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa di bidang survei, pemetaan, serta pengolahan data geospasial berbasis teknologi mutakhir. Dengan pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam praktik nyata yang bermanfaat bagi pengembangan infrastruktur dan pengelolaan data spasial di Indonesia.